Ibrah

Sanggahan Sayyid Quthb terhadap Penganut Paham Materialisme

Foto: Pixabay
17views

Dalam hal ini, Sayyid Quthb bersikap lunak (moderat). Dia menggunakan kisah tentang seorang laki-laki yang melewati sebuah negeri beserta mukjizat-mukjizat Rabbani di dalamnya, yang menggambarkan kekuasaan Allah atas kematian dan kehidupan ini, sebagai satu kesempatan yang tepat untuk menyanggah paham materialisme. Dia menyanggah kaum materialis ateis yang mengingkari kekuasaan Allah dan kebangkitan setelah kematian serta meniadakan eksistensi-Nya. Kami menukilkan di sini sanggahannya. Sayyid Quthb berkata, “Adapun tentang bagaimana terjadinya mukzijat itu, ia terjadi sebagaimana terjadinya mukjizat-mukjizat lainnya, sebagaimana terjadinya mukjizat kehidupan yang pertama, mukjizat yang banyak kita lupakan. Kita tidak mengetahui bagaimana mukjizat itu terjadi. Kita tidak mengetahui bagaimana ia datang. Kita hanya mengetahui bahwa mukjizat itu datang dari sisi Allah dengan cara yang Dia kehendaki.”

Darwin adalah seorang ilmuwan masyhur yang berbicara tentang kehidupan. Dia memandang bahwa kehidupan ini berkelas-kelas. Selanjutnya, dia berusaha mendalami seluk-beluknya secara mendetail sehingga sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan ini berasal dari satu sel pertama. Kemudian, dia berhenti sampai di sini. Dia tidak mengetahui dari mana kehidupan sel pertama itu berasal.

BACA JUGA: Dalil-Dalil tentang Hari Kebangkitan dalam Al-Quran

Namun demikian, dia tetap tidak mau berpijak pada apa yang seharusnya dijadikan pijakan bagi ilmu pengetahuan manusia, yang sebenarnya sudah melekat pada fitrah manusia dan alam ini, yakni bahwa ada Dzat yang memberikan kehidupan pada sel pertama itu. Darwin tidak mau berpijak di atas pijakan tersebut hanya karena alasan-alasan yang tidak ilmiah, yakni sejarah pertentangannya dengan gereja. Dia melontarkan pendapat tentang hal tersebut, “Sesungguhnya, penafsiran persoalan-persoalan kehidupan dengan menghubungkannya kepada Sang Pencipta sama saja dengan memasukkan unsur metafisika dalam persoalan fisik mekanis yang cepat.”

Peletakan mekanisme mana yang Darwin maksud? Sesungguhnya, persoalan mekanika adalah persoalan yang paling jauh hubungannya dengan masalah ini. Masalah yang menuntut pemahaman untuk mencari sumber segala rahasia yang terjadi di depan penglihatan dan mata hati. Pada hakikatnya, dia telah melarikan diri dari desakan nalurinya sendiri yang selalu menghantarkan ilmu pengetahuan manusia pada pengakuan adanya sesuatu di balik kehidupan sel pertama itu.

Segala sesuatu dikembalikan pada sebab pertama dan Darwin tidak menjelaskan apakah sebab pertama itu? Apakah itu sebab yang berhak menjadikan kehidupan pertama kalinya lalu berkuasa sesuai teorinya yang mengarahkan sel pertama itu pada jalan kehidupan yang telah ditentukan baginya agar mampu melalui segala kesukaran-kesukarannya, dan bukan jalan lain yang tidak ditentukan baginya? Sungguh, ini adalah suatu sikap pelarian, ajang perdebatan, dan bibit kehancuran.

Kita kembali pada pembahasan mengenai mukjizat yang terjadi di negeri tersebut. Mungkin, kita bertanya-tanya apakah yang dapat diinterpretasikan dari hancur dan membusuknya sesuatu serta keadaan sesuatu yang lain yang sedikit pun tidak mengalami pembusukan dan kehancuran ini, padahal semua itu berada dalam satu tempat dan lingkungan yang mengelilinginya? Sementara itu, mukjizat kehidupan pertama dan mukjizat kehidupan ini tidaklah dapat menjelaskan terjadinya perbedaan semacam ini, perbedaan yang terjadi di antara segala sesuatu yang berada dalam satu lokasi dan kondisi lingkungan. Namun, sesungguhnya yang mampu menjelaskan fenomena ini sebagaimana yang selama ini kita sangka adalah kemutlakan kehendak, yakni kemerdekaan kehendak dari segala keterbatasan berupa hukum alam secara global yang tetap. Tidak dapat tidak, kejadian itu telah menyimpang dari hukum tersebut atau ia merupakan pengecualian darinya.

BACA JUGA: Perintah Allah untuk Tidak Mengikuti Kaum Yahudi dan Nasrani

Sebenarnya, persangkaan kita itu tidak benar. Salah bila kita membandingkannya dengan kehendak mutlak. Kesalahan ini terletak pada sikap kita yang menetapkan ukuran-ukuran dan ketetapan- ketetapan logika kita terhadap Allah. Kesalahan seperti ini serupa dengan kesalahan-kesalahan lain yang sangat banyak jumlahnya. Berikut pertanyaan yang muncul terkait hal tersebut.

Pertama, apakah kita berhak menetapkan sendiri kekuasaan mutlak tersebut dalam hukum-hukum yang kita buat sendiri? Hukum-hukum yang bersandar pada pengalaman dan eksperimen kita yang terbatas sarana dan prasarananya? Lantas, sejauh manakah ketepatan penafsiran kita terhadap pengalaman laki-laki itu dalam kisah tersebut, padahal pengetahuan kita terbatas?

Kedua, baiklah, anggaplah hal itu merupakan salah satu hukum alam yang kita ketahui. Lantas, siapakah yang berani berkata kepada kita bahwa sesungguhnya itu adalah hukum yang menyeluruh (komprehensif), sempurna, dan mutlak, serta tidak ada lagi hukum, selain itu?

Ketiga, anggaplah memang itu adalah hukum akhir yang mutlak. Kemudian, Kehendak Mutlak menumbuhkan hukum itu. Hukum itu hanyalah sebuah alternatif yang mungkin berlaku dalam segala kondisi pada umumnya.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response