Kisah Al-Quran

Hikmah dari Tiga Kisah yang Terjadi pada Masa Perjalanan Nabi Musa dan Khidir (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Foto: Pixabay
23views

Pada saat Nabi Musa menuntut ilmu kepada Khidir, dan kemudian mereka melakukan perjalanan, terdapat tiga kisah yang mewarnai perjalanan mereka. Ketiga kisah tersebut adalah:

Kedua, Khidir dan Pembunuhan Anak Laki-Laki

Nabi Musa meminta maaf kepada Khidir atas kelupaannya. Kemudian, mereka keluar dari perahu itu dan berjalan menuju tepi pantai. Ketika itu, mereka melihat sekelompok anak laki-laki sedang bermain. Khidir memandang salah seorang anak laki-laki di antara mereka yang masih kecil. Kemudian, Khidir mendekati dan memukul kepalanya sehingga anak kecil itu mati di tangannya. Nabi Musa heran melihat hal itu dan merasa sangat terkejut. Bagaimana mungkin Khidir, yang seorang nabi, membunuh seorang anak kecil yang tidak bersalah dan berdosa? Oleh karena itu, Nabi Musa menolak perbuatan Khidir tersebut. Dia berkata, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 74:

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰٓى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙقَالَ اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً ۢبِغَيْرِ نَفْسٍۗ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا ۔

“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau benar-benar telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

BACA JUGA: Hikmah dari Tiga Kisah yang Terjadi pada Masa Perjalanan Nabi Musa dan Khidir (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Khidir mengingatkan Nabi Musa dengan perkataan sebelumnya, Dia berkata, sebagaimana tercantum dalam Surah AL-Kahfi (18) ayat ayat 75:

 قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?

Khidir seolah-olah mengingatkan Nabi Musa as, bahwa dia akan menolak dan mendebatnya karena akan menemukan sesuatu yang tidak dapat diterima jika dipandang secara zhahir (kasat mata) saja.

Nabi Musa menyadari sikapnya yang tergesa-gesa menolak dan tidak sabar atas apa yang dihadapinya. Kemudian, dia berkata, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 76:

قَالَ اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْۚ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا

“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, jangan lagi engkau memperbolehkanku menyertaimu. Sungguh, engkau telah mencapai batas (yang wajar dalam) memberikan uzur (maaf) kepadaku.”

Kemudian, Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa alasannya membunuh anak itu. Ada pun anak itu (yang aku bunuh), kedua orang tuanya Mukmin dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk durhaka dan kufur. Oleh karena itu, kami menghendaki bahwa Tuhan mereka menggantinya (dengan seorang anak lain) yang lebih baik dan suci daripada (anak) itu serta lebih sayang (kepada ibu ayahnya). Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari ayat- ayat tersebut, yaitu sebagai berikut:

Pertama, pada zhahir-nya, pembunuhan Khidir terhadap anak kecil itu adalah perbuatan yang harus ditolak. Oleh karena itu, Nabi Musa menolaknya. Sikap Nabi Musa ini merupakan ajakan bagi kita untuk menolak kemungkaran secara terang-terangan.

BACA JUGA: Sebagian Petunjuk dalam Hadis tentang Kisah Nabi Musa

Kedua, dalam ucapan Nabi Musa kepada Khidir, yaitu “mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain”, terdapat petunjuk bahwa ada pembunuhan yang dibolehkan secara hukum, yaitu membunuh jiwa dengan jiwa (karena membunuh orang lain). Nabi Musa menolak pembunuhan anak kecil itu karena dia tidak membunuh orang lain sehingga tidak berhak untuk dibunuh. Sebagaimana kita ketahui, dalam Al-Quran dan Sunnah telah diterangkan secara jelas hukum kisas (Qishash) dan membunuh jiwa dengan jiwa. Pengetahuan Nabi Musa terhadap hal ini membuktikan bahwa hukum Allah yang terdapat dalam kitab Taurat, pada perkara membunuh, adalah kisas. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 45:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيْهَآ اَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْاَنْفَ بِالْاَنْفِ وَالْاُذُنَ بِالْاُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّۙ وَالْجُرُوْحَ قِصَاصٌۗ

“Kami telah menetapkan bagi mereka (Bani Israil) di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas), dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisas-nya (balasan yang sama).”

