Kisah

Kisah Perang Bani Nadhir

Foto: Unsplash
47views

Orang-orang Yahudi sangat benci terhadap Islam dan kaum Muslimin. Hanya saja mereka bukan termasuk orang-orang yang bisa berperang dan mengangkat senjata. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang suka berkhianat dan bersekongkol. Mereka menampakkan kedengkian dan permusuhan. Untuk itu, mereka melakukan berbagai cara untuk mengganggu kaum Muslimin tanpa harus berperang dengan mereka. Meskipun sudah ada perjanjian di antara mereka dan kaum Muslimin, dan sebelumnya telah terjadi perang Bani Qainuqa dan terbunuhnya Ka’ab bin Al-Asyraf, mereka selalu dicekam ketakutan dan lebih memilih diam.

Namun, setelah Perang Uhud, mereka mulai lancang. Mereka kini berani menampakkan permusuhan dan pengkhianatan, aktif menjalin hubungan dengan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik Mekkah secara diam-diam, serta berbuat apa pun yang diperkirakan menguntungkan mereka dalam melancarkan perlawanan terhadap kaum Muslimin. Nabi ﷺ masih bersabar menghadapi ulah mereka ini, yang justru semakin bertambah berani setelah tragedi B’ir Ma’unah. Bahkan, mereka melakukan konspirasi yang tujuannya untuk membunuh beliau.

BACA JUGA: Kisah Perang Uhud

Konspirasi tersebut terjadi saat beliau pergi mendatangi mereka bersama beberapa sahabat agar mereka mau membantu membayar tebusan bagi dua orang dari Bani Amir yang dibunuh oleh Amr bin Umayyah Adh-Dhamri di tengah perjalanannya setelah tragedi B’ir Ma’unah ke Madinah. Cara pembayaran tebusan ini sesuai dengan butir perjanjian yang sudah disepakati bersama. Orang-orang Yahudi Bani Nadhir mengatakan, “Kami akan membantu, wahai Abul Qosim. Sekarang duduklah di situ, biar kami menyiapkan kebutuhanmu.”

Beliau duduk di pinggir tembok salah satu rumah milik mereka, menunggu janji yang hendak mereka penuhi. Di samping beliau ada Abu Bakar, Umar, Ali, dan beberapa sahabat yang lain. Orang-orang Yahudi saling kasak kusuk dan berunding. Setan membisikkan kemalangan yang telah ditetapkan bagi orang-orang Yahudi tersebut. Mereka sepakat untuk membunuh Rasulullah ﷺ di tempat itu. Mereka berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang berani mengambil batu penggiling ini, lalu naik ke atas rumah dan menjatuhkannya ke kepala Muhammad hingga remuk?”

“Aku”, jawab Amr bin Jahsyi, orang yang malang di antara mereka.

“Jangan lakukan itu!” kata Salam bin Misykan. “Demi Allah, Muhammad pasti akan diberitahu tentang apa yang hendak kalian lakukan, di samping hal ini merupakan pelanggaran  perjanjian antara kita dan dia,” tambahnya. Namun, mereka tetap bersikukuh untuk melaksanakan rencana itu.”

Jibril turun dari sisi Allah kepada Rasulullah ﷺ memberitahukan rencana mereka. Seketika itu pula beliau bangkit dari duduknya dan pulang ke Madinah tanpa memberitahukan para sahabat yang ikut bersama beliau. Setelah menunggu cukup lama, mereka menyusul pulang ke Madinah dan berkata kepada beliau, “Tiba-tiba saja engkau pergi dan kami tidak merasa ada sesuatu pada dirimu.” Lalu, beliau memberitahukan rencana jahat orang-orang Yahudi tersebut.

Rasulullah ﷺ langsung mengutus Muhammad bin Maslamah untuk menemui Bani Nadhir dan mengatakan kepada mereka, “Tinggalkanlah Madinah dan jangan hidup bertetangga denganku. Kuberi tempo 10 hari. Siapa yang masih kutemui setelah itu, maka akan kupenggal lehernya.”

Tidak ada pilihan bagi orang-orang Yahudi Bani Nadhir selain pergi meninggalkan Madinah. Mereka sudah menyiapkan segala-galanya untuk meninggalkan Madinah. Namun, pemimpin orang-orang munafik tersebut, Abdullah bin Ubay bin salul, mengirim utusan untuk menemui mereka. Pesannya adalah: “Kuatkan hati kalian, bertahanlah dan jangan tinggalkan rumah kalian karena aku mempunyai 2.000 orang yang siap bergabung bersama kalian di benteng kalian. Mereka siap mati demi membela kalian. Orang-orang Quraizhah dan sekutu kalian dari Ghathafan tentu juga akan mengulurkan bantuan kepada kalian.”

Kepercayaan diri orang-orang Yahudi Bani Nadhir bangkit lagi karena janji dukungan tersebut. Mreka sepakat untuk melakukan perlawanan. Pemimpin mereka, Huyai bin Akhthab sangat bersemangat dalam menanggapi perkataan Abdullah bin Ubay itu. Dia mengirim utusan kepada Nabi ﷺ untuk mengatakan, “Kami tidak akan keluar dari tempat tinggal kami. Berbuatlah menurut kehendakmu!”

BACA JUGA: Kisah tentang Tragedi B’ir Ma’unah

Pernyataan sikap tersebut tentu saja menjadi pekerjaan baru bagi kaum Muslimin. Kenekatan orang-orang Yahudi Bani Nadhir untuk melakukan perlawanan pada saat-saat yang sangat rawan dalam sejarah kaum Muslimin seperti ini bisa membawa akibat yang kurang menguntungkan. Anda telah mengetahui bagaimana sikap bangsa Arab terhadap mereka. Di samping itu, Bani Nadhir juga mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan dan tidak mudah bagi mereka untuk menyerah begitu saja. Dengan pertimbangan seperti ini, sangat riskan jika diharuskan berperang.

