Tafsir

Penjelasan tentang Nabi Isa Membenarkan Kitab Taurat

Foto: Unsplash
33views

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 46:

وَقَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ ۖوَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ فِيْهِ هُدًى وَّنُوْرٌۙ وَّمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَۗ

“Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam, yang membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”

Firman Allah:

وَقَفَّيْنَا عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Dan Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam”

Pada ayat sebelumnya, Allah menyebutkan tentang nabi-nabi Bani Israil yang berhukum dengan Taurat, sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Ma’idah (5) ayat 44:

اِنَّآ اَنْزَلْنَا التَّوْرٰىةَ فِيْهَا هُدًى وَّنُوْرٌۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah.”

BACA JUGA:Penjelasan Tentang Adanya Kitab Taurat

Yang dimaksud dengan “mereka” pada kata اٰثَارِهِمْ “jejak mereka” adalah nabi-nabi Bani Israil yang berhukum dengan Taurat.

Thahir bin Asyur menjelaskan bahwa kata قَفَّيْنَا berasal dari kata al-qafa yang bermakna adz-dzahru yaitu punggung belakang. Jadi, Nabi Isa seolah mengikuti para nabi dari belakang. Ini adalah isyarat bahwa Nabi Isa adalah nabi terakhir dari Bani Israil. Karena, kalau bukan yang terakhir, tidak hanya dikatakan bahwa beliau mengikuti nabi-nabi sebelumnya melainkan juga akan ditambahkan dengan diikuti oleh nabi-nabi setelahnya. Setelah Nabi Isa, ada Nabi Muhammad ﷺ tetapi beliau berasal dari Arab dan bukan dari Bani Israil.

Dalam ayat ini, Allah menisbahkan Nabi Isa kepada ibunya karena dua sebab:

Pertama, Nabi Isa tidak memiliki ayah;

Kedua, untuk membantah kalangan Yahudi yang menuduhnya sebagai anak zina.

Jika terjadi pezinaan, lalu lahir seorang anak, dalam hal ini terdapat dua kondisi:

  1. Jika wanita yang dizinahi ternyata memiliki suami, sang anak dinisbahkan kepada sang suami bukan kepada bapak biologisnya. Karena Nabi ﷺ bersabda, “Anak itu milik suami wanita, adapun lelaki pezina hanya mendapat batu (kerugian).”

Namun, hal ini tidak berlaku jika suami wanita tersebut menolak bahwa anak yang dilahirkan sebagai anaknya. Jika ternyata sang istri (yang telah berzina dengan laki-laki lain tersebut) bersikeras bahwa itu adalah anak sang suami, lalu mereka berdua melakukan proses li’an/mula’anah (saling melaknat), maka mereka berdua harus dipisah, sementara anak yang lahir tidak dinisbahkan kepada sang suami. Adapun jika tidak terjadi proses mula’anah maka anak yang lahir dinisbahkan kepada suami.

  1. Jika wanita yang berzina tidak memiliki suami, lalu lelaki pezina mengklaim bahwa anak yang dilahirkan adalah anaknya. Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama:
  2. Anak boleh dinisbahkan kepada bapak zinanya jika sang ayah mengklaimnya. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Basri, Sulaiman bin Yasar, Muhammad bin Sirin, Ibnu Taimiyyah, dan juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Utsaimin.
  3. Tidak boleh dinisbahkan kepada bapak zinanya dan hanya dinisbahkan kepada ibunya ini adalah pendapat mayoritas ulama.

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Nabi Isa

Firman Allah:

مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ ۖوَاٰتَيْنٰهُ الْاِنْجِيْلَ فِيْهِ هُدًى وَّنُوْرٌۙ وَّمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَۗ

“(Isa) membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) dan membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”

Secara gramatikal bahasa Arab, kata مُصَدِّقًا yang pertama di-i’rab sebagai hal dari Nabi Isa, yang artinya Nabi Isa membenarkan Taurat, sedangkan, مُصَدِّقًا kedua maka di-i’rab sebagai hal dari kitab Injil, yang artinya kitab Injil tersebut membenarkan Taurat. Pembenaran Nabi Isa terhadap kitab Taurat adalah mempraktikkan hukum-hukum Taurat. Sementara pembenaran  Injil terhadap Taurat adalah dengan membenarkan hukum-hukumnya. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Thahir bin Asyur.

Namun, pembenaran kitab Injil terhadap Taurat bukan berarti kitab Injil sama persis dengan Kitab Taurat. Injil me-mansukh (menganulir) sebagian hukum Taurat. Karena itu, Allah mengisahkan perkataan Nabi Isa sebagaimana dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 50:

وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ

“… Dan agar aku menghalalkan bagi kalian sebagian yang telah diharamkan untuk kalian….”

Inilah di antara sebab kalangan Yahudi tidak suka dengan Nabi Isa. Nabi-nabi dari Bani Israil sebelumnya tidak mengubah isi Taurat sampai datangnya Nabi Isa, yang Allah utus dengan me-mansukh sebagian hukum Taurat.[]

 

SUMBER: TASIR AT-TAYSIR SURAH AL-MA’IDAH, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response