Historia/Tarikh

Perjanjian Hudaibiyah: Kisah Perantara Rasulullah dan Kaum Quraisy

30views

Dalam tulisan sebelum ini, dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ dan sekitar 1.400 orang kaum Muslimin memutuskan untuk pergi ke Masjidil Haram dalam rangka melakukan ibadah umrah. Namun, niat ibadah umrah tersebut ternyata dijadikan kesempatan oleh kaum Quraisy dengan berencana melakukan penyerangan kepada Rasulullah dan kaum Muslimin. Demi menghindari bentrokan, Rasulullah melakukan perjalanan dengan mengambil rute yang berbeda hingga kemudian tiba di ujung Kawasan Hudaibiyah.

Budail Menjadi Perantara antara Rasulullah dan Quraisy

Setelah Rasulullah ﷺ merasa tenang berada di tempat tersebut, tiba-tiba muncul Budail bin Warqa’ Al-Khuza’i bersama beberapa orang dari Bani Khuza’ah. Bani Khuza’ah sering memberi nasihat kepada beliau. Budail berkata, “Saat aku meninggalkan Ka’ab bin Lu’ai, mereka siap berangkat ke Hudaibiyah dengan membawa pasukan. Mereka hendak memerangi dan menghalangimu memasuki Masjidil Haram.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kami datang bukan untuk memerangi siapa pun. Kami datang untuk melakukan umrah. Rupanya orang-orang Quraisy sudah semakin surut dan menjadi buta karena peperangan. Jika mereka menghendaki, engkau bisa membujuk mereka dan membukakan jalan bagiku, dan jika mereka menghendaki untuk memasuki sesuatu yang biasa dimasuki manusia, mereka bisa melakukannya, yang berarti mereka masih memiliki nyali.

BACA JUGA: Perjanjian Hudaibiyah: Perjalanan Kaum Muslimin Menuju Masjidil Haram

Sungguh, perang telah mennghabiskan perbekalan orang-orang Quraisy dan membahayakan mereka. Jika mau, aku bisa mensuplai kebutuhan mereka asalkan membiarkan dan tidak menggangguku. Kalau mereka mau bergabung dengan manusia untuk masuk (Tanah Haram), silakan. Tetapi, kalau mereka menginginkan perang, demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, aku pasti akan melayani keinginan mereka hingga kemenangan yang lalu hanya menjadi milikku atau biarlah Allah menentukan keputusan-Nya.”

Budail berkata, “Aku akan menyampaikan apa yang engkau katakan ini kepada mereka. Budail segera pergi untuk menemui Quraisy. Ia berkata kepada mereka. “Aku datang kepada kalian setelah menemui Muhammad dan aku mendengar dia telah mengucapkan suatu perkataan. Jika kalian menghendaki, aku bisa memberitahukannya kepada kalian.” Orang- orang yang bodoh di antara mereka berkata, “Kami tidak membutuhkan engkau memberitahukan sesuatu pun dari dirinya kepada kami.” Namun, orang-orang yang tajam pikirannya di antara mereka berkata, “Sampaikan apa yang engkau dengarkan darinya.” Budail berkata, “Aku mendengar dia berkata begini dan begitu.”

Akhirnya, Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh. Saat Rasulullah ﷺ melihatnya dari kejauhan, beliau bersabda, “Dia adalah orang yang suka berkhianat.” Saat Mikraz tiba, beliau mengucapkan seperti yang beliau ucapkan kepada Budail dan rekan-rekannya. Setelah itu, Mikraz berbalik untuk menemui orang-orang Quraisy dan menyampaikan pesan beliau.

Beberapa Orang Utusan Quraisy

Seseorang dari Kinanah yang bernama Al-Hulais bin Alqamah berkata kepada Quraisy. “Biarkan aku menemui Muhammad.” Mereka menjawab, “Silakan!”

Saat Rasulullah ﷺ dan para sahabat melihat kedatangan Al-Hulais dari jauh, beliau bersabda, “Itu adalah Fulan. la berasal dari kaum yang sangat menghormati hewan kurban. Lepaskan hewan-hewan kurban itu agar mendekatinya.” Mereka pun melepaskan hewan-hewan kurban itu, dan menyambut kedatangan Al-Hulais dengan ber-talbiyah.