Hanya saja, situasi setelah dan sebelum tragedi B’ir Ma’unah mendorong kaum Muslimin untuk bersikap lebih waspada terhadap kejahatan penghianatan yang dilakukan individu atau golongan tertentu. Namun, sekaligus menambah dendam mereka untuk melibas siapa pun yang melakukan penghianatan. Maka, tidak heran jika kaum Muslimin sepakat untuk menyerang Bani Nadhir, setelah diketahui mereka hendak membunuh Nabi ﷺ, sekalipun niat mereka itu gagal. Setelah Rasulullah ﷺ mengetahui reaksi Huyai bin Akhthab, beliau bertakbir bersama para sahabat, lalu bangkit untuk menyerang orang-orang Yahudi Bani Nadhir.

Setelah menunjuk Ibnu Ummi Makhtum sebagai wakil beliau di Madinah, beliau berangkat ke perkampungan Bani Nadhir. Yang membawa bendera adalah Ali bin Abu Thalib Setelah tiba di sana, beliau mengambil keputusan untuk mengepung Bani Nadhir.

Semua penduduk Bani Nadhir masuk ke dalam benteng. Mereka berada di sana sambil melancarkan serangan dengan anak panah dan batu. Kebun kurma dan ladang-ladang mereka cukup membantu. Karena itu, beliau memerintahkan untuk menebang pohon-pohon tersebut dan membakarnya. Sehubungan dengan peristiwa pembakaran ini, Allah menurunkan ayat Al-Quran, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Hasyr (59) ayat 5:

مَا قَطَعْتُمْ مِّنْ لِّيْنَةٍ اَوْ تَرَكْتُمُوْهَا قَاۤىِٕمَةً عَلٰٓى اُصُوْلِهَا فَبِاِذْنِ اللّٰهِ وَلِيُخْزِيَ الْفٰسِقِيْنَ

“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah.”

Pengepungan tidak berlangsung lama, hanya enam atau lima hari, menurut pendapat yang lain, hingga Allah menyusupkan ketakutan ke dalam hati Bani Nadhir. Setelah itu, mereka sudah siap-siap menyerah dan meletakkan senjata. Mereka mengirim utusan menemui Rasulullah ﷺ yang mengatakan, “Kami siap meninggalkan Madinah”.

Rasulullah ﷺ memberi kesempatan kepada mereka untuk meninggalkan Madinah dengan seluruh keluarga dan mereka juga boleh membawa harta benda sebanyak yang bisa dibawa seekor unta, sedangkan senjata tidak boleh dibawa. Mereka turun dari benteng lalu merobohkan rumah mereka untuk diambil pintu dan jendelanya. Bahkan, di antara mereka ada yang membawa tiang dan penyangga atap rumah. Mereka membawa serta anak-anak dan para wanita dengan 600 ekor unta. Kebanyakan di antara mereka, terutama para tokoh dan pemimpin Bani Nadhir, seperti Huyai bin Akhtab dan Salam bin Al-Huqaiq pergi ke Khaibar. Sebagian yang lain pergi ke Syam. Hanya ada dua orang di antara mereka yang masuk Islam, yaitu Yamin bin Amr dan Abu Sa’ad bin Wahb sehingga mereka berdua tetap bisa memiliki harta bendanya.

Rasulullah ﷺ merampas semua senjata milik Bani Nadhir, menguasai tanah, tempat tinggal, dan harta benda mereka yang tersisa. Dari senjata-senjata itu, terkumpul 50 baju besi, 50 topi baja, dan 340 bilah pedang. Semua harta benda dan tempat tinggal Bani Nadhir menjadi milik Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberikannya kepada siapa pun yang dikehendaki dan bukan hanya seperlimanya saja.

Allah telah menetapkannya sebagai harta rampasan bagi beliau sehingga siapa pun tidak ada yang berani mengusiknya. Lalu, beliau membaginya terutama kepada orang-orang Muhajirin yang awal; dan juga memberikan sebagian di antaranya kepada Abu Dujanah dan Sahl bin Hunaif dari Anshar karena keduanya sangat miskin. Beliau mengambil sebagian dari harta benda itu untuk nafkah keluarga beliau selama satu tahun. Sementara, senjata dan perangkat perang sebagai persediaan perang di jalan Allah.

BACA JUGA: Kisah Hijrah Rasulullah: Memasuki Kota Madinah

Perang Bani Nadhir ini terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 4 Hijriyah, bertepatan dengan bulan Agustus 625 Masehi. Allah menurunkan Surah Al-Hasyr (surah ke-59) secara keseluruhan tentang peperangan ini. Di dalamnya digambarkan pengusiran terhadap orang-orang Yahudi, pelecehan sikap orang-orang munafik, penjelasan hukum-hukum harta rampasan, pujian terhadap Muhajirin dan Anshar, penjelasan tentang diperbolehkannya menebang dan membakar pohon di wilayah musuh karena pertimbangan strategi perang dan hal ini tidak dianggap sebagai perbuatan membuat kerusakan di muka bumi. Di dalamnya juga ada nasihat bagi orang-orang Mukmin agar bertakwa dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhirat, lalu diakhiri dengan pujian terhadap Allah, penjelasan asma dan sifat-sifat-Nya. Ibnu Abbas pernah berkata tentang Surah Al-Hasyr, “Ini adalah Surah An-Nadhir”.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response