Ibrah

Kisah Tentang Kebingungan Qabil Setelah Membunuh Habil

foto: Pixabay
23views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 31:

فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِ ۗ قَالَ يٰوَيْلَتٰٓى اَعَجَزْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَاُوَارِيَ سَوْءَةَ اَخِيْۚ فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَ ۛ

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.”

Setelah Qabil membunuh adiknya, maka dia kebingungan apa yang harus dilakukan dengan jasad Habil tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ia hanya meletakkannya di atas tanah. Ada juga yang menyatakan bahwa Qabil malu dengan ayahnya sehingga dia memasukkan jasad Habil ke dalam sebuah tempat dari kulit, lalu membawanya ke mana-mana. Ada yang mengatakan bahwa Qabil membawa jasad adiknya selama setahun dan ada yang mengatakan selama 100 tahun. Umur mereka sangat panjang, bahkan ada yang menyebutkan usia mereka mencapai 1000 tahun. Semua perkataan-perkataan ini disebutkan dalam kitab-kitab tafsir tetapi tidak ada sanadnya. Intinya, Qabil kebingungan terhadap apa yang harus dia lakukan.

BACA JUGA: Kisah Dua Anak Nabi Adam

Firman Allah:

فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِ ۗ

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya”.

Ada yang mengatakan bahwa Allah mengirim dua ekor gagak yang bertengkar di hadapan Qabil. Kemudian salah satunya mati, lalu gagak tersebut menggali-gali lubang di tanah dan menguburkan gagak yang mati. Akhirnya, Qabil pun tahu cara mengurus jasad Habil setelah melihat perbuatan burung tersebut.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa berdasarkan zahir ayat ini, Allah hanya mengutus seekor gagak. Gagak tersebut membawa suatu benda yang ia kemudian menggali-gali tanah untuk mengubur benda tersebut. Melihat hal tersebut Qabil pun terinspirasi untuk mengubur saudaranya.

Ini menunjukkan bahwa seseorang terkadang belajar dari apa yang ia lihat. Di antara cara Allah mengajarkan manusia berbagai hal adalah dengan membuatnya terinspirasi dari apa yang dilihatnya.

Kita dapati di dunia ini banyak obat ditemukan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Banyak jenis makanan yang dipadukan dengan beberapa bumbu sehingga menjadi makanan yang enak. Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Semua ini menunjukkan bahwa manusia banyak belajar, dan Allah yang mengajarkan mereka. Memang benar manusia memiliki pemikiran dan intuisi, tetapi sejatinya Allah yang mengajarkan karena Allah yang memberikan semua itu kepada manusia.

BACA JUGA: Penjelasan Tentang Makna Hasad

Dalam ayat ini, Allah mengajarkan Qabil melalui burung gagak untuk mengubur sehingga dia pun belajar. Jika seseorang telah meninggal maka dia harus dikubur dan jangan biarkan dia terbuka. Mayat yang dibiarkan akan menimbulkan bau yang sangat busuk.

Para ulama menyebutkan tentang orang yang meninggal di lautan sementara daratan masih jauh dan orang-orang tidak tahan dengan baunya. Maka, dalam kondisi demikian, dia dilemparkan ke dalam lautan. Jiika memungkinkan diberikan besi pemberat sehingga dia bisa tenggelam dan tanah dasar lautan bisa menutupinya. Namun, para ulama menegaskan bahwa pada asalnya manusia tidak boleh dikuburkan di lautan kecuali jika tubuhnya benar-benar akan rusak. Selama masih memungkinkan untuk dikuburkan di daratan maka tidak boleh dikuburkan di lautan.

Ada juga yang mengatakan jika kapal sudah dekat dengan suatu pulau, maka mayat tersebut dilarungkan dalam peti ke arah pulau itu. Harapannya peti tersebut terdampar di pulau itu sehingga orang-orang yang ada di sana bisa menguburkannya. Ibnu Hibban meriwayatkan kisah Abu Thalhah Al-Anshari yang wafat di kapal. Para sahabat kebingungan. Mereka menunggu hingga satu minggu untuk bisa menguburkannya di daratan. Padahal, pada waktu itu tidak ada alat untuk mengawetkan jasad mayat. Biasanya, jasad dalam waktu satu atau dua hari sudah mulai membusuk. Namun ternyata, selama waktu menunggu tersebut, tidak terjadi apa-apa dengan jasad beliau hingga akhirnya bisa dikuburkan di daratan.

Jenazah wajib dikubur, baik jenazah Mukmin maupun kafir. Oleh karenanya, ketika Abu Thalib meninggal maka Ali datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, pamanmu telah wafat”. Maka, Rasulullah berkata kepadanya, “Pergi dan kuburkanlah”.

Lalu, Ali menjelaskan bahwa ayahnya meninggal dalam keadaan musyrik tetapi Rasulullah ﷺ tetap menjawab, “Pergi dan kuburkanlah”.

Begitu juga ketika Perang Badar, yang Abu Jahal tewas dalam perang tersebut, maka Rasulullah ﷺ tetap menguburkannya. Dalam ayat ini, Allah menamakan jenazah dengan سَوْءَةَ yang artinya aurat. Ini menunjukkan bahwa asal dari mayat adalah ditutup dan jangan dibiarkan terbuka sehingga bau yang tidak sedap menyebar atau menjadi bahan cercaan orang. Bahkan, para ulama mengatakan bahwa harus dikuburkan dengan galian yang dalam sehingga tidak bisa digali oleh hewan buas.

Firman Allah:

فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَ ۛ

“Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”.

Para ulama menjelaskan bahwa penyesalannya itu tanpa disertai tobat. Al-Qurthubi mengatakan, “Sekiranya Qabil bertobat maka tentu Allah akan menerima tobatnya”. Namun, dia tidak bertobat kepada Allah. Karena itulah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung dosa pertumpahan darah itu karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan”.

Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, beliau langsung bertobat kepada Allah sehingga Allah pun mengampuninya. Orang yang melakukan dosa-dosa Jariyah hendaknya dia bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikuti setelahnya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang membuat contoh yang buruk dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (HR. Muslim No. 107)

BACA JUGA: Kisah Adam dalam Al-Quran

Salah satu dosa yang buruk adalah bid’ah. Jika dosa tersebut diikuti oleh banyak orang maka orang yang mencontohkan kebid’ahan tersebut akan menanggung dosanya dan dosa yang mengikutinya hingga Hari Kiamat tanpa mengurangi dosa mereka. Hendaknya orang yang pernah melakukan dosa jariyah segera bertobat kepada Allah. Jika tidak, maka dikhawatirkan nasibnya akan seperti anak Nabi Adam tersebut yang menyesal tetapi tidak bertobat. Dia menyesal dengan penyesalan yang tidak mengantarkannya bertobat kepada Allah  Di antara syarat tobat bukan hanya sekadar menyesal.

Setelah membunuh Habil, ternyata Qabil pun tetap tidak mendapatkan apa yang dia inginkan untuk menikahi saudaranya. Itu seperti halnya yang dialami oleh iblis dan orang-orang Yahudi. Iblis yang hasad kepada Adam hanya memperoleh neraka Jahanam dan tidak menjadi lebih mulia dibandingkan Adam. Yahudi pun demikian. Mereka hasad kepada Rasulullah ﷺ tetapi mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, melainkan justru terusir dari kota Madinah dan ditaklukkan dalam Perang Khaibar.[]

 

SUMBER: Tafsir At-Taysir Surah Al-Ma’idah, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response