Kami telah menetapkan bagi mereka adalah terhadap Bani Israil. Di dalamnya berarti mengacu pada kitab Taurat. Kami telah menetapkan bagi mereka (Bani Israil) di dalamnya (Taurat) berupa kisah-kisah, jiwa dengan jiwa, dan lain-lain juga membuktikan adanya kesamaan kitab-kitab samawi dalam berbagai hukum dan syariat.

Ketiga, ucapan Nabi Musa dalam membantah hal-hal yang telah dilakukan Khidir berbeda. Ketika Khidir melubangi perahu itu, Nabi Musa berkata kepadanya, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 71:

 لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا

“Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”

Sementara itu, dalam pembunuhan anak laki-laki itu, Nabi Musa berkata, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 74:

 لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا ۔

“Sungguh, engkau benar-benar telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.

اِمْرًا (kesalahan yang besar) berarti suatu kejahatan. Sementara itu, نُّكْرًا (sesuatu yang mungkar) berarti mengandung ajakan untuk menolak suatu perbuatan karena perbuatan itu mengandung kemungkaran. نُّكْرًا mengandung kesan yang lebih keras daripada اِمْرًا. Ini seolah-olah merupakan fase kedua dalam menolak suatu perbuatan. Lantas, apa hubungannya  dengan kedua perbuatan itu? Manakah, secara zhahir yang lebih keji: menenggelamkan sebuah perahu atau membunuh anak kecil? Tidak diragukan lagi bahwa membunuh anak kecil adalah lebih keji. Oleh karena itu, dalam hal ini, Nabi Musa mempergunakan kata yang lebih keras dalam menolaknya.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Keempat, kata نُّكْرًا berarti kata kerja itu mengajak penolakan dari kalangan manusia karena hal itu secara zhahir merupakan kesalahan dan kebatilan. Namun, apakah membunuh anak kecil tersebut pada hakikatnya merupakan kesalahan? Tidak, bahkan hal tersebut adalah benar, khususnya setelah Khidir menjelaskan kepada kita rahasia yang Allah beritahukan bahwa seandainya hidup sampai dewasa, anak itu akan menjadi kafir. Oleh karena itu, dipergunakanlah kata نُّكْرًا dan bukan munkaran. Dalam bahasa Al-Quran, ada perbe daan antara kata an-nukru dan al-munkar. An-nukru maksudnya adalah sesuatu yang menurut manusia adalah suatu kebatilan dan harus ditolak, padahal menurut Allah adalah benar. Adapun al-munkar, maksudnya adalah sesuatu yang menurut Allah merupakan kebatilan dan kesalahan walaupun sebagian manusia menerimanya. Dasar penetapan mengenai sesuatu itu diterima atau ditolak adalah ketetapan Islam dan penjelasan dari Al-Quran ataupun Sunnah, bukan karena adanya keridhaan manusia atau tidak.

Kelima, Khidir berkata kepada Nabi Musa bukankah aku sudah mengatakan bahwa “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku”. Sementara itu, ketika Nabi Musa membantah atas penenggelaman perahu itu, Khidir berkata, “Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku”. Jika diperhatikan, Khidir menam- bahkan kata kepadamu yang berarti menguatkan atau menegaskan. Khidir menegaskan kepada Nabi Musa hal yang telah dikatakan kepadanya ketika mereka berjumpa. Karena Nabi Musa menolak kemungkaran yang kedua kalinya itu, Khidir seolah-olah berkata kepada Nabi Musa, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu (Nabi Musa) bahwa sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau tidak akan dapat bersabar bersamaku dan akan membantahku. Aku telah mengatakan hal itu kepadamu (Nabi Musa).”

Keenam, Nabi Musa merasa malu atas sikapnya membantah Khidir. Oleh karena itu, Nabi Musa berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, jangan lagi engkau memperbo- lehkanku menyertaimu”. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga rahmat Allah tercurah bagi kita dan Musa. Seandainya dia bersabar, pasti akan melihat keajaiban, tetapi justru dia mendapat kehinaan.” Dalam hal ini, ada penjelasan bahwa seandainya terus bersama Khidir, Nabi Musa pasti akan melihat keajaiban dan menerangkan keajaiban itu sehingga kita merasa bahagia. Namun, Nabi Musa merasa malu karena telah membantah, dan kehinaan itu memalukan.

