Historia/Tarikh

Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Ketiga – Habis)

Foto: Pixabay
30views

Pada bagian kedua telah dituliskan bahwa, sebelum memasuki Mekkah, pasukan Islam singgah di Marr Azh-Zhahran. Saat itu, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukan untuk berhenti dan mereka pun menyalakan api unggun. Mereka menyalakan ribuan api unggun. Beliau mengangkat Umar bin Al-Khaththab sebagai penjaga. Dalam bagian kedua juga dikisahkan bahwa Abu Sufyan akhirnya bertemu dengan Rasulullah ﷺ karena jaminan dari Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi. Setelah bertemu dengan Rasulullah ﷺ pada akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. Selanjutnya, pasukan Muslim mulai beranjak meninggalkan Marr Azh-Zhahran untuk kemudian menuju Mekkah.

Orang-orang Quraisy Berpencar Menghindari Pasukan Islam

Setelah Rasulullah ﷺ melewati Abu Sufyan, Al-Abbas berkata kepadanya, “Segeralah temui kaummu!” Maka, Abu Sufyan segera masuk Mekkah dan berteriak dengan suara lantang. “Wahai semua orang Quraisy, inilah Muhammad telah mendatangi kalian dengan membawa pasukan yang tiada tanding. Barang siapa masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman.”

Maka, istrinya. Hindun binti Utbah bangkit menemuinya, lalu memegangi kumisnya dan berkata, “Bunuhlah orang yang gemuk, gembrot, dan sesat ini. Sungguh amat buruk pemimpin kaum ini.”

BACA JUGA: Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Abu Sufyan menyahut, “Jangan kalian terpedaya dengan ucapan semacam ini. Sesungguhnya dia telah datang dengan kekuatan yang tidak mungkin sanggup kalian lawan. Barang siapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia aman.”

Mereka menyahut, “Semoga Allah memusuhimu. Apa yang berguna bagi kami dari rumahmu itu?” Abu Sufyan berteriak lagi, “Barang siapa menutup pintunya, dia aman. Barang siapa masuk masjid, dia aman.” Orang-orang berpencar ke rumah masing-masing dan ada pula yang masuk masjid.

Mereka berpencar dengan tergesa-gesa. Di antara mereka ada pula yang berkata, “Kita hadapi mereka. Jika Quraisy masih mempunyai sesuatu yang bisa diandalkan, kita bergabung bersama mereka. Jika kita kalah, kita berikan apa yang diminta dari kita.” Lalu, beberapa orang Quraisy yang bodoh dan tidak berpikir secara bijaksana berhimpun bersama Ikrimah bin Abu Jalil, Shafwan bin Umayyah, dan Suhail bin Amr Khandamah dengan maksud untuk memerangi orang-orang Muslim. Di antara mereka juga ada seseorang dari Bani Bakar yang bernama Hammas bin Qais, yang bertugas mempersiapkan senjata untuk tujuan ini.

“Mengapa engkau mempersiapkan senjata-senjata ini?” istrinya bertanya. “Untuk menghadapi Muhammad dan rekan-rekannya.” Jawab Hammas.

“Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang mampu menghadapi Muhammad dan rekan-rekannya,” kata istrinya.

“Demi Allah, aku berharap bisa menjadikan sebagian di antara mereka menjadikan sebagai pembantu untukmu,” jawabnya. la lalu dia melantunkan syair:

Apabila mereka datang hari ini

Aku tidak memiliki satu alasan lagi

Inilah senjata yang sempurna dan unggul

Tombak bergagang panjang pedang bermata dua mengkilat dan amat tajam.

BACA JUGA: Sejarah Penaklukkan Ka’bah (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Pasukan Islam Berada di Dzu Thuwa

Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan hingga tiba di Dzi Thuwa. Di sana, beliau menundukkan kepala karena hendak menunjukkan ketundukan kepada Allah saat melihat kemenangan yang dianugerahkan oleh-Nya. Jenggot beliau hampir menyentuh pelana.

Di sini pula beliau membagi pasukan. Khalid bin Al-Walid ditempatkan di sayap kanan bersama Bani Aslam, Sulaim, Ghifar, Muzainah, Juhainah, dan beberapa kabilah Arab lainnya. Beliau memerintahkan pasukan Khalid ini masuk dari dataran rendah Mekkah. Beliau bersabda, “Jika ada orang-orang Quraisy yang mengadang kalian, perangilah mereka, dan tunggulah kedatanganku di Shafa.”

