Ibrah

Gambaran Utuh Sosok Rasulullah (Bagian Ketiga – Habis)

Foto: Pixabay
29views

Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak Lanjutan…

Dalam sebuah perjalanan, beliau  memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.” Orang yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.” Orang yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan memasaknya.” Lalu, beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.” Mereka berkata, “Kami saja sudah cukup untuk melakukan itu.” Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian tidak perlu tenagaku. Tetapi, aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah-tengah rekan-rekannya.” Setelah itu, beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar. “

Kita berikan kesempatan kepada Hindun Bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat Rasulullah ﷺ. Dia berkata, “Rasulullah ﷺ seperti tampak berduka, terus-menerus berpikir, tidak punya waktu untuk beristirahat, tidak bicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya yang tidak dengan ujung-ujungnya saja.

BACA JUGA: Gambaran Utuh Sosok Rasulullah (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Beliau berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, tegas, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dan dengan nada yang sedang-sedang saja, tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, menggunakan hikmah sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya. Beliau tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, dan lapang dada.

Jika memberi isyarat, beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang kagum beliau dapat membalik kekagumannya. Jika sedang marah, beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan pandangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman. Senyumannya bagai butir-butir salju. Beliau selalu menahan lidahnya, kecuali untuk hal-hal yang dibutuhkan, mempersatukan para sahabatnya, dan tidak memecah belah mereka. Beliau menghormati orang-orang yang memang dihormati di setiap kaum dan memberikan kekuasaan kepadanya atas kaumnya, memperingatkan manusia, bersikap waspada terhadap mereka, tanpa menyembunyikan kabar gembira yang memang harus diberitahukan kepada mereka.

BACA JUGA: Bukti-Bukti Bahwa Rasulullah ﷺ Sosok Al-Amin

Beliau mengawasi para sahabat, menanyakan apa yang telah terjadi di antara manusia, mengatakan bagus apa yang bagus dan membenarkannya, mengatakan buruk apa yang buruk dan melemahkannya, sederhana, tidak bertindak yang aneh-aneh, tidak lalai karena takut jika mereka lelah atau bosan, setiap keadaan bagi beliau adalah normal, tidak kikir terhadap kebenaran, tidak berlebih-lebihan kepada orang lain, berbuat lemah lembut kepada orang yang paling baik. Orang yang paling baik di mata beliau adalah orang yang paling banyak nasihatnya dan orang yang paling besar kedudukannya di mata beliau adalah orang yang paling baik perhatian dan pertolongannya.

Beliau tidak duduk dan tidak bangkit kecuali dengan dzikir, tidak membatasi berbagai tempat dan memilih tempat yang khusus bagi beliau. Jika tiba di suatu pertemuan beberapa orang, beliau duduk di tempat yang paling akhir dalam pertemuan itu, dan beliau memerintahkan yang demikian itu, memberikan tempat kepada setiap orang yang hadir dalam pertemuan beliau sehingga tidak ada orang yang hadir di situ bahwa seseorang merasa lebih terhormat daripada beliau. Siapa pun yang duduk-duduk bersama beliau atau mengajak bangkit untuk suatu keperluannya, maka dengan sabar beliau melayaninya sehingga orang itulah yang beranjak dari hadapan beliau.

Siapa pun yang meminta sesuatu keperluan, maka beliau tidak pernah menolaknya. Beliau selalu membuka diri kepada manusia sehingga beliau layaknya bapak bagi mereka. Mereka selalu berdekatan dengan beliau dalam masalah kebenaran, menjadi utama di sisinya karena takwa. Majelisnya adalah majelis yang diwarnai kemurahan hati dan amanah, tidak ada suara yang melengking, tidak dikhawatirkan ada pelanggaran terhadap kehormatan, mereka saling bersimpati dalam masalah ketakwaan, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menolong orang yang membutuhkan dan mengasihi orang asing.

Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak suka memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: pamer, banyak bicara, dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya.

Beliau hanya berbicara dalam hal-hal yang beliau mengharapkan pahalanya. Jika beliau berbicara, orang-orang yang hadir di majelisnya diam, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Jika beliau diam, maka baru mereka berbicara. Mereka tidak berdebat di hadapan beliau. Jika ada seseorang yang berbicara saat beliau berbicara, mereka menyuruhnya diam hingga beliau selesai berbicara. Beliau tersenyum jika ada sesuatu yang membuat mereka tersenyum, mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum, sabar menghadapi kekasaran perkataan orang yang asing. Beliau bersabda, “Jika kalian melihat orang yang ingin mencari keperluannya, maka bantulah dia.” Beliau tidak mencari pujian, kecuali dari orang yang memang pantas.”

Kharizah bin Zaid berkata, “Nabi adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tak ada yang keluar dari pinggir bibirnya, beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya adalah senyuman, perkataannya tegas, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tersenyum bila beliau tersenyum karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”

Secara umum, Rasulullah ﷺ adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya sampai-sampai Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Qalam (68) ayat 4:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

BACA JUGA: Gambaran Utuh Sosok Rasulullah (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat hati manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pemimpin yang menjadi tumpuan harapan hati. Bahkan, orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga detail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya hingga akhlaknya pun adalah Al-Quran?

Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

 

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response