Ibrah

Larangan Menjadikan Orang Yahudi dan Nasrani sebagai Wali (Kedua – Habis)

Foto: Pixabay
22views

Dalam bagian pertama, telah dijelaskan alasan mengapa kaum Muslimin dilarang untuk menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Dalam lanjutan, Surah Al-Ma’idah (5) ayat 51, Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Siapa di antara kalian mengangkat mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

BACA JUGA: Penjelasan tentang Sifat-Sifat Orang Yahudi

Menjadikan mereka wali termasuk dosa besar sehingga pelakunya diancam termasuk golongan mereka. Ancaman semisal ini sebagaimana halnya sabda Rasulullah ﷺ, “Siapa berbuat curang maka tidak termasuk golongan kami.” Bahkan, lebih dari itu, loyalitas kepada mereka dapat mengakibatkan kekufuran jika pelakunya menolong mereka dalam rangka ingin meninggalkan agama mereka dan menghancurkan Islam.

Adapun orang kafir terdiri dari dua jenis, yakni:

Pertama, yang memusuhi kaum Muslimin. Maka, kita dilarang bekerja sama dengan mereka, khususnya dalam hal yang menyangkut urusan kaum Muslimin.

Kedua, yang tidak memusuhi kaum Muslimin. Maka, kita tidak dilarang untuk berbuat baik kepada mereka. Allah berfirman dalam Surah Al-Mumtahanah (60) ayat 8:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

 

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari ada negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Kita juga tidak dilarang untuk bekerja sama dengan mereka dalam urusan pribadi, seperti urusan pekerjaan dan semisalnya Namun, kita tidak boleh bekerja sama dengan mereka dalam urusan yang menyangkut kaum Muslimin secara umum.

BACA JUGA: Sebutan Bagi Bangsa Yahudi yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah

Kalangan ahli tafsir menyebutkan kisah tentang Umar bin Al-Khatthab memanggil Abu Musa Al-Asy’ari yang memiliki seorang sekretaris yang piawai dalam membuat laporan. Umar meminta Abu Musa untuk mendatangkan sekretarisnya untuk menghadapnya di masjid. Lalu, Abu Musa menjelaskan bahwa ia tidak bisa mendatangkannya ke masjid karena sekretaris tersebut seorang Nasrani. Maka, Umar pun menegur Abu Musa karena dia mengangkat seorang Nasrani untuk mengurusi kaum Muslimin.

Allah juga tidak melarang kita untuk mencintai mereka dengan cinta yang sifatnya alami (thabi’i). Misalnya, seseorang mencintai keluarganya yang masih kafir. Begitu pula dibolehkan mencintai wanita Ahli Kitab karena cinta yang alami tersebut. Namun, hal itu tetap harus ada batasannya. Selama kita bisa mengontrolnya dan tidak melampaui batasan tersebut maka tidak masalah.

Adapun mencintai keluarga yang kafir, maka hal ini sebagaimana Rasulullah ﷺ mencintai paman beliau, Abu Thalib. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 56:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Cinta yang bersifat alami itu tidak dilarang selama tidak mencapai level muwaddah, yaitu saling timbal balik dalam berkasih sayang, yang itu terkadang mengantarkan pada tolong-menolong yang memudaratkan kaum Muslimin. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Surah Al-Mujadalah (58) ayat 22:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗوَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang darinya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Para ulama menjelaskan bahwa cinta adalah awal dari loyalitas. Karena itulah Nabi ﷺ melarang kita untuk menyerupai atau ber-tasyabbuh dengan mereka. Tasyabbuh itu menyebabkan kecintaan yang melampaui batas dan menimbulkan loyalitas kepada mereka yang pada akhirnya memudaratkan kaum Muslimin. Wallahu ‘alam.

BACA JUGA: Kisah Orang-Orang Yahudi dan Hari Sabat

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, berkata, “Asal dari loyalitas adalah cinta, sebagaimana asal dari permusuhan adalah benci. Saling mencintai mengakibatkan saling mendekati dan bersepakat. Sementara saling membenci menyebabkan saling menjauhi dan berselisih.”

Kembali ke pembahasan ayat di atas, adapun berbuat baik kepada orang kafir maka tidak masalah, terlebih apabila konteksnya adalah dalam rangka dakwah. Yang penting kita menjaga hati untuk tidak terjatuh pada loyalitas kepada mereka, atau menjadikan mereka sebagai teman sangat akrab, yang bisa memudaratkan kaum Muslimin.

Muwalat (loyalitas dengan menjadikan mereka sebagai wali) itu ada dua tingkatan, yakni:

Pertama, pada derajat kekufuran, yaitu membantu mereka dalam rangka melawan Islam. Yaitu, kita membantu mereka agar kaum Muslimin terpuruk dan agar agama mereka menjadi tertinggikan. Muwalat pada tingkatan ini termasuk kekufuran.

Kedua, hanya sekadar membantu dan itu menimbulkan mudarat. Yaitu, membantu mereka dengan tanpa niatan untuk menjatuhkan Islam dan meninggikan agama mereka, tetapi itu memudaratkan kaum Muslimin. Ini adalah dosa besar yang mendekati kekufuran.[]

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response