Historia/Tarikh

Kedatangan Para Utusan (Bagian Ketiga dari Lima Tulisan)

25views

Kedelapan: Utusan dari Tsaqif

Mereka datang pada Ramadan 9 H setelah Rasulullah ﷺ pulang dari Tabuk. Latar belakang keislaman mereka adalah karena pemimpin mereka, Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqifi, membuntuti Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulang dari Perang Thaif pada bulan Dzulhijjah 8 H. Sebelum tiba di Madinah, ia menemui beliau dan masuk Islam. Lalu, dia kembali lagi ke tengah kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam.

Urwah merasa yakin bahwa mereka akan memenuhi ajakannya karena sebelumnya dia merupakan pemimpin yang disegani dan ditaati. Tetapi, ketika dia mengajak mereka masuk agama Islam, mereka justru melancarkan serangan anak panah dari segala penjuru hingga meninggal dunia.

Setelah Urwah meninggal, mereka merasa dicekam ketakutan. Setelah berjalan beberapa bulan, mereka bermusyawarah dan menyadari bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi orang orang Arab di sekitarnya yang telah masuk Islam. Mereka sepakat untuk mengirim seorang utusan kepada Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Kedua dari Lima Tulisan)

Mereka membujuk Abdu Yalail dan menawarkan kepadanya untuk diangkat sebagai utusan. Namun, dia menolaknya dengan alasan khawatir akan menjadi sasaran balas dendam seperti yang mereka lakukan terhadap Urwah. Dia berkata, “Aku tidak sudi melakukannya, kecuali jika kalian mengutusku bersama beberapa orang.” Maka, mereka menunjuk dua orang dari sekutu mereka dan tiga orang dari Bani Malik sehingga jumlah mereka menjadi enam  orang karena ditambah Utsman bin Abul Ash Ats- Tsaqifi, orang yang paling muda di antara mereka.

Setiba di Madinah, mendirikan tenda bundar di dekat masjid agar mereka bisa mencuri dengan mengintip kaum Muslimin mendirikan shalat. Mereka ingin merundingkan satu dua hal dengan Nabi, saat beliau menyeru mereka masuk Islam. Karena itu, pemimpin mereka mengajukan permintaan agar beliau menulis sebuah perjanjian antara beliau dan Bani Tsaqif , yang isinya:

Satu: Mereka diperkenankan melakukan zina;

Dua: Mereka diperkenankan minum khamar;

Tiga: Mereka diperkenankan melakukan riba;

Empat: Berhala mereka, Lata, dibiarkan saja;

Lima: Mereka dibebaskan dari kewajiban shalat;

Enam: Mereka tidak disuruh merombakan patung-patung mereka.

Tidak satu pun permintaan mereka yang dipenuhi Rasulullah ﷺ. Mereka dibiarkan berdiskusi sendiri dan tidak ada jalan lain, kecuali tunduk kepada beliau. Akhirnya, mereka masuk Islam, tetapi mereka mengajukan syarat agar beliau menunjuk orang lain untuk merobohkan Lata, bukan dengan tangan orang-orang Tsaqif sendiri. Beliau menerima syarat ini, lalu beliau menulis surat yang ditunjukkan kepada kaum Tsaqif dan menunjuk Utsman bin Abul Ash Ats-Tsaqifi sebagai pemimpin mereka karena dialah yang paling semangat memahami Islam; mempelajari agama dan Al-Quran.

Setiap hari para urusan Bani Tsaqif ini menemui Rasulullah ﷺ pada pagi hari dan meninggalkan Utsman bin Abul Ash di tenda mereka. Jika mereka kembali karena hari sudah siang, giliran Utsman bin Abul Ash menemui beliau dan meminta untuk dibacakan Al-Quran dan banyak pertanyaan tentang agama. Dia juga mendatangi Abu Bakar untuk tujuan yang sama.

