Ibrah

Kisah tentang Sebab Qabil Membunuh Habil

Foto: Pixabay
41views

Dalam tulisan sebelum ini, telah dijelaskan tentang asal-usul nama Qabil dan Habil, dua orang anak Adam yang dikisahkan menjadi kisah pertama pembunuhan yang terjadi di muka bumi. Lantas, mengaoa pembunuhan tersebut bisa terjadi?

BACA JUGA: Penjelasan tentang Identitas Qabil dan Habil

Kisah mereka berdua, sebagaimana Allah sebutkan dalam petikan Surah Al-Ma’idah (5) ayat 27,

اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا

“Ketika keduanya mempersembahkan kurban”

Apakah yang menyebabkan mereka berdua berkurban? Ibnu Katsir menyebutkan beberapa perkataan salaf dengan sanad yang jayyid (bagus). Di antaranya disebutkan bahwa ketika turun ke dunia, Nabi Adam bersama Hawa dikaruniai sepasang anak lelaki dan wanita. Untuk melanjutkan keturunan, maka disyariatkan anak yang lahir dari satu kehamilan menikah dengan anak yang lahir dari proses kehamilan yang lain. Tidak boleh lelaki dan wanita yang lahir dalam satu proses kehamilan untuk dinikahkan.

Allah menakdirkan Qabil lahir bersama kembarannya yang sangat cantik. Sementara Habil ketika dilahirkan ternyata kembarannya tidak cantik sehingga tatkala Habil akan dinikahkan dengan kembaran Qabil yang sangat cantik maka Qabil tidak terima. Qabil merasa lebih berhak daripada Habil karena dia merasa lebih tua daripada Habil dan juga saudarinya yang cantik lahir bersama dengan Qabil. Padahal, syariat saat itu tidak boleh kembaran menikahi kembaran yang lahir satu perut dengannya. Akhirnya, Nabi Adam memerintahkan Qabil dan Habil untuk memberikan kurban kepada Allah.

Banyak ulama menjelaskan bahwa Qabil adalah seorang petani yang menghasilkan banyak hasil gandum. Sementara, Habil adalah peternak kambing. Keduanya pun lalu memberikan sumbangan kurban kepada Allah. Habil memiliki kambing yang sangat ia sayangi. Kambing itu kemudian ia kurbankan kepada Allah. Sementara Qabil membawa sebagian hasil pertaniannya untuk dikurbankan kepada Allah.

Keduanya menunggu, siapakah dari mereka yang kurbannya akan diterima. Tiba-tiba datanglah api yang memakan kambingnya Habil, sementara kurban yang diberikan oleh Qabil tidak disentuh oleh api tersebut, yang menunjukkan bahwa kurbannya tidak diterima.

BACA JUGA: Kisah Dua Anak Nabi Adam

Mekanisme tersebut juga berlaku pada syariat nabi-nabi Bani Israil. Ketika berperang, mereka tidak boleh memakan ghanimah (harta rampasan perang). Ghanimah tersebut dikumpulkan lalu akan datang api yang membakarnya hingga habis yang menunjukkan bahwa ghanimah mereka diterima oleh Allah, dan jika tidak dimakan api berarti ada sebagian ghanimah yang diambil oleh sebagian mereka sehingga tidak diterima oleh Allah.

Ini berbeda dengan syariat Nabi Muhammad ﷺ yang diperbolehkan mengambil hasil ghanimah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun dari nabi-nabi sebelumku. (1) aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan. (2) bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka di mana saja seorang dari umatku mendapatkan waktu shalat maka hendaklah ia shalat. (3) dihalalkan harta rampasan untukku. (4) para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia; dan (5) aku diberikan (hak) syafaat.

Selanjutnya, firman Allah:

قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ

Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!‘”

Hasad dalam diri Qabil kepada Habil mengantarkan dirinya membunuh Habil. Oleh karena itu, sebagian salaf berkata, “Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di langit, yaitu hasadnya iblis kepada Adam. Ia juga merupakan dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di bumi yaitu hasadnya anak Adam kepada saudaranya”.

Begitu pula halnya dengan saudara-saudara Yusuf yang hasad sehingga mereka hampir membunuh Yusuf. Namun, salah seorang dari mereka berkata untuk jangan membunuh Yusuf. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Yusuf (12) ayat 10:

قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

“Seorang di antara mereka berkata, ‘Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat”.

Hasad termasuk akhlak yang paling buruk. Seseorang sedang hasad maka dia sedang berakhlak dengan akhlaknya iblis, Qabil, dan Yahudi. Hasad adalah akhlaknya makhluk-makhluk terburuk. Karena itu, jika kita sedang hasad maka hendaklah kita melawannya. Jangan sampai kita membiarkan hasad bercokol di dada kita.

BACA JUGA: Penjelasan Tentang Makna Hasad

Ketika Qabil mengancam akan membunuh Habil maka Habil menjawab:

قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّ

“Habil berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa'”.

Seolah-olah Habil berkata, “Apa salahku sehingga engkau ingin membunuhku? Sedangkan kurbanku diterima karena ketakwaan“.

Dikisahkan bahwa ketika Habil berkurban dengan kambing, maka dia memilih kambing yang sangat dia cintai. Sementara Qabil mengurbankan gandum yang kurang bagus. Habil mengingatkan bahwa jika seseorang ingin diterima kurbannya maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah. Di antara bentuk ketakwaan adalah dengan memilih kurban terbaik.[]

SUMBER: Tafsir At-Taysir Surah Al-Ma’idah, Penulis: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response