Ketujuh, Khidir menjelaskan bahwa yang mendorongnya untuk membunuh anak itu adalah keimanan kedua orang tuanya, sedangkan anak itu akan kafir jika hidup sampai dewasa. Kedua orang tuanya adalah Mukmin. Dengan demikian, mereka membesarkan seorang anak yang bukan Mukmin. Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang saleh bisa saja memiliki anak tidak saleh, bahkan boleh jadi kafir. Oleh karena itu, dia harus mendidik, mengarahkan, dan meluruskan anak- anaknya. Jika tidak, berarti dia telah berbuat dosa. Terkadang, hal ini bisa saja terjadi. Padahal, orang tua sudah bersungguh-sungguh mendidik anaknya, tetapi anaknya tidak mau menurutinya. Anak itu memilih untuk tidak mengikuti jalan orang tuanya lalu menjadi kafir atau senang berbuat maksiat. Jika demikian, orang tua tidak akan sanggup mengubahnya dan itu tidak berdosa. Sesungguhnya, orang tua dituntut untuk berdakwah dan menasihati anaknya. Namun, orang tua tidak dituntut untuk memaksakan keimanan dalam hati anaknya atau menjadikan anaknya beriman karena tidak ada kewenangan untuk itu. Semua ini adalah kekuasaan Allah.

Kedelapan, sesungguhnya ayah yang saleh tidak akan rela jika salah seorang anaknya menjadi kafir, berbuat amoral, dan bermaksiat. Bahkan, dia akan merasa sangat tersiksa, sedih, dan menderita. Inilah yang terkandung dalam perkataan Khidir, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 80:

وَاَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ اَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا ۚ

“Kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya untuk durhaka dan kufur.”

Mendorong kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekufuran berarti membuat mereka cemas, lelah, gelisah, dan sedih. Alangkah tersiksa dan gelisah seorang ayah jika anaknya menyimpang dari kebenaran dan menolak dakwah yang benar. Dia berharap tidak pernah melahirkan anaknya itu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya, Allah sedang mengujinya dengan anak itu. Seandainya boleh, dia pasti membunuh anak itu. Seorang ayah yang saleh menginginkan anaknya lebih baik daripada dirinya, yakni lebih saleh dan lebih banyak beribadah dibandingkan dengannya. Oleh karena itu, dia akan mengusahakan dan mengarahkan anaknya pada hal itu. Alangkah gembira dan bahagia ketika seorang ayah melihat hal itu pada diri anaknya. Sebaliknya, betapa merugi dan menderita seorang ayah serta selalu merasa bersalah dan letih saat anaknya menolak hal itu.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa Menurut Hadis (Bagian Kedua – Habis)

Kesembilan, terkadang, justru kematian anak yang sesat menjadi ketenangan dan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya. Ini sebagaimana dikatakan Khidir, yaitu “Kami menghendaki bahwa Tuhan mereka menggantinya (dengan seorang anak lain) yang lebih baik dan suci daripada (anak) itu serta lebih sayang (kepada ibu ayahnya).” Jika anak yang kufur itu mati, kedua orang tuanya dapat meminta dan memohon kepada Allah untuk menggantikannya dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya kepada mereka (ibu ayahnya). Hal yang terpenting bukanlah pada banyaknya jumlah anak, melainkan apakah anak itu taat, rajin beribadah, baik, berakhlak luhur. dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Satu atau dua anak dengan sifat seperti itu (saleh) lebih baik daripada enam atau sepuluh anak yang tidak mempunyai keutamaan seperti itu

Kesepuluh, kami menyimpulkan bahwa kita tidak boleh meniru perbuatan Khidir. Seseorang tidak diperbolehkan membunuh seorang anak kecil dengan alasan telah mengetahui bahwa anak itu akan menjadi kafir jika dewasa kelak. Sesungguhnya, Allah-lah yang memberitahukan hal itu dan menunjukkan masa depan anak kecil itu kepada Khidir. Masa depannya adalah termasuk hal gaib, dan tidak ada yang mengetahui hal gaib, kecuali Allah. Dia menampakkan hal yang dikehendaki hanya kepada para rasul yang dikehendaki-Nya pula. Adapun selain para rasul, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal gaib. Siapa yang memberi tahu orang tersebut bahwa anak kecil di hadapannya akan menjadi kafir, padahal tidak ada wahyu lagi setelah Rasulullah ﷺ?[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response