Ibrah

Kontekstualitas Ayat tentang Riba dalam Perekonomian Dunia

foto: unsplash
39views

Allah berfirman dalam Surah All-Baqarah (2) ayat 275:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Sistem Bebas Riba Memperkuat Sendi Perekonomian

Islam adalah agama solutif, selalu memberikan solusi bagi kesulitan hidup dengan cara yang adil dan elegan. Riba diharamkan karena dalam sejarah perekonomian manusia, riba selalu menjadi masalah yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Islam menganggap riba sebagai penyakit karena hakikat sistem ini adalah uang pasti menghasilkan uang. Siapa yang memiliki uang dan sumber-sumbernya, ia akan menguasai perekonomian. Padahal, Islam menuntut untuk bekerja (amal) karena amal-lah yang menghasilkan uang. Jika ada uang tetapi tidak ada kerja (amal) uang tidak akan dihasilkan. Namun, jika ada uang dan ada usaha, hal itu akan menghasilkan uang dan terus begitulah berputarnya roda ekonomi masyarakat.

BACA JUGA: Al-Quran Menyingkap Rahasia Alam Semesta

Sistem ribawi juga tidak melihat bahwa modal yang disetor harus digunakan untuk menggiatkan roda ekonomi dengan menginvestasikannya pada proyek-proyek yang baik dan halal. Sistem ini selalu berorientasi pada keuntungan dan menghindari kerugian, atau untuk hal-hal yang bersifat sangat konsumtif. Oleh karena itu, kemudian ekonomi tidak bergerak dengan baik karena pandangan sistem ini yang hanya berorientasi pada keuntungan semata.

Sistem ribawi juga terbukti hanya melemahkan perekonomian bangsa karena sistem ini selalu bertumpu pada adanya jaminan akan kembalinya modal. Untuk itulah, mengapa jaminan kemudian menjadi syarat dikucurkannya kredit ribawi agar terjamin modal dan untung tetap terjaga. Namun, sistem ini kemudian terbukti membuat ekonomi menjadi lesu karena terbatasnya jaminan pada rakyat biasa yang tidak memiliki uang dan jaminan.

Keynes John Maynard, seorang ekonom terkenal, mengatakan bahwa jika hambatan ini masih tetap menjadi ciri dari sistem ekonomi, ia akan menjadi penghalang tumbuhnya investasi dan ekonomi. Orang akan berpikir untuk meletakkan uangnya di bank tanpa harus memikirkan usaha dan risiko usaha tersebut.

Sistem ribawi juga membuat pengangguran semakin bertambah karena orang akan berpikir bahwa lebih baik menyimpan uang di bank dengan risiko kerugian yang hampir tidak ada daripada harus memutar uang untuk modal usaha. Kemudian. muncullah dana yang sangat banyak dan tidak ada proyek yang bisa dikerjakan karena sistem ribawi yang salah ini.

Ekonom Keynes mengatakan bahwa pengangguran akan hilang di sebuah negara jika banknya menurunkan suku bunga menjadi 0% karena memaksa orang untuk menginvestasikan modalnya di wilayah-wilayah usaha dan bukan investasi di bagian melahirkan uang. Jepang mengambil kebijakan 0% hingga selama 15 tahun dan membuat ekonominya menjadi tumbuh kuat.

Masih tentang riba, Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 278-280:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰوٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْن (278) فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ وَاِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْۚ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ َ(279) وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (280)

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang Mukmin. (278) Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika kamu bertobat, kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan). (279) Jika dia (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Kamu bersedekah (membebaskan utang) itu lebih baik bagimu apabila kamu mengetahui(-nya). (280)

Sistem Riba Mengakibatkan Krisis Ekonomi

Kemajuan ekonomi yang berdasarkan sistem ribawi selalu saja berakhir dengan krisis ekonomi. Tidak ada negara yang menggunakan sistem ribawii yang berakhir baik. Negara-negara berkembang yang menggerakkan ekonomi mereka dengan mengambil pinjaman dengan sistem ribawi dari IMF atau Bank Dunia selalu saja berakhir tragis. Sebut saja misalnya Indonesia tahun 1996, atau krisis ekonomi 1994 di Meksiko, krisis ekonomi Argentina (1999-2002), krisis ekonomi Amerika Selatan 2002, dan negara-negara lainnya.

Sistem ekonomi ribawi telah banyak menimbulkan krisis ekonomi di mana-mana sepanjang sejarah sejak tahun 1930 hingga saat ini. Sstem ekonomi ribawi menjadi puncak utama penyebab tidak stabilnya nilai uang (currency) sebuah negara. Hal ini dimungkinkan karena uang senantiasa akan berpindah dari negara yang tingkat bunga riil rendah ke negara yang tingkat bunga riil lebih tinggi akibat para spekulator ingin memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uangnya di mana tingkat bunga relatif tinggi. Usaha memperoleh keuntungan dengan cara ini dalam istilah ekonomi disebut dengan arbitraging.

Dalam sistem ekonomi ribawi, kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia makin terjadi secara konstan sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Data IMF menunjukkan bagaimana kesenjangan tersebut terjadi sejak tahun 1965 hingga hari ini.

BACA JUGA: Semua Perbuatan Maksiat Disandarkan pada Pribadi Pelakunya

Suku bunga juga berpengaruh pada investasi, produksi, dan terciptanya pengangguran. Semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin menurun tingkat investasi. Jika investasi menurun, produksi pun menurun. Jika produksi menurun, angka pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat. Teori ekonomi makro juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara signifikan menimbulkan inflasi. Inflasi yang disebabkan oleh bunga adalah inflasi yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Inflasi seperti ini sangat dibenci Islam, sebagaimana ditulis oleh Dhiyauddin Ahmad dalam buku Al-Quran dan Pengentasan Kemiskinan. Inflasi akan menurunkan daya beli atau memiskinkan rakyat dengan asumsi ceteris paribus.

Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara berkembang pada debt trap atau jebakan utang yang dalam sehingga untuk membayar bunga saja mereka kesulitan, apalagi bersama pokoknya. Dalam konteks Indonesia, dampak bunga tidak hanya sebatas itu tetapi juga berdampak terhadap pengurasan dana APBN. Bunga telah membebani APBN untuk membayar bunga obligasi kepada perbankan konvensional yang telah dibantu dengan BLBI. Selain bunga obligasi juga membayar bunga SBI. Pembayaran bunga yang besar inilah yang membuat APBN kita defisit setiap tahun. Seharusnya, APBN kita surplus setiap tahun dalam jumlah yang besar.

Jika sistem ribawi terus-menerus digunakan dunia saat ini, dunia akan terus diguncang krisis ekonomi berkepanjangan. Itulah yang terjadi di AS pada akhir tahun 2009, tatkala perusahaan properti tidak mampu mengembalikan uang ribanya ke bank, yang pada akhirnya membuat ekonomi hampir diambang kehancuran.[]

SUMBER: THE GREAT QURAN: Referensi Terlengkap Ilmu-Ilmu Al-Quran, Penulis: Tim Maghfirah Pustaka, Penerbit: Maghfirah Pustaka.

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response