Ibrah

Belajar dari Perjuangan Mahaberat seorang Siti Hajar

40views

Siti Hajar merupakan seorang budak Mesir yang kemudian menikah dengan Nabi Ibrahim a.s. Ia bukanlah istri pertama Nabi Ibrahim, melainkan istri kedua atas permintaan Siti Sarah yang saat itu belum bisa memberikan keturunan. Atas izin Allah, Siti Hajar mengandung. Hal itulah yang membuat Siti Sarah cemburu.

Pada akhirnya, setelah melahirkan, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar bersama putra kecilnya—yang diberi nama Ismail—ke sebuah lembah yang gersang, tidak ada tanam-tanaman, buah-buahan, maupun sumber mata air. Tidak serta merta Nabi Ibrahim melakukan hal itu jika tidak ada perintah dari Allah. Setelah tiba di lembah yang gersang, Nabi Ibrahim hanya memberikan pesan kepada Siti Hajar untuk selalu berpasrah kepada Allah. Setelahnya, beliau kemudian meninggalkan Siti Hajar bersama bayi Ismail.

Jiwa seorang ibu tidak bisa terlepas dari anaknya. Ketika persediaan makanan dan minuman habis, Siti Hajar kebingungan harus mencari di mana. Bagaimanapun, ia hanya sendirian di tempat yang sangat gersang itu. Akhirnya, beliau berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah. Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali putaran.

Ketika Siti Hajar berada dalam puncak keputusasaan karena usahanya yang belum membuahkan hasil, Allah memberikan sumber air yang keluar dari kaki putranya, Ismail, yang mengais-ngais di pasir karena lapar. Seketika Siti Hajar membendung mata air tersebut. Mata air itulah yang kini kita kenal sebagai mata air zam-zam. Mata air zam-zam adalah sebuah bukti kemahabesaran Allah karena gurun yang sangat gersang dapat mengeluarkan sumber air yang tak pernah habis airnya.

BACA JUGA: Meneladani Maryam Putri Imran

Pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah Siti Hajar tersebut adalah tentang keridaan dan keikhlasan dalam menerima ketetapan Allah. Bagi seseorang yang tidak disertai iman yang kuat, akan tidak mungkin mau menerima ditinggal sendirian di tengah padang pasir yang gersang dengan bekal ala kadarnya. Jika Siti Hajar tidak memiliki iman yang kuat, pastinya dia akan ketakutan. Namun, karena Siti Hajar dibekali keimanan yang sangat kuat, meskipun secara manusiawi ia merasa putus asa, dia menerima ketetapan itu dengan ikhlas dan ridha.

Penerimaan atas ketetapan Allah tersebut mengantarkan ikhtiar Siti Hajar selalu terkenang dalam sejarah yang wujudnya masih bisa dinikmati hingga kini. Wujud sejarah tersebut adalah ibadah Sa’i (lari-lari kecil antara Safa dan Marwah). Ibadah ini menjadi rukun haji yang dilakukan oleh seluruh umat Muslim yang menunaikannya. Selain itu, sumber air zam-zam pun menjadi hadiah luar biasa, yang tidak hanya dinikmati oleh Siti Hajar dan Ismail pada saat itu, tetapi hingga kini telah dinikmati oleh tak terhitung orang dari seluruh dunia. Wallahu a’lam.[]

 

Diolah dari berbagai sumber.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response