BACA JUGA: Kedatangan Para Utusan (Bagian Pertama dari Lima Tulisan)

Utsman juga merupakan orang yang banyak menjadi sebab datangnya berita bagi kaumnya pada masa-masa merebaknya kemurtadan. Saat Bani Tsaqif menyatakan murtad, dia berkata kepada mereka, “Wahai penduduk Tsaqif, kalian adalah orang yang terakhir masuk Islam maka janganlah kalian menjadi orang-orang yang pertama murtad.” Akhirnya, mereka tidak jadi murtad dan tetap teguh memeluk Islam.

Para utusan ini kembali lagi ke kaumnya dan mereka menyembunyikan hakikat yang sebenarnya. Para utusan ini menakut-nakuti kaumnya dengan pertempuran dan peperangan. Wajah mereka tampak gelisah dan sendu. Rasulullah ﷺ meminta agar mereka masuk Islam, meninggalkan zina, tidak minum khamar, dan lain-lainnya. Jika tidak, beliau akan menyerang mereka.

Rupanya mereka masih dikuasai kebanggaan berdasarkan pemikiran jahiliyah. Dua atau tiga hari mereka bersiap-siap untuk berperang. Kemudian, Allah menyusupkan ke dalam hati mereka. Karena itu, mereka berkata kepada para utusan itu, “Temuilah dia lagi dan berikan apa yang dimintanya.” Ketika itulah, para utusan tersebut mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan menunjukkan perjanjian yang telah mereka sepakati. Akhirnya, mereka semua masuk Islam.

Rasulullah ﷺ mengutus beberapa orang untuk merobohkan berhala Lata, yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid. Setibanya di sana, Al-Mughirah bin Syu’bah mengambil kapak besar yang biasanya untuk menebang pohon dan berkata kepada rekan-rekannya, “Demi Allah, aku benar-benar akan membuat kalian tertawa karena perbuatan orang-orang Tsaqif.” Kemudian, dia menemukan berhala latar dengan kapak tersebut hingga roboh.

Penduduk Thaif menonton dengan hati yang bergetar. Mereka berkata, “Semoga Allah mengutuk Al-Mughirah dia tentu akan dicekik penjaga berhala.” Al-Mughirah melompat ke arah mereka, lalu berkata, “Semoga Allah memburukkan rupa kalian. Berhala ini hanyalah tumpukan batu dan lumpur yang hina.”

Kemudian, dia menghancurkan pintu tempat penyimpanan barang. Ia naik ke atas pagarnya dan diikuti oleh rekan-rekannya. Mereka langsung merobohkan pagar-pagar itu hingga rata dengan tanah. Bahkan, mereka juga menggali semua bangunan yang ada hingga ke fondasinya dan mengeluarkan perhiasan dan kain yang disimpan di tempat penyimpanannya. Orang-orang hanya bisa diam terpaku.

Setelah itu, Al Khalid bin Al-Walid dan anak-anaknya kembali ke Madinah dan menyenangkan semua barang yang diambil dari berhala kepada Rasulullah ﷺ. Pada hari itu juga beliau membagi-bagikannya sambil memuji Allah.

BACA JUGA: Orang-Orang yang Beriman Selain Penduduk Mekkah (Bagian Kedua-Habis)

Kesembilan: Surat dari Para Raja Yaman

Setelah Nabi pulang dari Perang Tabuk, beliau menerima surat dari para Raja Himyar. Mereka adalah Al-Harits bin Abdi Kulal, An-Nu’man bin Qail Dzu Ru’ain, Hamdan, dan Ma’afir. Utusan mereka yang bertugas menemui Rasulullah ﷺ adalah Malik bin Murrah Ar-Rahawi. Mereka mengutus Malik kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka dan keputusan meninggalkan syirik dan para pendukungnya.

Beliau menulis surat balasan kepada mereka, berisi penjelasan tentang hak-hak yang diperoleh kaum Muslimin dan kewajiban-kewajiban mereka. Adapun orang-orang yang mengikat perjanjian dari kalangan non-Muslim mendapat perlindungan Allah dan rasulnya jika mereka bersedia membayar jizyah. Beliau juga mengutus beberapa orang sahabat ke sana yang dipimpin Mu’adz bin Jabal.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response