Historia/Tarikh

Kedatangan Para Utusan (Bagian Kelima – Habis)

25views

Kelima belas: Utusan dari Bani Hanifah

Mereka datang pada tahun 9 H. sebanyak 17 orang, yang di antaranya ada Musailamah Al-Kadzdzab yang bernama lengkap Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Hubaib bin Al-Harits dari Bani Hanifah. Mereka singgah di rumah salah seorang Anshar kemudian menemui Rasulullah ﷺ lalu menyatakan masuk Islam.

Ada beberapa riwayat yang berbeda tentang jati diri Musailamah Al-Kadzdzab. Namun, dari beberapa riwayat ini pula dapat disimpulkan bahwa ternyata Musailamah adalah orang yang selalu menampakan kesombongan, kecongkakan, dan ambisi untuk mendapatkan kedudukan. Dia tidak menghadap beliau bersama utusan yang lain. Beliau ingin meluluhkan hatinya dengan perkataan dan perlakuan yang manis. Namun, karena dia sudah dikuasai niat yang buruk tentu saja semua itu tidak banyak artinya.

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Keempat dari Lima Tulisan)

Sebelumnya, Rasulullah ﷺ pernah bermimpi mendapatkan kekayaan duniawi yang melimpah. Tiba-tiba di tangannya ada dua buah gelang yang kebesaran sehingga hal ini sangat mengganggunya. Lalu, beliau dibisiki agar meniup gelang itu. Setelah ditiup, gelang itu pun hilang entah ke mana. Beliau menafsirkan bahwa dua gelang itu adalah dua orang pendusta yang akan muncul sepeninggal beliau.

Dengan sikap yang congkak, Musailamah Al-Kadzdzab pernah berkata, “Jika Muhammad mau memberiku kekuasaan sepeninggalnya, aku akan mengikutinya.”

Beliau menemui Musailamah yang bersama rekan-rekannya, lalu terjadi percakapan panjang lebar. Musailamah berkata, “Kalau memang engkau menghendaki, biarkan antara dirimu dan urusan ini, lalu serahkan kekuasaan ini sepeninggalmu.”

Beliau menjawab, “Jika engkau meminta kekuasaan seperti ini aku tidak akan memberikannya kepadamu. Sekali-kali engkau tidak bisa mencampuri urusan Allah. Jika engkau berpaling, niscaya Allah akan membinasakanmu. Demi Allah, aku melihat dirimu adalah orang yang kulihat dalam mimpiku. Ini adalah Tsabit yang akan mengikutimu dan meninggalkan aku.”

Memang benar apa yang disabdakan Nabi ﷺ.  Setelah pulang ke Yamamah, Musailamah terus memikirkan kedudukan dirinya, sampai akhirnya dia membuat pernyataan untuk menyamai kedudukan Nabi ﷺ.

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Ketiga dari Lima Tulisan)

Dia mengatakan dirinya sebagai nabi yang berhak membuat beberapa keputusan tersendiri, menghalalkan khamar dan zina bagi kaumnya. Tetapi, dia juga tetap mengakui Nabi ﷺ sebagai nabi. Kaumnya terperdaya dan mereka pun mengikuti dan bergabung bersamanya sehingga kedudukan dirinya semakin bertambah populer. Dia mendapat julukan Rahman Yamamah karena kemampuan kedudukan dirinya di tengah mereka. Dia juga menulis sebuah surat yang ditujukan kepada Nabi ﷺ yang berisi: “Aku bersekutu denganmu dalam agama ini. Kami mendapat separuh bagian dan separuhnya lagi bagi kaum Quraisy.”

Beliau mengirimkan balasan, yang di dalamnya tertulis ayat Al-Quran Surah Al-A’raf (7) ayat 128:

اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’”

Ibnu Mas’ud berkata Ibnu Nawwahah dan Ibnu Utsal mendatangi Rasulullah ﷺ sebagai utusan Musailamah. Beliau bertanya kepada mereka berdua “Apakah kalian bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?” Keduanya menjawab “Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasul Allah.” Beliau bersabda, “Aku percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Andaikata aku boleh membunuh seorang utusan, niscaya kalian berdua sudah kubunuh.” Pengakuan Musailamah sebagai nabi ini terjadi pada tahun 10 H. Dia dapat dibunuh pada masa Abu Bakar pada Rabiul Awwal 12 H, di tangan Wahsyi, pembunuh Hamzah.

