Kisah Al-Quran

Ringkasan Kisah Nabi Isa

Foto: Unsplash
33views

Isa Almasih adalah nabi terakhir yang berasal dari garis keturunan Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Ia dilahirkan tanpa seorang bapak di daerah Betlehem, sekitar 9 mil dari Al-Quds, Palestina. Ibunya bernama Maryam binti Imran, yaitu saudari kandung dari istri Nabi Zakaria. Maryam artinya yang suci dan taat beribadah. Isa hidup bersama ibunya di An-Basirah (Nazareth), yang terdapat di Al-Jalil, sebelah utara Palestina.

Allah mengutus Jibril untuk mengabarkan kepada Maryam berita tentang kelahiran Isa Almasih. Suatu hari, ketika sedang menikmati ibadah di dalam mihrab-nya (tempat ibadah), Maryam didatangi seorang laki-laki yang sama sekali asing baginya. Laki-laki itu adalah malaikat jibril yang diutus oleh Allah untuk mengabarkan kepadanya tentang kelahiran seorang bayi laki-laki dari rahimnya. Awalnya, Maryam menyangsikan kebenaran berita tersebut mengingat dirinya sama sekali tidak mempunyai suami apalagi berbuat zina. Namun, setelah malaikat Jibril menerangkan bahwa hal itu adalah atas kehendak Allah, akhirnya ia pun menerimanya dengan lapang dada. (Lihat Quran Surah Maryam [19] ayat 16-21).

BACA JUGA: Ketika Allah Menampakkan Mukjizat kepada Maryam

Tidak lama kemudian, Maryam benar-benar mengandung dan kian hari perutnya semakin membuncit. Lalu, untuk menghindari tuduhan dari masyarakat, ia pun memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah tempat yang sangat jauh. Di tempat itu, dengan posisi bersandar di sebuah pohon kurma, ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang kita kenal dengan nama Isa Almasih. (Lhat Quran Surah Maryam [19] ayat 22-23).

Setelah selesai melahirkan, Maryam pun merasa bingung. Ia takut terhadap apa yang akan diperbuat oleh masyarakat jika mereka mengetahui bahwa dirinya telah melahirkan bayi tanpa memiliki seorang suami. Rasa takutnya itu semakin bergejolak hingga akhirnya Isa, bayi yang baru dilahirkan Maryam, berbicara dengan lisannya meminta agar ia tetap tegar karena Allah tidak akan pernah menelantarkannya seorang diri. (Lihat Quran Surah Maryam [19] ayat 24-26).

Perkataan Isa, seorang bayi yang baru terlahir ke dunia, benar-benar membuat Maryam kembali bersemangat. Lalu, dengan penuh percaya diri, ia pulang ke rumahnya. Saat itu, kondisi masyarakat sangat gaduh menyaksikan kehadirannya. Mereka semua bertanya tentang apa yang telah terjadi. Namun, karena telah bernazar untuk tidak berbicara, Maryam pun tidak meladeni pertanyaan tersebut. Ia justru membuat isyarat kepada masyarakat agar bertanya secara langsung kepada bayi yang ada di pangkuannya. (Lihat Quran Surah Maryam [19] ayat 27-29).

BACA JUGA: Kisah Maryam Pulang ke Kaumnya Membawa Bayi

Di tengah kerumunan masyarakat yang semakin gaduh itu, akhirnya atas kuasa Allah, Isa angkat bicara. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa ibunya adalah wanita suci sebagaimana yang selama ini mereka ketahui. Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah seorang hamba yang kelak diutus menjadi nabi dan rasul. Kelahirannya merupakan bukti atas kekuasaan Allah. (Lihat Quran Surah Maryam [19] ayat 30-36).

Semua orang terdiam ketika mendengar penjelasan Isa. Mereka kemudian terbagi menjadi beberapa golongan. Ada yang langsung beriman dan ada pula yang tetap ingkar. Golongan yang terakhir ini kelak akan mendapat siksaan di Hari Pembalasan.

Sebuah riwayat mengisahkan bahwa Nabi Isa pernah pergi ke Mesir bersama ibunya dan seorang pemuda yang bernama Yusuf An-Najjar. Di sana mereka menetap di pinggiran kota Al-Matariyyah, lalu mereka kembali lagi ke An-Nasirah.

Isa diutus menjadi nabi dan rasul kepada bangsa Yahudi atau Bani Israil dengan membawa wahyu dari Allah berupa kitab Injil. Ajaran yang ia sampaikan sama persis dengan ajaran Nabi Musa yang terangkum dalam kitab suci Taurat. Intinya yaitu mengesakan Allah. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Ali Imran (3) ayat 48:

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ

“Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan Injil”.

Di antara mukjizat kerasulannya adalah kemampuannya membuat seekor burung dari tanah liat, menyembuhkan penyakit kusta dengan tangan, dan menghidupkan orang yang telah mati. (Lihat Quran Surah Ali Imran [3] ayat 49).

Selama menjalankan tugas kenabiannya, Nabi Isa selalu mendapat perlawanan dari kaum Yahudi. Hanya segelintir orang yang mau menjadi pengikutnya. Golongan ini sering dikenal dengan sebutan hawariyyun, yang berarti pengikut setia. (Lihat Quran Surah Ali Imran [3] ayat 52).

BACA JUGA: Meneladani Maryam Putri Imran

Kebencian mayoritas bangsa Yahudi terhadap Nabi Isa tidak hanya terlihat dari cara mereka menolak ajarannya. Bahkan, lebih dari itu, mereka juga selalu merancang strategi untuk menghabisi nyawanya. Sebagaimana dikisahkan, suatu ketika, dengan bantuan bala tentara Romawi, mereka mendatangi Nabi Isa yang saat itu sedang berada di sebuah rumah bersama beberapa orang pengikutnya. Kemudian, dengan tampang beringas, mereka langsung mendobrak rumah tersebut dan memeriksa orang-orang yang ada di dalamnya. Di sana, mereka menemukan seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Nabi Isa. Lalu, mereka menyeret dan membunuhnya di atas kayu salib. Pada saat itu, orang-orang Yahudi mengira bahwa laki-laki yang mereka bunuh itu adalah Nabi Isa. Padahal, sesungguhnya Nabi Isa sudah diangkat oleh Allah ke langit. (Lihat Quran Surah Ali Imran [3] ayat 54-55).[]

SUMBER: THE GREAT QURAN: Referensi Terlengkap Ilmu-Ilmu Al-Quran, Penulis: Tim Maghfirah Pustaka, Penerbit: Maghfirah Pustaka

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response