Kisah Al-Quran

Penjelasan tentang Kisah Ya’juj dan Ma’juj (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Foto: Unsplash
35views

Dalam tulisan ini akan dibahas secara lengkap dan mendetail tentang tentang Ya’juj dan Ma’juj, baik tempat tinggal dan tempat keluar mereka maupun yang terjadi pada dinding yang didirikan Kursy di depan mereka.

Pertama, Ya’juj dan Ma’juj menurut Al-Quran

Ya’juj dan Ma’juj disebutkan dalam Al-Quran sebanyak dua kali. Pertama kali disebutkan dalam Surah Al-Kahf (18) ayat 94:

قَالُوْا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِنَّ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ مُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِ

“Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj adalah (bangsa) pembuat kerusakan di bumi….”

Adapun, penyebutan kedua terdapat pada Surah Al-Anbiya’ (21) ayat 96-97:

حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ (96) وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ… (97)

“Hingga akhirnya, apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibuka dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (Apabila) janji yang benar (yakni Hari Kiamat) telah makin dekat, tiba-tiba mata orang-orang yang kufur terbelalak….”

Dalam Surah Al-Kahf (18), ayat-ayatnya membicarakan tentang Ya’juj dan Ma’juj pada masa lalu, kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi, pendirian dinding penghalang di hadapan mereka oleh Dzulqarnain, ketidakmampuan mereka menembus dinding itu, serta masa hidup Dzulqarnain, dan seterusnya. Adapun dalam Surah Al-Anbiya’ (21), membicarakan tentang Ya’juj dan Ma’juj pada masa mendatang dan keluarnya mereka menjelang Hari Kiamat. Ayat tersebut juga menceritakan tentang pembukaan jalan untuk Ya’juj dan Ma’juj. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembukaan ini bersifat fisik, yaitu mereka menghancurkan dinding Dzulqarnain. Pendapat tersebut juga mengatakan bahwa Ya’juj dan Ma’juj melakukan hal itu menjelang datangnya Hari Kiamat dan dinding itu masih ada sampai saat ini.

BACA JUGA: Dzulkarnain dan Kemampuan Membuat Dinding Besi yang Kokoh

Namun, pendapat penulis buku menyatakan bahwa pembukaan di sini hanyalah berarti maknawi, yaitu Allah mengizinkan mereka keluar dari tempatnya, lalu menyebarkan kerusakan ke seluruh negeri dan penjuru dunia. Inilah peristiwa keluarnya mereka yang dahsyat dan terakhir menjelang datangnya Hari kiamat. Wallahu a’lam. Ayat tersebut juga menunjukkan besarnya kekuatan dan banyaknya jumlah serta kejamnya kerusakan yang dilakukan mereka ketika keluar.

Al-hadab adalah semua yang menonjol di muka bumi, seperti bukit, bukit pasir, gunung, dan lain-lain. Wayansilun berarti mereka berjalan cepat, saling beriringan, seakan-akan membenamkan wajah bumi yang mereka hancurkan. Hadis-hadis sahih juga menunjukkan jumlah mereka yang banyak, termasuk kebengisan dan dahsyatnya kehancuran yang mereka perbuat serta cara keluar mereka yang menakutkan. Ayat tersebut menunjukkan bahwa peristiwa keluarnya mereka yang dahsyat, bengis, dan destruktif adalah yang terakhir, yaitu menjelang datangnya Hari Kiamat sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, (Apabila) janji yang benar (yakni Hari Kiamat). Janji yang dimaksud pada ayat tersebut adalah Hari Kiamat. Ini berarti Hari Kiamat telah dekat dengan keluarnya mereka.

Kedua, asal nama Ya’juj dan Ma’juj dari bahasa Arab atau bahasa lain

Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang asal nama Ya’juj dan Ma’juj, apakah derivasi dari bahasa Arab atau bahasa lain? Sebagian ulama berpendapat bahwa kedua nama itu merupakan derivasi dari bahasa Arab. Dalam kitab Lisan Al-‘Arab, Ibnu Manzhur berkata, “Keduanya merupakan derivasi dari bahasa Arab, yaitu ajjatinnaar (api menyala-nyala) dan al-maa’al ujaj, yaitu air yang asin sekali sehingga terasa membakar karena asinnya. Ya’juj satu pola dengan yaful dan Ma’juj satu pola dengan maf’ul. Ya’juj mungkin berasal dari ajiijannaar (api sangat panas) dan bisa juga dari faauulaa. Demikian juga, kasusnya dengan Ma’juj. Demikianlah jika keduanya berasal dari bahasa Arab, berarti merupakan derivasinya. Jika dari bahasa lain, tidak boleh diderivasikan dari bahasa Arab.”

Sementara itu, Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata, tentang kata aria, “Milhun ujaj maksudnya adalah sangat asin dan panas. Kata Ya’juj dan Ma’juj berasal dari kata itu. Mereka mengumpamakannya dengan api yang menyala-nyala dan air yang bergelombang.” Kelompok lain berpendapat bahwa kedua nama itu berasal dari bahasa lain sehingga tidak dapat di-tashrif atau diderivasikan. Inilah pendapat yang paling kuat karena kedua kabilah itu sudah ada sebelum adanya bangsa Arab dan bahasa Arab dengan segala perubahannya.

BACA JUGA: Kisah Dzulqarnain dalam Al-Quran

Dengan demikian, tidak tepat kalau kita menerapkan “kegilaan” bahasa dengan menderivasikan nama kuno yang muncul sebelum adanya bahasa Arab dengan bahasa Arab yang muncul belakangan, seperti kata-kata iblis, Adam, Hawa, Musa, Harun, Injil, Taurat, termasuk juga Ya’juj dan Ma’juj. Abu Al-Kalam Azad juga berpendapat bahwa kedua nama itu berasal dari bahasa lain. Dia berkata, “Kata Ya’juj dan Ma’juj mungkin berasal dari bahasa Ibrani, tetapi mungkin aslinya bukan dari Ibrani. Keduanya dari bahasa lain yang mengambil bentuk bahasa Ibrani. Diucapkan dalam bahasa Yunani, Gag dan Magag. Kemudian, dikutip dalam bentuk itu untuk terjemahan Taurat dan dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya.”

Ketiga, Mongolia adalah negeri Ya’juj dan Ma’juj

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan negeri asal Ya’juj dan Ma’juj dan daerah yang mereka tempati pertama kali. Para ulama dan kalangan peneliti menyatakan bahwa negeri itu berada di sebuah tempat di sebelah timur Laut Mongolia dan kabilahnya yang hidup nomaden disebut Mongol. Sebuah sumber dari Cina mengatakan bahwa asal kata Mongol adalah mongkok dengan huruf kaf (Persia) setelah huruf nun atau monjuk dengan huruf jim dalam bahasa Persia. Keduanya mendekati satu kata dalam bahasa Ibrani, yakni maakuk, dengan dua huruf kaf dalam bahasa Persia, dan dialek Yunani, yakni mikak, dengan dua huruf kaf dalam bahasa Persia.

Sejarah Cina menyebutkan kabilah lain dari tempat yang dikenal dengan nama Yuwasyi. Tampaknya, kata ini disalahartikan di antara umat-umat sehingga menjadi Ya’juj dalam bahasa Ibrani. Jadi, kemungkinannya Mongolia adalah negeri Ya’juj dan Ma’juj. Bahkan, nama Mongolia dan Mongol berhubungan dengan kata Ma’juj dan mempunyai hubungan langsung. Terkadang, Ya’juj dan Ma’juj disebut dengan Mongol atau pada lain waktu disebut Tartar.[]

Bersambung…

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response