Az-Zubair bin Al-Awwam menempati sayap kiri, membawa bendera Rasulullah ﷺ dan memerintahkannya agar masuk Mekkah dari dataran tingginya, tepatnya dari arah Kada’. Beliau memerintahkan untuk menancapkan benderanya di Al-Hajun dan tidak boleh meninggalkan tempat itu hingga beliau tiba di sana. Sementara Abu Ubaidah bersama beberapa orang tanpa membawa senjata diperintahkan untuk masuk langsung ke tengah lembah hingga masuk Mekkah di depan Rasulullah ﷺ.

Pasukan Islam Masuk Mekkah

Tiap-tiap satuan pasukan Islam bergerak melewati jalan yang telah ditetapkan untuk masuk Mekkah. Siapa pun yang mengadang Khalid dan rekan-rekannya pasti dilibas. Dalam peristiwa ini, dua anggota pasukan Khalid gugur, yaitu Kurz bin Jabir Al-Fihr dan Khunais bin Khalid bin Rabi’ah. Keduanya tersesat dari induk pasukan sehingga melewati jalan lain yang tidak semestinya. Karena itulah, mereka berdua dibunuh oleh orang-orang Quraisy.

Orang-orang Quraisy yang bodoh dan sedang berkumpul di Khandamah berhadapan dengan Khalid. Pertempuran pun tidak terelakkan sehingga Khalid dapat membunuh dua belas orang musyrik. Karena terdesak, mereka melarikan diri. Hammas bin Qais yang tadinya mempersiapkan senjata juga melarikan diri, masuk ke dalam rumahnya, sambil berkata kepada istrinya, “Cepat tutup pintu rumahku.” Istrinya berkata, “Lalu apa artinya yang pernah engkau katakan?” Dia menjawab dalam sebuah syair:

Andaikan engkau tahu saat-saat di Khandamah

Saat Shafwan dan Ikrimah melarikan diri

Pedang orang-orang Mukmin teracung ke arah kami

Membabat setiap batang leher dan kepala

Tiada terdengar kecuali suara para pahlawan

Mereka mengaum seperti singa dalam barisan.

Khalid bin Al-Walid terus memasuki Mekkah dan menunggu kedatangan Rasulullah ﷺ di Shafa. Sementara itu Az-Zubair terus merangsek hingga dapat menancapkan bendera di Al-Hujun, di tempat dilakukannya sujud saat penaklukan dan tetap di sana hingga Rasulullah ﷺ tiba di tempat itu.

BACA JUGA: Ancaman Kaum Quraisy Mekkah dan Turunnya Izin Berperang

Rasulullah Masuk Masjidil Haram dan Membersihkannya dari Berhala

Di tempat lain, Rasulullah ﷺ bergerak bersama-sama Muhajirin dan Anshar hingga masuk masjid. Beliau menghampiri Hajar Aswad lalu menciumnya. Beliau berthawaf di sekeliling Ka’bah sambil memegang busur. Pada waktu itu, di sekitar Ka’bah ada 360 berhala. Beliau menyodok berhala-berhala itu dengan busur sambil mengucapkan ayat ke-81 Surah Al-Isra’ (17):

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

“Katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”

Kemudian beliau mem baca ayat ke-49 Surah Saba’ (34):

قُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيْدُ

“Katakanlah, “’Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.’”

Berhala-Berhala itu Pun Roboh

Beliau thawaf dengan mengendarai unta dan tidak berpakaian ihram. Bahkan, beliau mempercepat thawaf tersebut. Setelah sempurna, beliau memanggil Utsman bin Thalhah dan memerintahkannya untuk mengambil kunci Ka’bah. Setelah terbuka, beliau masuk ke dalam Ka’bah, yang di dalamnya beliau melihat berbagai gambar, seperti gambar Ibrahim dan Ismail yang sedang membagi anak panah untuk undian. Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.” Beliau juga melihat beberapa gambar yang lain, lalu memerintahkan agar semua dimusnahkan.

Rasulullah Shalat di dalam Ka’bah lalu Berpidato di Hadapan Orang-Orang Quraisy

Beliau menutup pintu Ka’bah, yang di dalamnya juga ada Usamah dan Bilal. Beliau menghadap ke arah dinding Ka’bah yang berseberangan dengan pintu Ka’bah. Beliau berdiri sejauh tiga hasta dari dinding, di samping kiri beliau ada dua tiang dan di samping kanan beliau ada satu tiang dan di belakang beliau ada tiga tiang. Saat itu, di dalam Ka’bah ada enam tiang. Beliau shalat di tempat itu. Seusai shalat, beliau berkeliling di dalam Ka’bah, bertakbir di setiap sudutnya, dan mengesakan Allah. Kemudian, beliau membuka pintu Ka’bah. Sementara itu, orang-orang Quraisy berkerumun memenuhi masjid, menunggu apa yang hendak beliau lakukan.

