Asbabul Nuzul

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfal (8) Ayat 30 dan 31

Foto: Unsplash
27views

Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal (8) Ayat 30:

وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas bahwasanya sekelompok orang Quraisy dan para pemuka tiap kabilah berkumpul hendak memasuki “Darun Nadwah”, akan tetapi iblis mengadang mereka dalam wujud orang tua yang terhormat. Tatkala mereka melihatnya, mereka bertanya, “Siapa Anda?” la menjawab, “Aku seorang sesepuh dari Najed. Aku mendengar urusan yang membuat kalian mengadakan pertemuan ini sehingga aku ingin ikut hadir. Kalian tidak akan rugi jika mendengar nasihat dan pendapatku.” Mereka menjawab, “Baiklah, silakan masuk.” Lalu ia pun masuk bersama mereka. Kemudian ia mengatakan, “Pikirkanlah cara menghadapi orang ini.”

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Al-Anfal (8) ayat 19 dan 27

Seseorang berkata, “Belenggu ia dengan tali lalu tunggu saja maut menjemputnya hingga ia mati seperti para penyair sebelumnya Zuhair dan An-Nabighah sebab ia tidak lebih seperti mereka.” Musuh Allah (Iblis) yang menjelma sebagai sesepuh dari Najed itu pun berkata, “Tidak,  sungguh ini bukan pendapat yang tepat. la bisa saja mengirim berita kepada sahabat-sahabatnya sehingga mereka bergerak merebutnya dari tangan kalian, lalu mereka melindunginya dari gangguan kalian. Kalau sudah begitu, aku khawatir mereka akan mengusir kalian dari negeri kalian. Carilah pendapat lain!”

Seseorang berkata: “Usir saja dia dari negeri kalian agar kalian dapat hidup tenang. Sebab, jikalau ia sudah keluar, apa yang ia perbuat tidak akan merugikan kalian.” Sesepuh Najed itu berkata, “Tidak, sungguh ini bukan pendapat yang bagus. Tidakkah kalian lihat betapa pandainya ia menarik hati orang dengan perkatannya?! Demi Allah, seandainya kalian melakukan pilihan ini, lalu ia membujuk orang-orang Arab, pasti mereka bersatu di bawah komandonya, lalu ia akan membantai para pemimpin kalian.” Orang-orang itu berkata, “Dia benar! Pikirkan cara lain!”

Abu Jahal berkata, “Demı Allah, aku akan kemukakan kepada kalian pendapat yang tidak terpikirkan oleh kalian. Aku tidak melihat pendapat lain.” Orang-orang pun bertanya, “Apa pendapatmu?” lalu ia menerangkan pendapatnya dengan berkata, “Kalian ambil seorang pemuda yang kuat dari tiap suku, lalu masing-masing diberi pedang yang tajam, lalu mereka menikamnya secara bersama-sama. Kalau kalian membunuhnya, darahnya akan terbagi kepada seluruh suku. Kukira satu warga dari Bani Hasyim itu tidak akan sanggup memerangi seluruh Quraisy. Dan kalau mereka menyadari hal itu, pasti mereka mau menerima tebusan. Dengan demikian, kita bisa tenang dan terbebas dari gangguannya.”

Lalu, iblis berkata, “Ini adalah ide yang sangat bagus dari anak muda ini.”

Akhirnya, mereka pun bubar setelah sepakat untuk melaksanakan rencana ini. Lalu, Jibril mendatangi Nabi ﷺ dan menyuruhnya untuk tidak tidur di pembaringannya yang biasa ia tempati. Dia (Allah) memberi tahu beliau tentang makar kaum Quraisy. Rasulullah ﷺ pun tidak tidur di rumahnya pada malam itu. Dan pada waktu itulah, Allah memerintahkan beliau untuk keluar (dari Mekkah), dan setelah beliau tiba di Madinah, Dia menurunkan firnan-Nya, “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu….

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ubaid bin Umair dari Al-Muththalib bin Abi Wada’ah bahwa suatu ketika Abu Thalib bertanya kepada Nabi ﷺ, “Apa yang dirundingkan oleh kaummu?” Beliau menjawab, “Mereka hendak memenjarakanku, atau membunuhku, atau mengusirku.” Abu Thalib bertanya kembali, “Siapa yang memberitahumu demikian? “Beliau menjawab, “Tuhanku.” Abu Thalib berkata, “Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, maka jagalah baik-baik.” Rasulullah ﷺ pun berkata, “Aku menjaga-Nya? Dia-lah yang justru menjagaku!” Maka, turunlah ayat di atas.

Ibnu Katsir berkata, “Disebutkannya nama Abu Thalib dalam riwayat ini adalah gharib, bahkan munkar, sebab kisah ini terjadi pada malam hijrah, yang terjadi tiga tahun setelah kematian Abu Thalib.”

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Al-Anfal (8) ayat 9 dan 17

Allah berfirman dalam Surah Al-Anfal (8) ayat 31:

وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا قَالُوْا قَدْ سَمِعْنَا لَوْ نَشَاۤءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هٰذَآ ۙاِنْ هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al-Quran)-mu tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala.”

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ia berkata. “Pada Perang Badar, Nabi ﷺ membunuh Uqbah bin Abi Mu’ith, Thu’aimah bin Adi, dan An-Nadhr bin Al-Harits dalam keadaan terbelenggu. Al-Miqdad menawan An-Nadhr. Maka, ketika beliau memerintahkan agar An-Nadhr dibunuh, ia pun mengadu, “Wahai Rasulullah, ia adalah tawananku!” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Dahulu ia pernah mengatakan sesuatu (yang keji) tentang Kitabullah.” Mengenai dirinyalah diturunkan ayat, “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami… “[]

SUMBER: ASBABUN NUZUL: Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Quran, Penulis: Imam As-Suyuthi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response