Ibrah

Hikmah Didahulukannya Rahmat Daripada Ilmu

Foto: Unsplash
25views

Al-Quran menjelaskan nikmat yang Allah berikan kepada Khidir, melalui firman-Nya yang tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 65:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

“Lalu, mereka berdua bertemu dengan seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami anugerahi rahmat kepadanya dari sisi Kami. Kami telah mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”

Dari kalimat ini, tampak bahwa rahmat adalah pemberian dari Allah kepada seorang hamba. Bahkan, rahmat dilimpahkan kepada seluruh manusia serta Allah menjadikan mereka hidup bahagia dan senang. Adapun ilmu adalah pengajaran dari Allah sehingga memerlukan kesungguhan, belajar, dan usaha (ikhtiar). Jika tidak menuntut ilmu dan tidak berusaha untuk memperolehnya, manusia tidak akan memperoleh apa-apa darinya.

BACA JUGA: Kisah Tentang Nauf Al-Bikali dan Asal Muasal Nama Khidir

Cara rahmat itu turun diterangkan melalui kalimat رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا (rahmat kepadanya dari sisi Kami). Mengenai ilmu dijelaskan dalam kalimat وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا (mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami). Ungkapan ini membedakan makna antara ‘inda dan ladun. Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan bahwa ladun lebih khusus daripada ‘inda karena menunjukkan permulaan dan penghabisan. Sebagai contoh, aqamtu ‘indahu milladun thulu’isyamsi Ilaa ghurubiihaa (aku berdiri di sisinya, mulai dari terbitnya matahari sampai tenggelamnya). Pada kalimat tersebut kata ladun diletakkan di akhir kata kerja. Ada yang mengatakan bahwa ladun itu lebih mengena dan lebih khusus daripada ‘inda. Menurut Ar-Raghib, ladun lebih khusus dan lebih mengena daripada ‘inda. Namun, mengapa ilmu diungkapkan dengan kata ladun?

Jika diperhatikan, ternyata rahmat itu lebih umum daripada ilmu. Rahmat dari Allah meliputi seluruh makhluk. Tidak ada kehidupan bagi semua makhluk, kecuali dengan rahmat dari Allah. Ini menunjukkan bahwa rahmat meliputi seluruh umat manusia, baik Muslim maupun kafir. Jika tidak ada rahmat dari Allah, manusia (makhluk) tidak akan hidup.

Adapun ilmu, Allah tidak memberikannya kepada semua makhluk, bahkan tidak diberikan kepada semua manusia, terlebih lagi ilmu ladunni yang khusus, seperti ilmu yang Allah ajarkan kepada Khidir. Karena sifatnya yang umum, rahmat itu diungkapkan dengan kalimat ‘inda yang bermakna umum. Sementara itu, karena sifatnya yang khusus, ilmu diungkapkan dengan kata ladun yang berarti khusus. Wallahu ‘alam.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Apakah Khidir Seorang Nabi ataukah Bukan

Ungkapan yang menyebutkan bahwa ilmu Khidir adalah ilmu dari sisi Allah—dengan menggunakan kata ladun—berarti menegaskan kepada Nabi Musa bahwa semua perbuatan Khidir benar dan tepat karena ilmu ladunni datang dari Allah.

Kita akan mencari hikmah dari mendahulukan kata rahmat dibandingkan ilmu, yaitu Kami telah menganugerahkan rahmat kepadanya dari sisi Kami daripada Kami telah mengajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami, sebagaimana tercantum dalam ayat ke-65 Surah Al-Kahfi (18) di atas. Lantas, apa hubungan antara rahmat dan ilmu? Mengapa rahmat didahulukan daripada ilmu? Sebenarnya, rahmat adalah asas yang mendahului ilmu, yaitu kondisi dan lingkungan yang sesuai untuk mendapatkan manfaat ilmu, kebaikan, dan berkahnya.

Jika rahmat dicabut dari ilmu dan tidak mendahuluinya, tidak menjadi fasilitator dan asasnya, ilmu itu akan bersifat buruk, merusak, dan menghancurkan. Oleh karena itu, kata rahmat didahulukan daripada ilmu. Ilmu Khidir diliputi rahmat. Rahmat merupakan landasan yang sesuai baginya, bersatu dengannya, dan tumbuh darinya. Oleh karena itu, ilmunya bermanfaat, baik, dan penuh berkah.

Melalui ilmu ini, Khidir menjaga perahu itu dari kehancuran serta menyelamatkan kedua orang tua dari anaknya yang kafir dan berharap agar Allah menggantikannya dengan anak lainnya yang beriman kepada Allah (Mukmin). Dengan ilmunya itu, Khidir dapat membangun dinding rumah milik dua anak yatim dan menjaga harta benda mereka. Khidir melakukan hal ini karena mendapat rahmat dengan ilmunya itu.

Ilmu Khidir mengandung rahmat, bahkan orang lain juga mendapatkan rahmat karena ilmu itu. Semoga demikian juga dengan ilmu yang dimiliki kaum Muslimin, dengan berbagai ilmu yang dilimpahkan dan rahmat yang terkandung di dalamnya, sehingga bermanfaat bagi mereka dan kaum yang lain. Jika rahmat dicabut dari ilmu, lalu ilmu itu tidak memperoleh rahmat, ilmu itu menjadi buruk, hancur, rusak, dan kotor. Ini merupakan tanda paling jelas yang ada dalam berbagai ilmu modern orang-orang barat. Mereka (orang-orang Barat) mempunyai ilmu dan kemajuan ilmiah serta telah mencapai tingkat yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Ilmu mereka bercabang dan berkembang mencakup seluruh bidang kehidupan.

BACA JUGA: Penjelasan Apakah Khidir Masih Hidup Atau Sudah Meninggal 

Di sisi lain, ilmu, kreasi, dan inovasi merupakan kejahatan bagi pemiliknya dan juga orang lain karena dipergunakan untuk menghancurkan, merusak, berbuat zalim, membinasakan, dan membuat permusuhan. Dengan ilmu itu, manusia bertambah sengsara, menderita, dan merugi. Siapakah yang meragukan hal ini? Beritahukan kepada kami, apakah senjata atom, nuklir, dan elektronik bermanfaat untuk dunia atau justru membahayakannya? Apakah bom atom menyelamatkan Kota Hiroshima dan Nagasaki atau justru membinasakannya? Apakah peran senjata mikroba modern dalam perang dunia? Apakah akibat bom kimia dan fosfor bagi korbannya? Apakah manfaat senjata kimia dalam peperangan?

Berapa banyak senjata rahasia yang mengandung kuman, seperti kanker, kolera, bahkan AIDS, yang disimpan dan dipersiapkan oleh negara jahat untuk disebarkan demi melawan musuh mereka. Senjata kimia dan mikroba modern menunjukkan titik terendah yang dicapai oleh ilmu manusia yang destruktif, hasil dari kecerdasan mereka diliputi oleh hati yang penuh kebencian. Dari penjelasan ini, kita dapat menangkap hikmah dari didahulukannya rahmat daripada ilmu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah. Selain itu, kita juga dapat mengetahui pentingnya kesatuan ilmu, rahmat dan nilai akhlak dalam ilmu agar bermanfaat serta memberi kebaikan, keberkahan, dan rahmat.[]

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, Penulis: Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit: Gema Insani.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response