Asbabul Nuzul

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (6) ayat 118, 122, dan 141

Foto: Pixabay
43views

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 118:

فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ

“Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya jika beriman kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.”

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata, “Sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita memakan yang kita sembelih dan tidak memakan selain itu?’ Maka, Allah menurunkan firman-Nya, ‘Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya jika beriman kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya’ hingga firman-Nya, ‘Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik.’”

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (6) ayat 94, 108, dan 109

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Hakim, dan yang lain dari Ibnu Abbas dalam firman Allah, “Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” bahwasanya ia berkata, “Mereka berkata, ‘Apa yang Allah sembelih kalian tidak makan dan apa yang kalian sembelih kalian makan?” maka Allah menurunkan ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan lain-lain dari Ibnu Abbas bahwasanya ketika turun ayat, “Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah…,” orang-orang Persia mengirim pesan kepada suku Quraisy yang berbunyi, “Debatlah Muhammad, katakana padanya, ‘Yang kamu sembelih dengan tanganmu sendiri dengan pisau adalah halal, sedangkan yang disembelih Allah dengan belati emas (yakni bangkai) adalah haram?’” Maka, turunlah ayat ini, “Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu….” Ibnu Abbas berkata, “Asy-Syayathiin (setan-setan) itu adalah orang-orang Persia, sedang auliyaa’ (pembantu) mereka adalah orang-orang Quraisy.”

 

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 122:

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

 

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan kembali dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengat-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Abu Asy-Syaikh dari Ibnu Abbas dalam firman Alah, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan kembali” bahwasanya ia berkata, “Ayat ini turun pada Umar dan Abu Jahal.” Dan, Ibnu Jarir meriwayatkan hadis yang senada dari Adh-Dhahhak.

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (6) ayat 91 dan 93

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 141:

 وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

“Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berlebih-lebihan.”

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abul Aliyah bahwasanya ia berkata, “Bahwa dahulu, selain zakat, mereka juga mendermakan sesuatu kemudian mereka berlebih-lebihan. Maka, turunlah ayat ini.”

Ia juga meriwayatkan dari Ibnu Juraij  bahwa ayat ini turun pada Tsabit bin Qais bin Syammas, yang pada waktu kebun kurmanya panen, ia memberi makan kepada orang-orang hingga sore harinya ia tidak kebagian sebuah pun.”[]

SUMBER: ASBABUN NUZUL: Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Quran, Penulis: Imam As-Suyuthi, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response