Ibrah

Kisah Umair bin Wahb Al-Jumahi Memeluk Islam

Foto: Unsplash
31views

Salah satu akibat kekalahan yang diderita orang-orang musyrik dalam Perang Badar adalah mereka semakin dibakar kebencian terhadap Nabi ﷺ dan menjadikan Mekkah ketel mendidih  Tidak heran jika kemudian para pemukanya bersekongkol untuk menghabisi orang-orang yang menjadi sumber malapetaka, perpecahan, kehancuran, dan kehinaan mereka yaitu Nabi ﷺ.

Tidak seberapa lama sesudah Perang Badar, Umair bin Wahb Al-Jumahi duduk-duduk di Hijr bersama Shafwan bin Umayyah. Umair adalah salah seorang setan Quraisy yang dulu sering menyiksa Nabi dan para sahabat ketika masih di Mekkah. Anaknya, Wahb bin Umair menjadi tawanan Perang Badar. Saat duduk itulah Umair menyebut orang-orang yang menjadi korban di Perang Badar dan mereka yang dimasukkan ke dalam sumur.

BACA JUGA: Kisah Umar bin Al-Khaththab Memeluk Islam

Shafwan berkata menghibur, “Demi Allah, pasti akan datang kehidupan yang lebih baik setelah kematian mereka.” Umair berkata, “Demi Allah, engkau benar. Demi Allah, kalau bukan karena aku masih memiliki utang yang harus aku lunasi, dan kalau tidak karena keluarga yang kutakutkan akan musnah setelah kematianku, niscaya saat ini pun aku akan menunggang unta, lalu menemui Muhammad dan membunuhnya. Apalagi sebelum ini sudah ada ganjalan terhadap mereka karena anakku menjadi tawanan di tangan mereka.”

Shafwan mengobarkan semangat Umair dan berkata, “Aku akan menanggung utang-utangmu. Aku akan melunasinya, dan keluargamu adalah keluargaku juga. Aku akan menjaga selama mereka masih hidup. Aku sama sekali tidak keberatan melindungi mereka.” Umair berkata, “Kalau begitu rahasiakan kesepakatan kita ini.” Shafwan menjawab, “Aku akan melakukannya.”

Umair meminta pedangnya lalu mengasahnya hingga tajam dan mengilap. Kemudian, dia berangkat hingga tiba di Madinah. Umar Bin Khaththab yang waktu itu sedang membicarakan kemuliaan yang dikaruniakan Allah di Perang Badar bersama beberapa orang Muslim melihat kehadirannya di ambang pintu masjid sambil mendorongkan untanya. Umar berkata, “Anjing musuh Allah ini adalah Umair, yang datang hanya dengan niat jahat.”

Umar segera menemui Nabi ﷺ dan mengabarkan Kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, itu adalah musuh Allah Umair. Ia datang sambil menyandang pedangnya.”

“Suruh dia masuk ke sini,” sabda beliau.

BACA JUGA: Dampak Masuk Islamnya Umar bin Al-Khaththab terhadap Kaum Musyrikin

Umar berkata kepada beberapa orang Anshar, “Masuklah ke rumah Rasulullah, duduklah di dekat beliau, dan waspadailah orang yang buruk itu bisa jadi dia menyerang beliau karena beliau tidak aman dari gangguannya.”

Ketika Umair sudah masuk dan beliau melihat kehadirannya, Umar memegang tali pedang Umair di lehernya. Beliau bersabda, “Biarkan saja dia, wahai Umar!”

Umair mendekat ke arah beliau dan berkata, “Selamat untuk kalian pada pagi ini!”

Nabi ﷺ bersabda, “Allah telah memuliakan kami dengan ucapan selamat yang lebih baik daripada ucapan selamatmu itu, wahai Umair, yaitu ucapan selamat para penghuni surga.” Lalu, beliau bertanya, “Apa maksud kedatanganmu, wahai Umair?”

Umair menjawab, “Aku datang untuk urusan tawanan di tangan kalian. Berbuat baiklah terhadap dirinya!”

“Lalu, untuk apa pedang di lehermu itu?” tanya beliau.

Ia berkata, “Semoga Allah memburukkan pedang-pedang yang ada. Apakah pedang-pedang itu masih berguna bagi kami?”

“Jujurlah kepadaku! Apa maksud kedatanganmu?” tanya Rasulullah ﷺ.

“Aku hanya datang untuk itu,” jawab Umair.

Beliau bersabda, “Bukankah engkau pernah duduk-duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijr, lalu kalian berdua menyebut-nyebut orang-orang Quraisy yang dimasukkan ke dalam sumur, kemudian engkau berkata, ‘Kalau tidak karena aku masih ada utang yang harus kulunasi dan kalau tidak karena keluarga yang aku takutkan akan musnah setelah kematianku, niscaya saat ini pun aku akan menunggang unta, akan kutemui Muhammad dan kubunuh dia?’” Bukankah Shafwan hendak menanggung utang-utangmu dan keluargamu agar engkau membunuhku? Demi Allah, mustahil engkau akan bisa melaksanakannya.”

Umair berkata, “Aku bersaksi bahwa memang engkau adalah Rasul Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami selalu mendustakan kabar dari langit dan wahyu yang turun kepadamu yang engkau sampaikan kepada kami. Padahal, yang tahu masalah ini hanyalah aku dan Shafwan. Demi Allah, kini aku benar-benar tahu bahwa apa yang datang kepadamu adalah dari Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan diriku kepada Islam dan menuntun diriku ke jalan ini.”

BACA JUGA: Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib Memeluk Islam 

Setelah itu, Umair mengucapkan syahadat dengan sebenarnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ajarkanlah masalah agama kepada saudara kalian ini. Bacakanlah Al-Quran dan bebaskan anaknya.”

Sementara itu, Shafwan yang berada di Mekkah berkata kepada orang-orang di sana, “Bergembiralah kalian jika nanti mendengar suatu peristiwa yang bisa membuat kalian melupakan peristiwa Badar.” Dia pun terus bertanya-tanya kepada setiap orang yang datang dari bepergian hingga akhirnya ada seseorang yang mengabarkan keislaman Umair. Maka, Shafwan bersumpah untuk tidak berbicara sama sekali dengan Umair dan tidak mau memberinya bantuan apa pun.

Selanjutnya, Umair Kembali lagi ke Mekkah, menetap di sana untuk beberapa lama. Ia mengajak orang-orang agar masuk Islam sehingga tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam dengan dakwahnya.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response