Selain Musailamah, orang kedua yang membual sebagai nabi adalah Al-Aswad Al-Ansi di Yaman. Dia dapat dibunuh 24 jam sebelum Nabi meninggal dunia. Ada wahyu yang turun kepada beliau mengabarkan hal ini, lalu beliau mengabarkannya kepada para sahabat. Baru setelah itu ada kabar dari Yaman yang diterima Abu Bakar.

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Kedua dari Lima Tulisan)

Keenam belas: Utusan dari Tha’i

Di antara para utusan ini terdapat Zaid Al-Khail. Setelah berbicara panjang lebar dengan Nabi, mereka pun masuk Islam dan keislaman mereka benar-benar menjadi baik. beliau bersabda tentang Zaid, “Tak seorang pun dari bangsa Arab yang namanya disebutkan kepadaku yang, menurut ceritanya, dia adalah orang yang kaya. Namun, setelah tiba di hadapanku, aku tidak melihat kenyataan dirinya seperti yang diceritakan itu, selain dari Zaid Al-Khail. Dia tidak membawa apa pun yang dimilikinya.” Lalu, beliau menamakan dirinya dengan julukan Al-Khair.

Para utusan datang secara bergiliran selama 2 tahun, yaitu tahun 9 dan 10 H. Para penulis sejarah dan peperangan menyebutkan beberapa utusan dari penduduk Yaman, Azad, Bani Sa’ad Huzain dari Qudha’ah, Bani Amir bin Qais, Bani Asad, Bahra’, Khaulan, Maharib, Bani Al-Harits bin Ka’ab, Ghamid, Bani Al-Muntafiq, Salamah, Bani Abs, Muzainah, Murad, Zabid, Kindah, Dzu Marrah, Ghassaan, Bani Ish, dan Nakha’ yang merupakan utusan terakhir, yang datang pada pertengahan Muharram 11 H. Mereka berjumlah 200 orang. Kebanyakan utusan ini datang pada tahun 9 h.

Kedatangan para utusan secara terus-menerus dan bergiliran ini menunjukkan kemajuan dakwah Islam yang sudah bisa diterima secara menyeluruh. Kekuasaan dan pamornya bergema di seluruh pelosok Jazirah Arab. Semua bangsa Arab melihat ke Madinah dengan pandangan hormat sehingga tidak terlihat ada satu penghalang pun untuk tunduk ke kekuasaan di Madinah ini. Madinah sudah berubah menjadi ibukota Jazirah Arab. Hal ini tidak bisa dipungkiri.

Hanya saja, kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam telah tertanam kuat di dalam sanubari mereka sebab tidak sedikit penduduk di daerah pelosok dan pedalaman yang masuk Islam hanya karena mengekor para pemimpinnya. Padahal, hati mereka belum bersih dari niat untuk mengadakan persekongkolan dan ajaran Islam pun belum merasuk ke dalam hati mereka. Al-Quran telah menggambarkan sebagian di antara mereka di dalam Surah At-Taubah (9) ayat 97-98:

اَلْاَعْرَابُ اَشَدُّ كُفْرًا وَّنِفَاقًا وَّاَجْدَرُ اَلَّا يَعْلَمُوْا حُدُوْدَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى رَسُوْلِهٖ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ (97) وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يَّتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَّيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَاۤىِٕرَ ۗعَلَيْهِمْ دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِ ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (98)

“Orang-orang Arab Badui lebih kuat kekufuran dan kemunafikannya, serta sangat wajar tidak mengetahui batas-batas (ketentuan) yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (97) Di antara orang-orang Arab Badui ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan menunggu mara bahaya menimpamu. Merekalah yang pasti akan ditimpa giliran (azab) yang buruk. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ (98)

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Pertama dari Lima Tulisan)

Namun, Al-Quran juga memuji sebagian yang lain sebagaimana tercantum dalam Surah  At-Taubah (9) ayat 99:

وَمِنَ الْاَعْرَابِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ اَلَآ اِنَّهَا قُرْبَةٌ لَّهُمْ ۗ سَيُدْخِلُهُمُ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Dia memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai (sarana) mendekatkan diri kepada Allah dan (sarana untuk memperoleh) doa-doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya (infak) itu (suatu sarana) bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Adapun orang-orang yang relatif sudah beradab, seperti yang berada di Mekkah, Madinah, Tsaqif, serta mayoritas penduduk Yaman dan Bahrain, keislaman mereka benar-benar kuat dan mereka menjadi pemuka sahabat dan kaum Muslimin.

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response