Ketika Al-Hulais melihat pemandangan tersebut, dia berkata, “Mahasuci Allah, tidak selayaknya orang-orang Quraisy menghalangi mereka untuk memasuki Masjidil Haram.”

la pun langsung membalikkan badan menemui rekan-rekannya dari Quraisy. “Aku melihat hewan-hewan kurban yang telah diikat dan diberi tanda. Menurut pendapatku, tidak selayaknya mereka dihalang-halangi” Setelah itu terjadilah perdebatan sengit antara dirinya dan orang-orang Quraisy. Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi berkata, “Ini adalah tawaran yang bagus bagi kalian. Terimalah tawaran ini dan berikan kesempatan kepadaku untuk menemuinya.” Mereka pun berkata, “Kalau begitu temuilah dia!”

Urwah menemui Rasulullah ﷺ, lalu beliau menyampaikan seperti yang beliau sampaikan kepada Budail. Urwah berkata, “Wahai Muhammad, bagaimana pendapatmu bila seluruh kaummu ini binasa. Apakah engkau melihat ada orang Arab sebelummu yang berhasil membinasakan keluarganya? Kalaulah bukan itu, demi Allah, sesungguhnya aku melihat wajah-wajah dan sekelompok manusia akan lari dan meninggalkanmu.” Abu Bakar berkata. “Isaplah kemaluan Lata! Apakah menurutmu kami akan lari meninggalkannya?”

Urwah bertanya, “Siapa orang ini?”

Orang-orang menjawab, “Dia-lah Abu Bakar.”

Urwah berkata, “Demi yang diriku ada di tangan-Nya, andaikata tidak karena tugas di pundakku saat ini, tentu aku akan memenuhi apa yang engkau inginkan.” Urwah kemudian berbincang-bincang dengan beliau. Setiap kali berkata, ia memegang jenggot beliau.

BACA JUGA: Mengenal Perjanjian Hudaibiyah

Al-Mughirah bin Syu’bah berjaga-jaga di dekat kepala beliau sambil menghunus pedang. Ketika Urwah hendak memegang jenggot beliau, Al- Mughirah memukul tangan Urwah dengan punggung pedangnya, sambil berkata, “Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah”.

Urwah mendongakkan kepala, lalu bertanya, “Siapa orang ini?”

“Al-Mughirah bin Syu’bah,” jawab orang-orang di sekitarnya.

Urwah berkata, “Hai anak nakal! Bukankah aku yang membereskan urusan karena kenakalanmu dulu?” Sebelum masuk Islam, Al-Mughirah yang merupakan keponakan Urwah ini memang pernah membunuh beberapa orang dan merampas harta mereka. Karena ulahnya itu, Urwah harus mengeluarkan uang tebusan untuk diserahkan kepada keluarga para korban. Kemudian, Al-Mughirah mendatangi Rasulullah ﷺ dan masuk Islam. Beliau saat itu bersabda, “Aku bisa menerima keislamanmu. Tetapi, tentang harta benda yang engkau bawa, aku tidak mempunyai urusan dengannya.”

Kemudian, Urwah menyibak kerumunan para sahabat dan kembali kepada rekan-rekannya dari Quraisy. Di sana dia berkata, “Wahai semua orang, demi Allah, aku pernah menjadi utusan untuk menemui para raja, Qaishar dan Kisra. Demi Allah, tidak pernah kulihat seorang raja yang diagung-agungkan rekan-rekannya seperti yang dilakukan rekan-rekan Muhammad terhadap dirinya. Demi Allah, setiap kali Muhammad mengeluarkan dahak, maka dahak itu pasti jatuh di telapak tangan salah seorang di antara mereka, lalu dia mengusap-usapkannya ke wajah atau kulit badannya. Jika dia memberikan suatu perintah, mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika dia wudhu, mereka seperti orang yang sedang bertengkar karena berebut sisa air wudhunya. Jika dia berbicara, mereka menghentikan pembicaraan di depannya. Mereka tidak pernah mendongakkan pandangan ke wajahnya karena penghormatan terhadap dirinya. Dia telah menyampaikan tawaran yang layak kepada kalian. Karena itu, terimalah tawaran tersebut.”[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response