Kisah

Kisah Kematian Abu Jahal

foto: unsplash
28views

Abdurrahman bin Auf menuturkan, “Ketika aku sedang berada di tengah barisan pada Perang Badar, aku menengok ke arah kiri dan kanan. Aku melihat dua pemuda yang masih belia. Aku tidak berani menjamin keselamatan keduanya saat itu. Salah seorang di antara mereka bertanya dan berbisik-bisik kepadaku, ‘Wahai Paman, tunjukkan kepadaku orang yang namanya Abu Jahal!’ ‘Wahai keponakanku, apa yang hendak engkau lakukan terhadap dirinya?’ tanyaku. ‘Kudengar dia suka mencaci maki Rasulullah ﷺ’, jawabnya. Lalu, dia berkata lagi, ‘Demi zat yang diriku berada di tangannya, jika aku sudah melihatnya, tak kubiarkan dia lolos dari penglihatanku hingga terlihat siapakah di antara kami yang lebih dahulu mati.’

Aku tertegun mendengar perkataannya. Pemuda yang satunya lagi mengerling kepadaku dan bertanya seperti itu pula kepadaku. Aku menajamkan pandangan mencari-cari Abu Jahal yang sedang berputar-putar di tengah manusia. Setelah melihat, aku berkata kepada mereka berdua, ‘Apakah kalian tidak melihat? Itulah sasaran yang engkau tanyakan itu.’

BACA JUGA: Kisah Perang Badar

Dua pemuda itu pun langsung menyerbu Abu Jahal secara serentak dengan pedangnya hingga dapat membunuhnya. Kemudian, keduanya menemui Rasulullah ﷺ dan beliau bertanya, ‘Siapakah di antara kalian berdua yang telah berhasil membunuhnya?’ Masing-masing menjawab, ‘Saya yang telah membunuhnya’. ‘Apakah kalian sudah mengusap pedang kalian?’ tanya Rasulullah ﷺ. ‘Belum’, jawab keduanya. Beliau memandang pedang milik mereka berdua, lalu bersabda, ‘Kalian berdua telah membunuhnya’.

Rasulullah ﷺ kemudian menyerahkan harta rampasan miliknya secara khusus kepada Muadz bin Amr Al-Jamuh. Dua pemuda ini adalah Muadz bin Amar Al-Jamuh dan Muawwidz bin Al-Afra.”

Abu Ishaq menuturkan, “Mu’adz bin Amr bin Al-Jamuh berkata, ‘Aku mencari informasi dari orang-orang. Sementara saat itu, Abu Jahal berada di dekat pohon yang rimbun, berbaur dengan orang-orang musyrik yang membawa tombak dan pedang yang memang bergerombol  di sekitarnya untuk melindunginya. Orang-orang berkata, ‘Abul Hakim (Abu Jahal) tidak akan bisa lolos.’

Ketika aku dengar tentang dirinya, aku mempersiapkan diri lalu mendekati dirinya. Saat jarak sudah memungkinkan, aku segera menyerang dan dapat menyabetnya hingga kakinya putus pada bagian betis. Namun, kemudian anaknya, Ikrimah, menyerangku dan mengenai pundakku hingga tanganku putus dan bergelantungan karena kulitnya masih belum putus. Pertempuran yang terus berkecamuk membuatku tersingkir dari kancah pertempuran. Setelah berhasil membunuh sekian banyak musuh pada hari ini, akhirnya aku agak mundur ke belakang. Karena rasa sakit yang amat sangat, tanganku yang tertebas kuputus dan kubuang.’

Saat itulah Muawwidz bin Al-Afra mendekati Abu Jahal dan menyabetnya hingga tersungkur dan membiarkannya dalam keadaan sekarat. Setelah itu, Muawwidz terus bertempur hingga terbunuh. Ketika pertempuran sudah berhenti, Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Siapa yang tahu apa yang terjadi dengan Abu Jahal?’ Orang-orang pun berpencar untuk mencarinya.

Abdullah bin Mas’ud mendapatinya dengan nafas tinggal satu-satu. Abdullah bin Mas’ud menginjakkan kakinya di leher Abu Jahal dan memegang jenggotnya untuk mendongakkan kepalanya.

‘Apakah Allah sudah menghinakanmu, wahai musuh Allah?’ tanya Abdullah bin Mas’ud. ‘Dengan apa Dia menghinakan diriku?’ Abu Jahal balik bertanya. Lalu, dia bertanya lagi, ‘Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang telah kalian bunuh? Atau orang yang kalian bunuh itu justru lebih terhormat? Andaikan saja bukan seorang pembajak tanah yang telah membunuhku.’

BACA JUGA: Perang Badar dan Penjelasannya dalam Al-Quran

Lalu, dia bertanya, ‘Beritahukan kepadaku, siapakah yang berhasil menguasai daerah ini?’ Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya.’ Abu Jahal berkata kepada Abdullah bin Mas’ud yang masih menginjakkan kakinya di lehernya. ‘Aku sudah naik tangga yang sulit, wahai penggembala kambing’. Selama di Mekkah dulu, Abdullah bin Mas’ud memang seorang penggembala kambing. Setelah dialog ini, Abdullah bin Mas’ud menarik kepala Abu Jahal dan membawanya ke hadapan Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah kepala musuh Allah, Abu Jahal’.

‘Demi Allah yang tidak Ilah yang berhak disembah selain Dia, benarkah?’ Beliau mengucapkannya tiga kali, lalu bersabda lagi. ‘Allahu akbar. Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya, mau menolong hamba-Nya, mau mengalahkan pasukan musuh-Nya.’ Lalu, beliau bersabda lagi, ‘Kemarilah dan perlihatkanlah kepadaku’. Kemudian kami pun mendekati dan memperlihatkannya kepada beliau, maka beliau pun bersabda, ‘Inilah Fir’aun umat ini.'”[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response