Kisah Al-Quran

Pelajaran Terpenting dari Kisah Qarun (Bagian Kedua-Habis)

foto: Pixabay
29views

Ada beberapa pelajaran dan petunjuk yang bisa diambil dari kisah Qarun. Dalam Bagian Pertama telah dituliskan 17 pelajaran dan petunjuk. Pada bagian ini akan dituliskan pelajaran dan petunjuk lainnya yang bisa diambil dari kisah Qarun.

BACA JUGA:Pelajaran Terpenting dari Kisah Qarun (Bagian Pertama)

Kedelapan belas, sesungguhnya dasar kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah harta, kedudukan, kemegahan, kecantikan, keturunan, ras, ataupun jabatan melainkan keimanan, ketakwaan dan amal saleh serta usahanya untuk memberi manfaat dan kebaikan kepada orang lain.

Kesembilan belas, para thagut dan para pembuat kerusakan (kezaliman) selalu berusaha untuk menghancurkan hati orang lain serta menanamkan kegetiran dan perasaan sedih karena merasa tidak memiliki kesenangan duniawi. Oleh karena itu, mereka memamerkan perhiasan dan kemewahan seraya membuat kerusakan dan kebijakan di lingkungannya.

Kedua puluh, ambisi dan tamak terhadap kehidupan dan kesenangan dunia dapat menimbulkan kesalahan yang fatal bagi pelakunya dalam persepsi, selera, penilaian, ukuran, dan apresiasi terhadap sesuatu. Sebagaimana hal itu merupakan sumber rendah diri mereka di hadapan para hartawan serta bentuk memperbudak diri dan menjilat kepada mereka.

Kedua puluh satu, banyak orang yang beranggapan bahwa yang paling beruntung adalah orang yang memiliki banyak harta dan segala kenikmatan duniawi berupa perabotan rumah, perhiasan, dan fasilitas materi. Oleh karena itu, mereka berangan-angan ingin seperti orang kaya.

Kedua puluh dua, orang yang mendapatkan keberuntungan hakiki adalah orang yang mendapatkan nikmat iman dan ketentraman hati, keridhaan dan ketenangan jiwa, serta beruntung mendapatkan keselamatan dan kenikmatan yang kekal.

Kedua puluh tiga, apabila ambisi terhadap kehidupan dunia merupakan rahasia dari pangkal kejatuhan, kehinaan, dan penyesalan seseorang, memiliki ilmu dan mengetahui hakikat makna kehidupan merupakan rahasia harga diri dan kehormatan seseorang dalam menghadapi fitnah dunia serta merupakan rahasia keteguhan hati dalam cobaan dan kiat meraih kemenangan yang besar

Kedua puluh empat, keharusan untuk senantiasa mengharapkan pahala Allah dan selalu mempertautkan hati dengannya adalah baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Amatlah jauh perbedaan antara orang yang menginginkan kehidupan dunia dan orang yang mengharapkan balasan Allah yang kekal.

BACA JUGA: Pahala Terbaik Bagi Mereka yang Berbuat Baik

Kedua puluh lima, kesabaran yang tinggi merupakan dukungan moral yang abadi dan bekal yang tiada pernah habis dalam menghadapi tekanan ujian hidup kekuatan godaan iman dan kerasnya kezaliman. Tidak akan ada yang sanggup menghadapinya kecuali orang-orang yang sabar.

Kedua puluh enam, pamernya Qarun kepada kaumnya akan perhiasan dan kemegahannya serta usahanya untuk menimbulkan fitnah (kekacauan iman di kalangan kalangan mereka) merupakan faktor penyebab langsung turunnya azab Allah, yakni dengan dibenamkannya harta beserta pemiliknya ke dalam bumi. Demikianlah nasib orang-orang yang berlebih-lebihan dan keji. Mereka selalu mengundang turunnya azab Allah dengan segala perilaku jahat mereka. Dengan itu pula mereka menyegerakan datangnya azab tersebut.

Kedua puluh tujuh, Qarun merupakan ujian keimanan bagi kaumnya. Di antara mereka, ada yang terperdaya dan tergoda, tetapi ada pula orang yang tetap teguh, menang, dan sabar. Tatkala ujian itu telah berakhir, berakhir pula peran Qarun dan tibalah saatnya dia meninggalkan dunia fana ini dengan diiringi laknat dan azab Allah.

Kedua puluh delapan, segala sesuatu yang dimiliki manusia berupa harta, kedudukan, kekuatan, dan kekuasaan tidak akan berarti apa-apa jika telah datang azabnya. Semua itu tidak sanggup menolong dan menyelamatkan seseorang dari hukuman Allah. Berapa banyak kerugian orang-orang yang telah menjadikan harta sebagai penyangga hidup dan tumpuan harapan?

Kedua puluh sembilan, ketika Allah menenggelamkan Qarun, terbukalah tabir yang menutupi orang-orang yang tertipu. Seketika itu, berubahlah sikap dan angan-angan mereka. Sebelumnya, mereka berangan-angan ingin seperti Qarun, tetapi justru sekarang mereka bersyukur dan memuji Allah karena terbebas dari azab yang menimpa Qarun. Pangkal penyebab guncangan jiwa, keracunan berpikir, dan kesalahan mereka adalah tamak terhadap kehidupan dunia.

Ketiga puluh, amatlah jauh perbedaan antara pengetahuan orang-orang Mukmin tentang hakikat hidup yang merupakan pengetahuan original, akurat, mengakar, serta hasil dari kecerdasan, kesadaran, dan kecemerlangan berpikir dan pengetahuan orang-orang dungu yang baru mengetahui hakikat hidup setelah melihat kesudahan orang-orang yang lalai.

Ketiga puluh satu, Allah menjadikan negeri akhirat bagi orang-orang suci dan saleh yang tidak ingin berbangga-bangga dan tinggi hati di dunia serta tidak mau membuat kerusakan.

Ketiga puluh dua, kesudahan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat, adalah milik orang-orang yang bertakwa, sedangkan akibat kejahatan hanya akan menimpa pelakunya sendiri.

BACA JUGA: Allah Akan Membalas Kebaikan Seringan dan Sekecil Apa Pun

Ketiga puluh tiga, Allah memperlakukan dengan baik hamba-hamba-Nya yang saleh dan berbuat kebaikan, yaitu dengan memberikan rahmat dan karunianya serta melipatgandakan pahala bagi mereka. Sebaliknya, Allah memperlakukan para pendosa dan pelaku kejahatan secara adil pula, yaitu dengan menimpakan azab dan akibat buruk dari perbuatan mereka sesuai kejahatan yang mereka perbuat. Demikianlah sunnatullah ini akan tetap berlaku abadi sepanjang zaman.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan oleh Allah, karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit Gema Insani

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response