Dengan memegangi dua pinggiran pintu Ka’bah, sementara orang- orang Quraisy berkerumun di bawahnya, beliau bersabda, “Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dia yang membenarkan janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan sekutu sendirian. Ketahuilah, setiap kekuasaan, harta benda, atau darah ada di bawah kedua kakiku ini, kecuali kekuasaan mengurusi Ka’bah dan memberi minum untuk orang-orang yang haji. Ketahuilah, pembunuhan yang salah sama dengan pembunuhan karena disengaja dengan menggunakan cambuk atau pentungan. Dalam hal ini berlaku tebusan yang berat, yaitu seratus unta, empat puluh ekor di antaranya dalam keadaan hamil. Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah mengenyahkan semangat jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang karena manusia itu berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah.”

Kemudian beliau membaca ayat ke-13 Surah Al-Hujurat (49):

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Kemudian beliau bersabda, “Wahai orang-orang Quraisy, apa yang harus kulakukan terhadap kalian menurut pendapat kalian?” Mereka menjawab, “Kebaikan karena engkau adalah saudara yang baik dan anak saudara yang baik pula.” Beliau bersabda, “Kukatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Pergilah karena kalian orang-orang yang bebas.”

Kunci Ka’bah Diserahkan kepada yang Berwenang

Saat Rasulullah ﷺ sedang duduk di dalam masjid, Ali bin Abu Thalib menghampiri beliau sambil memegang kunci Ka’bah dan berkata, “Wahai Rasulullah, serahkanlah kewenangan menjaga Ka’bah kepada kami sekaligus kewenangan memberi minum kepada orang-orang yang haji. Shalawat Allah semoga dilimpahkan kepadamu.” Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa yang berkata seperti itu adalah Al-Abbas.

Beliau bertanya, “Mana Utsman bin Thalhah?” Setelah Utsman bin Thalhah dipanggil dan menghadap, beliau bersabda, “Inilah kuncimu, wahai Utsman. Hari ini adalah untuk berbuat kebajikan dan pemenuhan janji.”

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad di dalam Ath-Thabaqat, disebutkan bahwa beliau bersabda saat menyerahkan kunci kepada Utsman bin Thalhah, “Ambillah kunci ini sebagai warisan yang abadi. Tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang zalim. Wahai Utsman, Allah menyerahkan keamanan rumah-Nya kepada kalian. Ambillah dari rumah yang diberikan kepada kalian ini dengan cara yang makruf.”

BACA JUGA: Rasulullah dan Haji Wada

Bilal Mengumandangkan Adzan di Atas Ka’bah

Saat shalat pun tiba. Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan di sana. Saat itu, Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Usaid, dan Al-Harits bin Hisyam sedang duduk di serambi Ka’bah. Attab berkata, “Allah telah memuliakan Usaid (ayahnya) dengan tidak mendengar seruan ini. Jika mendengarnya, ia pasti marah.” Al-Harits menimpali, “Demi Allah, kalau saja aku tahu bahwa itu adalah benar, tentu aku akan mengikutinya.” Abu Sufyan menyahut, “Demi Allah, aku tidak akan berkomentar apa-apa. Andaikan aku berbicara, kerikil-kerikil ini tentu akan berbicara atas nama diriku.”

Nabi ﷺ langsung menemui mereka dan bersabda, “Aku sudah tahu apa yang kalian ucapkan.” Lalu beliau memberitahukan apa saja yang telah mereka ucapkan itu. Akhirnya Al-Harits dan Attab berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang mendengar apa yang kami ucapkan, dan kami juga tidak memberitahukannya kepada seseorang.”

Shalat Kemenangan atau Shalat Syukur

Pada hari itu Rasulullah ﷺ masuk ke dalam rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib, lalu mandi dan shalat delapan rakaat di rumahnya. Saat itu adalah waktu Dhuha. Banyak orang yang menduga bahwa itu adalah shalat Dhuha. Padahal, itu adalah shalat kemenangan.

Saat itu Ummu Hani’ memberi perlindungan kepada dua orang musyrik dari keluarga besarnya. Setelah mengetahui dua orang musyrik itu, Ali bin Abu Thalib, yang merupakan saudaranya, hendak membunuh mereka berdua. Ummu Hani’ cepat-cepat menutup pintu rumahnya untuk melindungi mereka berdua. Lalu, Ummu Hani’ menceritakan kepada Rasulullah ﷺ perlindungan yang dia berikan kepada dua orang musyrik itu dan kehendak Ali untuk membunuh mereka. Beliau bersabda, “Kami melindungi siapa pun yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.”[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakafuri, Penerbit: Ummul Qura.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response