Ibrah

Golongan Orang yang Menzalimi Dirinya Sendiri

Foto: Pixabay
30views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 35:

وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖۚ قَالَ مَآ اَظُنُّ اَنْ تَبِيْدَ هٰذِهٖٓ اَبَدًاۙ

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya”.

Lelaki kaya tersebut masuk ke dalam kebunnya bersama kawannya tersebut dan dia berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa seseorang berbuat zalim kepada dirinya sendiri? Para ulama mengatakan maksudnya adalah orang yang berbuat maksiat, berbuat kekufuran, dan berbuat kesyirikan maka dia telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan:

Pertama, dia telah mengantarkan dirinya sendiri ke neraka dengan kekafirannya tersebut sehingga dia menzalimi dirinya sendiri ketika di akhirat dengan mengantarkan dirinya ke dalam neraka Jahanam karena kekufuran dan kesyirikan yang dia lakukan.

Kedua, demikian juga ia telah menyebabkan kenikmatan yang ia dapatkan akan sirna.

Ketiga, atau dikatakan ia telah berbuat zalim karena telah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. seharusnya dia bersyukur malah ia kufur.

BACA JUGA: Perumpamaan Allah tentang Dua Orang Lelaki

Lelaki tersebut tidak bersyukur kepada Allah. Harta yang Allah berikan kepadanya dia gunakan untuk mengejek kawannya. Ini sangat perlu kita ingat bahwasanya kelebihan yang Allah berikan kepada kita bukan untuk kita pamerkan, kita sombongkan, atau untuk merendahkan orang lain karena kelebihan yang Allah berikan kepada kita adalah untuk kita syukuri. Nah, ternyata lelaki yang kaya ini tidak mensyukuri harta yang telah Allah berikan kepadanya. Dia menganggap seakan-akan kalau dia telah memiliki harta banyak berarti menunjukkan bahwa dia lebih mulia. Adapun orang yang beriman meyakini bahwa ukuran kemudian di sisi Allah bukan harta melainkan ketakwaan.

Kemudian Allah berfirman:

قَالَ مَآ اَظُنُّ اَنْ تَبِيْدَ هٰذِهٖٓ اَبَدًاۙ

Ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya”.

Kemudian, lelaki kaya itu berkata bahwa kebun miliknya tidak akan rusak selama-lamanya. Maksudnya, dia merasa bahwa kekayaannya akan terus dia miliki dan harta bendanya akan senantiasa banyak. Al-Alusy menyebutkan maksud dari perkataan lelaki yang kaya itu bahwa lelaki tersebut menyangka kebun tersebut akan panjang umur dan dia akan senantiasa menikmati hasil kebunnya selama dia hidup.

BACA JUGA: Perumpamaan Dua Lelaki dan Dua Kebun Anggur

Bukanlah maksud dari اَبَدًاۙ adalah abadi karena lelaki yang kaya tersebut tahu bahwa tidak ada sesuatu yang abadi dan suatu saat pasti akan rusak. Akan tetapi, yang dimaksud dari ucapannya adalah bahwa kebun tersebut akan bertahan lama dan hartanya akan terus ada dan akan bisa terus dia manfaatkan seumur hidupnya seakan-akan dia berkata bahwasanya dia akan senantiasa kaya hingga dia mati.[]

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, karya: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response