Historia/Tarikh

Kisah Perang Uhud

Foto: Unsplash
45views

Kekalahan dalam Perang Badar sangat membekas di kalangan orang-orang Quraisy. Mereka pun mempersiapkan diri untuk balas dendam. Namun, di saat persiapan dilakukan, mereka dikejutkan dengan kejadian di Qaradah. Ibarat jatuh, mereka sudah tertimpa tangga pula. Kemarahan kaum Quraisy kian memuncak.

Mereka kemudian melakukan persiapan lebih matang dengan membuka kesempatan orang-orang menjadi relawan. Mereka melibatkan Ahabisy (kabilah-kabilah Arab di luar kabilah Quraisy yang bergabung dengan orang-orang Quraisy). Mereka juga menyertakan para penyair untuk memompa semangat. Total pasukan yang terkumpul sebanyak 3.000 orang ditambah 3.000 unta, 200 kuda, dan 700 tameng. Bersama mereka juga ada wanita-wanita untuk memotivasi dan membakar semangat perang. Pasukan ini dipimpin Abu Sufyan dan pembawa panjinya kesatria-kesatria dari Bani Abdud Darr.

Jumat, 6 Syawal, pasukan Quraisy mulai bergerak menuju pinggiran Madinah dalam keadaan marah besar. Raut muka mereka penuh dendam membara. Setelah cukup lama berjalan, mereka tiba di sebuah tanah lapang di pinggiran Lembah Qanat, dekat Gunung Ainain dan Uhud. Mereka beristirahat.

BACA JUGA: Kisah Perang Badar

Rencana pasukan Quraisy menyerang kaum Muslim di Madinah telah didengar Rasulullah ﷺ dari Thalhah bin Ubaidillah dan Said bin Zaid, seminggu sebelumnya. Rasulullah ﷺ bergegas naik ke atas mimbar untuk menyampaikan pengumuman jihad dan pengorbanan. Beliau membesarkan hati mereka bahwa Allah akan memberikan pertolongan, balasan kebaikan, dan pahala, terutama bagi para syuhada.

Pasukan disiapkan. Setelah itu, Rasulullah ﷺ membagi pasukan ke dalam tiga kelompok: 1 ) kelompok Muhajirin, panji pasukan dibawa oleh Mushab bin Umair; 2) kelompok Aus, panjinya dibawa oleh Usaid bin Hudhair; 3) kelompok Khazraj, panji pasukan dibawa oleh Al-Habbab bin Al-Mundzir. Setelah shalat Ashar, mereka beranjak menuju Uhud, dengan jumlah 1.000 pasukan. Dalam perjalanan, terjadi pembangkangan oleh kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul. Dia mengajak 300 orang untuk kembali ke Madinah.

Rasulullah ﷺ menempatkan pasukan Islam di kaki Bukit Uhud di bagian Barat. Tentara Islam berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front lebih kurang 1.000 yard. Sayap kanan berada di kaki Bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada di kaki Bukit Ainain (tinggi 40 kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan Muslim aman karena terlindungi oleh Bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari Bukit Ainain dan menyerang dari belakang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Rasulullah ﷺ menempatkan 50 pemanah di Ainain di bawah pimpinan Abdullah bin Zubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas yaitu, “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. Jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami”.

BACA JUGA: Ancaman Kaum Quraisy Mekkah dan Turunnya Izin Berperang

Posisi pasukan Islam bertujuan untuk mengeksploitasi kelebihan pasukan Islam, yaitu keberanian dan keahlian bertempur. Selain itu juga meniadakan keuntungan musuh, yaitu jumlah dan kavaleri (kuda pasukan Islam hanya dua, salah satunya milik Rasulullah ﷺ). Abu Sufyan tentu lebih memilih pertempuran terbuka di mana dia bisa bermanuver ke bagian samping dan belakang tentara Islam dan mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengepung pasukan tersebut. Namun, Rasulullah ﷺ menetralisasi hal ini dan memaksa Abu Sufyan bertempur di front yang terbatas di mana infanteri dan kavaleri tidak terlalu berguna. Patut dicatat bahwa tentara Islam sebetulnya menghadap Madinah dan bagian belakangnya menghadap Bukit Uhud, jalan ke Madinah terbuka bagi tentara kafir.

Tentara Quraisy berkemah satu mil di selatan Bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan pasukan ini menjadi Infanteri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl, masing-masing berkekuatan 100 orang. Amar bin Al-Ash ditunjuk sebagai panglima bagi kedua sayap tetapi tugasnya terutama untuk koordinasi. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera Quraisy dibawa oleh Thalhah bin Abi Thalhah.

Awalnya, pasukan Muslim bisa memetik kemenangan. Namun, karena pasukan pemanah tergoda harta rampasan perang, mereka turun dari bukit sehingga pasukan lawan bisa menyerang pasukan Muslim. Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal tahun 3 Hijriyah). Pertempuran ini terjadi lebih kurang setahun lebih seminggu setelah pertempuran Badar.

Pada perang tersebut, tentara Islam berjumlah 700 orang, sedangkan tentara kafir jumlah 3.000 orang. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan. Disebut pertempuran Uhud karena terjadi di Bukit Uhud, yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1.000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Kekalahan dalam Perang Uhud berdampak luar biasa pada psikologis kaum Muslim. Semangat juang mereka surut dengan cepat. Kondisi ini dimanfaatkan oleh kaum Yahudi Madinah. Mereka mulai merusak perjanjian dengan kaum Muslim dan membuat perjanjian baru dengan kaum kafir Quraisy.

BACA JUGA: Perang Badar dan Penjelasannya dalam Al-Quran

“Kalian telah kalah karena kalian tidak becus bermusyawarah,” Cela orang-orang Yahudi kepada para sahabat Rasulullah ﷺ. Perkataan tersebut segera memengaruhi para sahabat Nabi ﷺ. Mereka pun saling bertanya, “Bagaimana kita dapat kalah, padahal Rasulullah ﷺ bersama kita? Di manakah para malaikat itu?”

Tentang hal ini, Allah menjelaskannya di dalam Surah Ali Imran (3) ayat 165:

اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud) padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, ‘Dari mana datangnya kekalahan ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”[]

SUMBER: THE GREAT QURAN: Referensi Terlengkap Ilmu-Ilmu Al-Quran, Penulis: Tim Maghfirah Pustaka, Penerbit: Maghfirah Pustaka.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response