Kisah

Kisah tentang Wafatnya Nabi Musa

Foto: Pixabay
40views

Imam Al-Qurthubi menjelaskan tentang wafatnya Nabi Musa. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah bahwa beliau bertutur, “Pada suatu hari, malaikat maut diutus kepada Nabi Musa. Ketika malaikat itu datang, maka Nabi Musa menempeleng matanya. Maka, malaikat maut kembali kepada Rabb-nya dan berkata, ‘Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan mati’. Maka, Allah berfirman, ‘Kembalilah dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di atas punggung seekor lembu jantan. Setiap bulu lembu yang ditutupi oleh tangannya berarti umurnya satu tahun baginya’.

BACA JUGA: Ketika Allah Berbicara dengan Nabi Musa

Nabi Musa bertanya, ‘Wahai Rabb, setelah itu apa?’ Allah berfirman, ‘Kematian’. Maka, Nabi Musa berkata, ‘Kalau begitu, sekaranglah saatnya’. Kemudian Nabi Musa memohon kepada Allah agar mendekatkannya dengan tanah suci dengan jarak selemparan batu.'” Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Seandainya aku di sana, pasti akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan di bawah tumpukan pasir merah.'”

Mengapa Nabi Musa menempeleng malaikat maut tersebut? Ada yang mengatakan bahwa itu sekadar majas (kiasan). Namun, pendapat ini tidak tepat. Peristiwa itu hakiki dan faktual.

Selanjutnya, ada dua alternatif penjelasan yang kuat. Di antaranya adalah Nabi Musa tidak mengetahui identitas siapa yang datang tanpa izin dalam rumahnya, bahwa ia ternyata malaikat maut sehingga Nabi Musa pun menempelengnya. Beliau berhak memukul, menusuk, bahkan mencongkel mata orang yang mengintip ke dalam rumahnya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hajar.

Pendapat lainnya, sebagaimana yang dipilih oleh Al-Qurtubhi, bahwa malaikat tersebut tidak memberikan pilihan kepada Nabi Musa. Sebab, setiap nabi yang hendak dicabut nyawanya maka akan diberikan pilihan terlebih dahulu kepadanya. Namun, lantaran malaikat tersebut datang tanpa izin dan tidak memberikan pilihan kepada Nabi Musa maka beliau pun marah dan menempelengnya.

Intinya, Nabi Musa pun akhirnya wafat. Sebelum itu, beliau memohon kepada Allah agar diwafatkan lebih dekat dengan Baitul Maqdis, tetapi dengan jarak sejauh “sebuah batu yang dilempar”. Artinya, agak jauh dengan Baitul Maqdis. Apa sebabnya?

Imam Al-Qurthubi berkata, “Mungkin sebabnya adalah agar beliau tidak disembah.  Wallahu’alam“.

Begitu juga dijelaskan oleh Ibnu Batthal bahwa makna keinginan Nabi Musa tersebut, “Agar kuburannya tidak terlihat, agar orang-orang jahil di zamannya tidak menyembah kuburannya dan mendatanginya untuk mengagungkannya. Wallahu’alam“.

Hikmahnya adalah agar lokasi kuburan tersebut tidak diketahui oleh banyak orang bahkan sampai sekarang.

BACA JUGA: Hikmah Pengulangan Kisah Nabi Musa dalam Al-Quran

Di antara tujuan Allah menyebutkan kisah ini adalah bahwa Allah hendak memberi hiburan kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa, jika orang-orang Yahudi pada zaman beliau adalah orang-orang yang keras kepala, maka sebelumnya mereka juga bersikap keras kepala dan kurang ajar terhadap Nabi Musa yang bahkan sama-sama berasal dari kalangan Bani Israil yang seharusnya mereka agungkan. Jika demikian halnya, maka terlebih lagi sikap mereka terhadap Nabi Muhammad Saw yang berasal dari Arab dan bukan dari kalangan mereka. Oleh karena itu, Allah mengingatkan kepada Rasulullah SAW agar senantiasa bersabar. Karena demikianlah pula Sikap yang dimiliki oleh para nabi dari Bani Israil.[]

SUMBER: Tafsir At-Taysir Surah Al-Ma’idah, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response