Historia/Tarikh

Rumah Tangga Nabawi (Bagian Ketiga – Habis)

Foto: Pixabay
33views

Para Ummahatul Mukminin mempunyai keutamaan yang sangat besar dalam mengajarkan berbagai kondisi kehidupan rumah tangga kepada manusia, terutama mereka yang dikaruniai usia panjang seperti Aisyah. Dia di meriwayatkan banyak perbuatan dan ucapan beliau.

Ada satu pernikahan yang dimaksudkan untuk menghapus tradisi jahiliyah yang terlanjur mengakar, yaitu tentang anak angkat. Menurut kepercayaan bangsa Arab jahiliyah, bagi bapak angkat berlaku seluruh hak dan hal-hal yang diharamkan seperti bagi anak kandungnya sendiri. Kepercayaan ini sudah mengakar kuat di dalam hati mereka dan tidak bisa dihapus begitu saja.

BACA JUGA: Rumah Tangga Nabawi (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Kepercayaan ini bertentangan dengan prinsip yang telah ditetapkan Islam dalam masalah pernikahan, cerai, warisan, dan lain-lainnya. Kepercayaan mereka ini ternyata lebih banyak mendatangkan kerusakan dan hal-hal yang negative, yang kemudian dihapus oleh Islam dan tidak lagi berlaku di tengah masyarakat. Untuk mengenyahkan kepercayaan ini, Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menikahi putri bibi beliau, Zainab binti Jahsy, yang sebelumnya menjadi istri Zaid bin Haritsah. Karena tidak ada kecocokan di antara Zaid dan Zainab, maka Zaid ada niat untuk menceraikannya.

Peristiwa ini terjadi pada saat berbagai golongan sudah menunjukkan ketundukannya kepada Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Sebenarnya, beliau khawatir terhadap makar orang-orang munafik, musyrik, dan Yahudi, yang bisa menimbulkan dampak kurang baik terhadap jiwa kaum Muslimin yang lemah. Maka, beliau ingin agar Zaid tidak usah menceraikan istrinya agar beliau tidak mendapat ujian karena masalah ini.

Tidak dapat diragukan, keragu-raguan dan kebimbangan beliau ini tidak selaras sama sekali dengan posisi Rasulullah ﷺ yang diutus sebagai Rasul. Karena itu, Allah memperingatkan beliau. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab (33): 37: “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.”

Akhirnya, Zaid menceraikan istrinya, lalu Rasulullah ﷺ menikahinya pada saat-saat terjadi pengepungan terhadap Bani Quraizhah, setelah habis masa iddah-nya.

Allah mewajibkan pernikahan ini dan tidak mengizinkan beliau untuk menentukan pilihan. Bahkan, Allah sendiri yang mengatur pernikahan itu, dengan berfirman dalam lanjutan Surah Al-Ahzab (33) ayat 37:

 فَلَمَّا قَضٰى زَيۡدٌ مِّنۡهَا وَطَرًا زَوَّجۡنٰكَهَا لِكَىۡ لَا يَكُوۡنَ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ حَرَجٌ فِىۡۤ اَزۡوَاجِ اَدۡعِيَآٮِٕهِمۡ اِذَا قَضَوۡا مِنۡهُنَّ وَطَرًا ؕ 

“Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya.”

BACA JUGA:Zaid bin Haritsah, Sahabat Nabi yang Namanya Diabadikan dalam Al-Quran

Hal ini dimaksudkan agar penghapusan aturan yang berlalu sebelumnya tidak hanya dengan ucapan belaka, tetapi juga dengan perbuatan nyata. Allah juga berfirman dalam Surah Al-Ahzab (33) ayat 5:

اُدۡعُوۡهُمۡ لِاٰبَآٮِٕهِمۡ هُوَ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰهِ‌

“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah.”

Kemudian, Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab (33) ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِكُمۡ وَلٰـكِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَ ؕ 

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”

Banyak tradisi yang sudah terlanjur berlaku dan mengakar, tidak bisa dihapus begitu saja hanya dengan ucapan, tetapi juga harus dibarengi dengan tindakan nyata orang mengajak kepada perubahan itu. Hal ini tampak jelas dalam tindakan kaum Muslimin saat di Hudaibiyah. Ada kaum Muslimin yang keadaannya seperti yang dilihat dan dituturkan Urwah bin Mas’ud, bahwa setiap kali Rasulullah ﷺ mengeluarkan dahak maka dari itu pasti jatuh di tangan salah seorang di antara mereka, karena dia menadahinya. Dia juga melihat bagaimana mereka saling berebut sisa air wudhu beliau hingga hampir saja mereka bertengkar.

Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba untuk berbaiat, menyatakan kesiapannya untuk mati atau tidak lari. Di tengah-tengah mereka bahkan ada Abu Bakar dan Umar. Tetapi, tatkala beliau memerintahkan agar para sahabat ini bangkit menyembelih kurban, tak seorang pun di antara mereka yang mau melaksanakan perintah beliau.

Tanpa berbicara dengan seorang pun di antara mereka, beliau bertindak sendiri. Melihat beliau menyembelih kurban, mereka langsung bangkit dan mengikuti perbuatan beliau dan bahkan mereka saling berlomba-lomba menyembelih hewan kurban mereka. Dengan peristiwa ini, tampak jelas perbedaan antara pengaruh tindakan dan perkataan untuk menghapus sebuah tatanan yang sudah mapan sekalipun.

Orang-orang munafik menyebarkan isu yang bermacam-macam berkaitan dengan pernikahan ini, dan seperti perkiraan semula, mereka menimbulkan pengaruh yang tidak baik terhadap jiwa kaum Muslimin yang lemah. Terlebih lagi, Zainab adalah istri beliau yang kelima, sedangkan kaum Muslimin tidak diperkenankan menikahi lebih dari empat wanita, dan Zaid sudah dianggap seperti anak sendiri bagi Nabi. Padahal, menikahi janda anak sendiri dianggap perbuatan yang keji. Maka di dalam Surah Al-Ahzab, Allah menurunkan dua topik sekaligus yang tuntas. Dengan begitu, para sahabat menjadi tahu bahwa anak angkat tidak mempunyai pengaruh khusus dalam Islam.

Allah memberi kekuasaan bagi beliau untuk menikahi beberapa orang wanita yang tidak diperkenankan bagi orang lain karena beberapa tujuan tertentu. Kehidupan berumah tangga yang dijalani Rasulullah ﷺ bersama Ummatul Mukminin mencerminkan kehidupan yang terhormat dan harmonis. Derajat mereka setingkat lebih tinggi dalam hal kemuliaan, kepuasan, kesabaran, tawaduk, pengabdian, dan kewajiban memenuhi hak-hak suami. Padahal, hidup beliau tak lekang dari keprihatinan yang tidak akan sanggup dijalani seorang manusia pun. Anas pernah berkata, “aku tidak pernah mengetahui Nabi melihat adonan roti yang lebar lagi tipis hingga saat meninggal dunia dan tidak pula beliau melihat hidangan daging domba sama sekali.”

Aisyah berkata, “Kami benar-benar pernah melihat tiga kali kemunculan hilal selama dua bulan, namun aku tidak pernah menyalakan api tungku di rumah-rumah Rasulullah ﷺ.” Lalu, Urwah bertanya kepada Aisyah, “Kalau begitu, apa yang bisa membuat kalian bertahan hidup?” Aisyah menjawab, “Dua hal, kurma dan air”. Pengabaran lain yang menggambarkan keadaan rumah tangga beliau seperti ini cukup banyak.

Sekalipun dalam keadaan yang serba-kekurangan dan memprihatinkan seperti ini, beliau tidak pernah mencaci dan mengumpat, kecuali sekali saja, sebagai tuntunan yang wajar bagi manusia biasa dan sekaligus sebagai sebab turunnya kaum syariat, lalu Allah menurunkan ayat yang memberikan pilihan kepada mereka, yakni yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab (33) ayat 28-29: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan rasul-Nya serta (kesenangan) negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang paling besar.

BACA JUGA: Rumah Tangga Nabawi (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Di antara bukti kemuliaan dan kehormatan mereka, maka mereka memilih Allah dan rasul-Nya. Tak seorang pun di antara mereka yang berpaling kepada keduniaan. Tidak pula terjadi berbagai kasus seperti yang biasa terjadi di antara para istri yang dimadu, sekalipun mereka banyak, kecuali satu dua kasus yang ringan-ringan saja, dan itu pun masih dalam batas kewajaran sebagai manusia biasa. Kemudian, Allah menegur beliau, hingga mereka tidak mengulanginya lagi, sebagaimana yang disebutkan Allah dengan kirimannya di dalam Surah At-Tahrim (66): 1-5.

Kami merasa tidak perlu mengkaji panjang lebar tentang prinsip poligami. Namun, siapa yang melihat kehidupan penduduk Eropa yang mati-matian menolak prinsip ini, ditambah lagi munculnya berbagai macam penderitaan, kekacauan dan kejahatan yang muncul di sana sebagai akibat dari penolakan ini, maka dia perlu mengkaji kembali, bahwa kehidupan mereka merupakan bukti nyata tentang keadilan prinsip poligami ini. Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berpandangan luas.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response