Historia/Tarikh

Mengenal Satuan-Satuan Pasukan sebelum Perang Badar (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

foto: Pixabay
39views

Untuk mengimplementasikan dua langkah yang dilakukan Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan kekuasaan terhadap kaum Quraisy, kaum Muslimin memulai dengan kegiatan militer, langsung setelah turun izin untuk berperang. Mereka memulai kegiatan militer dengan mengirimkan mata-mata. Ada beberapa sasaran dari kegiatan mata-mata ini, yakni:

Pertama, untuk mengenal lebih lanjut tentang jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah begitu pula jalur ke Mekah;

Kedua, mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur itu;

Ketiga, memperlihatkan kepada orang-orang musyrik Yastrib, Yahudi, dan suku-suku Badui di sekitarnya bahwa kaum Muslimin adalah orang-orang yang kuat;

Keempat, memperlihatkan bahwa mereka bisa melepaskan diri dari kelemahan pada masa-masa sebelumnya serta memperingatkan pihak Quraisy sebagai akibat dari kebrutalan mereka.

BACA JUGA: Ancaman Kaum Quraisy Mekkah dan Turunnya Izin Berperang

Harapan yang ingin dicapai adalah, dengan cara tersebut, pihak Quraisy merasa khawatir terhadap keamanan jalur perdagangan mereka, lalu mendorong mereka untuk mengadakan perdamaian, membatalkan niat untuk menyerbu kaum Muslimin, tidak menghalangi manusia untuk mengikuti jalan Allah, dan tidak lagi menyiksa Mukmin yang lemah di Mekkah sehingga kaum Muslimin bisa bebas menyampaikan risalah Allah di seluruh Jazirah Arab.

Adapun beberapa satuan pasukan kaum Muslimin yang diterjunkan dalam melakukan tugas sebagaimana disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

Pertama, satuan pasukan ke Siful Bahr pada tanggal 1 Ramadan 1 Hijriyah/623 M. Untuk memimpin satuan pasukan ini, Rasulullah ﷺ menunjuk Hamzah bin Abdul Muthalib, bersama 30 orang Muhajirin. Sasarannya adalah mengadang kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Syam. Kafilah tersebut terdiri dari 300 orang, termasuk Abu Jahal bin Hisyam. Mereka tiba di Siful Bahr di bilangan Al-Ish, yakni tempat yang terletak antara Yanbu’ dan Marwah, di dekat Laut Merah. Sebenarnya mereka sudah saling berhadapan dan siap berperang. Namun, muncul Majdi bin Amr Al-Juhani yang menjadi sekutu kedua belah pihak. Dia melerai kedua belah pihak sehingga mereka urung berperang. Bendera dalam kesatuan pasukan Hamzah adalah bendera pertama yang diserahkan Rasulullah ﷺ. Warnanya putih dan pembawanya adalah Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghanwi.

Kedua, satuan pasukan ke Rabigh. Pada 1 Syawal 1 Hijriah, Rasulullah ﷺ mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Abdul Muthalib bersama 60 Muhajirin hingga berpapasan dengan Abu Sufyan yang membawa 200 orang di Lembah Rabigh. Sebenarnya kedua belah pihak sudah saling melepaskan anak panah, tetapi tidak sampai meletus peperangan.

Dalam pengiriman satuan pasukan kali ini, ada dua pasukan Quraisy yang bergabung ke barisan kaum Muslimin, yaitu Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrani dan Utbah bin Ghazwan Al-Mazini. Keduanya pun masuk Islamm. Bendera yang dibawa satuan pasukan Ubaidah juga berwarna putih. Pembawanya adalah Misthah bin Utsatsah bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf.

BACA JUGA: Kisah Hijrah Rasulullah: Memasuki Kota Madinah

Ketiga, satuan pasukan ke Al-Kharrar, dekat Juhfah. Pada Dzulqaidah 1 Hijriyah, yang bertepatan dengan Mei 623 M, Rasulullah ﷺ mengutus Sa’ad bin Abu Waqqash bersama 20 orang untuk mengadang kafilah dagang Quraisy. Beliau berpesan kepada Sa’ad agar tidak sampai berjalan melewati Al-Kharrar. Mereka pun pergi dengan berjalan kaki. Ketika siang hari mereka bersembunyi dan perjalanan dilakukan malam hari hingga mereka tiba di Al-Kharrar pada hari kelima pagi hari. Namun, kafilah dagang sudah melewati Al-Kharrar sehari sebelumnya. Bendera satuan pasukan Sa’ad juga berwarna putih dan pembawanya adalah Al-Miqdad bin Amr.

Keempat, perang Abwa’ atau Waddan. Waddan adalah tempat yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Antara tempat ini dan Rabigh ke arah Madinah berjarak 29 mil, sedangkan Abwa’ adalah tempat di dekat Waddan. Pada bulan Shafar tahun 2 Hijriyah, yang bertepatan dengan Agustus 623 M, Rasulullah ﷺ pergi sendiri memimpin pasukan, setelah mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai wakil beliau di Madinah. Beliau keluar bersama 70 orang yang terdiri dari kaum Muhajirin saja. Tujuannya adalah mengadang kafilah dagang Quraisy. Beliau pergi hingga tiba di Waddan. Namun, tidak terjadi apa-apa.

Dalam kesempatan itu, beliau mengadakan perjanjian persahabatan dengan Amr bin Makhsyi, pemimpin Bani Dhamrah. Inilah isi perjanjian itu, “Ini adalah perjanjian dari Muhammad, utusan Allah, dengan Bani Dhamrah. Sesungguhnya harta dan diri mereka dijamin keamanannya, dan mereka berhak mendapatkan pertolongan jika ada yang menyerang mereka, kecuali jika mereka memerangi agama Allah. Jika Nabi mengajak mereka agar memberi pertolongan, maka mereka harus memenuhinya”.

Kepergian Rasulullah ﷺ ke Waddan merupakan peperangan pertama yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Kepergiannya untuk tujuan perang tersebut selama 15 hari. Bendera perang berwarna putih dan pembawanya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kelima, Perang Buwath. Pada Rabiul Awwal tahun 2 H, yang bertepatan dengan September 623 M, Rasulullah ﷺ pergi bersama 200 sahabat untuk mengadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Umayyah bin Khalaf beserta 100 orang Quraisy. Mereka membawa 2500 unta yang membawa barang dagangan. Beliau tiba di Buwath dari arah Radhwa. Namun, kali ini tidak terjadi apa-apa. Beliau mengangkat Sa’ad bin Mu’adz sebagai wakil di Madinah. Sementara itu, bendera perang berwarna putih dan pembawanya adalah Sa’ad bin Abu Waqqash.

Keenam, Perang Safwan. Pada Rabiul Awwal tahun 2 Hijriyah, yang bertepatan dengan September 623 M, Kurs bin Jabir Al-Fihri bersama beberapa orang musyrik menyerbu kandang hewan gembalaan di Madinah dan berhasil merampok domba-dombanya. Maka, Rasulullah ﷺ bersama 70 sahabat hendak mengejar dan mengusirnya. Akhirnya, beliau tiba di sebuah lembah yang disebut Safwan, dari arah Badar.

BACA JUGA: Kisah Orang-Orang yang Pertama Kali Berhijrah

Namun, beliau tidak berhasil memergoki Kurs dan rekan-rekannya. Maka, beliau kembali lagi tanpa ada peperangan. Perang ini bisa disebut Perang Badar Ula (pertama). Dalam perang ini, beliau mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai wakil beliau di Madinah. Bendera perang berwarna putih dan pembawanya adalah Ali bin Abu Thalib.[]

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response