Historia/Tarikh

Rasulullah Kembali ke Haribaan Ilahi (Bagian Ketiga – Habis)

Foto: Pixabay
70views

Detik-Detik Terakhir

Tibalah detik-detik terakhir dari hidup beliau. Aisyah menarik tubuh beliau ke pangkuannya. Tentang hal ini, dia pernah berkata, “Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku, bahwa Rasulullah meninggal di dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan berada dalam rengkuhan dadaku. Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat wafat.”

Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke dalam sambil memegangi siwak. Saat itu, aku merengkuh tubuh beliau. Aku melihat beliau melirik ke siwak di tangan Abdurrahman. Karena aku tahu beliau sangat suka kepada siwak, maka aku bertanya, “Apakah saya boleh mengambil siwak itu untuk Anda?”

Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Maka, aku menyerahkannya kepada beliau dan menggosokkannya ke mulut beliau. Rupanya gosokanku terlalu keras bagi beliau. Aku bertanya, “Apakah aku harus memelankannya?”

Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala. Maka, aku menggosok dengan pelan-pelan sekali. Di dekat tangan beliau saat itu ada bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangan ke dalam air, lalu mengusapkannya ke wajah. Sambil bersabda,”Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”

BACA JUGA: Rasulullah Kembali ke Haribaan Ilahi (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)

Usai bersiwak, beliau mengangkat tangan atau jari-jari, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibir beliau bergerak-gerak. Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat itu, “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka daripada nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan kekasih yang Mahatinggi. Ya Allah, kekasih yang Mahatinggi.”Kalimat yang terakhir ini diulang hingga tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Mahatinggi. Hal ini terjadi saat pagi sudah terasa panas, pada Senin 12 Rabiul Awwal 11 Hijriyah. Beliau wafat pada usia 63 tahun lebih 4 hari.

Para Sahabat Dilanda Duka

Kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah seperti berubah menjadi muram. Anas menuturkan, “Aku tidak pernah melihat hari yang lebih baik dan lebih terang selain hari saat Rasulullah ﷺ masuk ke tempat kami, dan aku tidak melihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain hari saat Rasulullah ﷺ wafat.” Setelah beliau meninggal ini, Fathimah berkata, “Wahai Ayah, Rabb telah memenuhi doamu. Wahai Ayah, surga firdaus tempat kembalimu. Wahai Ayah, kepada Jibril kami mengabarkan wafatmu.”

Sikap Umar bin Al-Khaththab

Setelah mendengar kabar kematian beliau, Umar hanya berdiri seperti patung. Seperti tidak sadar, dia berkata, “Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah ﷺ meninggal dunia. Sesungguhnya beliau tidak meninggal dunia, tetapi pergi ke hadapan Rabb-nya seperti yang dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi kepada mereka setelah beliau dianggap meninggal dunia. Demi Allah, Rasulullah ﷺ benar-benar akan kembali. Karena itu, tangan dan kaki orang-orang yang beranggapan bahwa beliau meninggal dunia hendaknya dipotong.”

Sikap Abu Bakar

Abu Bakar memacu kuda dari tempat tinggalnya di daratan tinggi Madinah, lalu turun dan masuk masjid tanpa berbicara dengan siapa pun. Dia masuk dan menemui Aisyah lalu mendekati jasad Rasulullah ﷺ yang diselimuti kain berwarna hitam. Dia menyingkap kain itu lalu menutupkannya kembali, memeluk jasad beliau sambil menangis. Kemudian, dia berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan Anda, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada diri Anda. Kalau memang kematian ini sudah ditetapkan bagi Anda, berarti memang Anda telah meninggal dunia.”

Kemudian, Abu Bakar keluar rumah yang saat itu Umar sedang berbicara di hadapan orang-orang. Dia berkata, “Duduklah, wahai Umar!” Umar tidak mau duduk. Orang-orang beralih ke hadapan Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata, “Barang siapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi, barang siapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Mahahidup dan tidak meninggal.”

BACA JUGA:Surah yang Menjadi Pertanda Kematian Rasulullah ﷺ Sudah Dekat

Allah berfirman dalam Surah Ali Imran (3): 144:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْ ۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔا ۗوَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Ibnu Abbas menuturkan, “Demi Allah, mereka seperti tidak tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini hingga saat Abu Bakar membacakannya. Maka, semua orang mempelajari ayat ini. Tidak seorang pun di antara mereka yang mendengarnya melainkan membacanya.”

Ibnu Musayyab menuturkan bahwa Umar berkata, “Demi Allah, setelah mendengar Abu Bakar membacakan ayat tersebut, aku pun menjadi linglung, hingga aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku hingga aku terduduk ke tanah saat mendengarnya. Kini aku sadar bahwa Nabi ﷺ memang sudah meninggal dunia.”

Mengenai Jasad Rasulullah

Sebelum mengurus jasad Nabi, terjadi perbedaan pendapat tentang pengganti beliau. Terjadi dialog dan debat serta sanggahan antara pihak Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Namun, akhirnya mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Hal ini terjadi hingga masuk waktu malam pada hari Senin.

Orang-orang sibuk membuat persiapan untuk mengurus jasa beliau hingga akhir malam mendekati subuh atau malam Selasa. Sementara jasad beliau yang mulia masih tetap membujur di atas tempat tidur dengan diselimuti kain hitam. Pintu rumah ditutup dan hanya boleh dimasuki keluarga beliau.

Pada hari Selasa, para sanak keluarga memandikan jasad beliau tanpa melepaskan kain yang menyelubungi. Adapun yang memandikan adalah Al-Abbas, Ali, Al-Fadhl, dan Qatsam (keduanya anak Al-Abbas), Syaqran (pembantu Rasulullah), Usamah bin Zaid, dan Aus Bin Khaili. Al-Abbas, Al-Fadhl, dan Qatsam bertugas membalik-balikkan jasad, Syaqran mengguyurkan air, Ali membersihkannya, dan Aus mendekap jasad beliau di dadanya.

Kemudian, mereka mengafani jasad beliau dengan tiga lembar kain putih dari bahan katun, tanpa menyertakan pakaian atau pun tutup kepala. Kemudian, mereka saling berbeda pendapat, di mana beliau akan dikubur. Maka, Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidaklah seorang Nabi meninggal dunia melainkan dia dikuburkan di tempat dia meninggal dunia.’” Abu Thalhah menyingkirkan tempat tidur di mana beliau meninggal dunia, lalu menggali liang lahat persis di bawah tempat tidur itu.

BACA JUGA: Rasulullah Kembali ke Haribaan Ilahi (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)

Orang-orang masuk ke dalam bilik secara bergiliran, 10 orang 10 orang untuk menshalati jenazah Rasulullah ﷺ, tanpa seorang pun yang menjadi imam. Giliran pertama kali yang menshalati adalah keluarga beliau, kemudian disusul orang-orang Muhajirin, lalu Anshar. Setelah kaum laki-laki, giliran kaum hawa yang menshalati, kemudian disusul anak-anak.

Semua ini dilaksanakan sehari penuh pada hari Selasa, hingga menginjak malam Rabu. Aisyah berkata, “Kami tidak mengetahui penguburan Rasulullah ﷺ hingga kami mendengar suara sekop di tengah malam Rabu.”[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response