Tafsir

Penjelasan tentang Permasalahan Fikih dalam Ayat Keempat Surah Al-Ma’idah

foto: Pixabay
33views

Selain soal syarat hewan buruan yang halal untuk dimakan, masih terdapat permasalahan fikih lainnya yang berkaitan dengan penjelasan dalam ayat yang sama:

Pertama, hukum bekas gigitan anjing di hewan buruan.

Terdapat khilaf di antara para ulama dalam hal ini. Kita ketahui bahwa air liur anjing pada prinsipnya adalah najis yang wajib dicuci. Karena itu, banyak ulama menyatakan bahwa bekas air liur gigitan anjing pada hewan buruan pun juga wajib dicuci seperti halnya pada umumnya. Namun, sebagian ulama menyatakan bahwa kasus gigitan anjing pada buruan termasuk kondisi spesifik yang ditoleransi dan tidak perlu dicuci. Alasannya adalah ayat dan hadis yang berkaitan tentang buruan tidak menyebutkan perintah untuk mencucinya. Pendapat kedua ini yang dipilih oleh antara lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu Utsaimin.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Syarat Hewan Buruan Menjadi Halal Dimakan

Kedua, hukum memelihara anjing. Ada dua macam anjing, yaitu:

  1. Yang diizinkan. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yaitu anjing pemburu, anjing penjaga hewan ternak, dan anjing penjaga tanaman. Hukum memelihara anjing-anjing tersebut tidaklah mengapa dan tidak mengurangi pahala. Sebagaimana juga anjing pelacak yang digunakan untuk memeriksa benda-benda untuk berbuat kejahatan maka termasuk dari anjing-anjing yang diizinkan untuk dipelihara. Begitu juga dengan suatu tempat yang sangat rawan terjadinya pencurian sehingga anjing sangat dibutuhkan untuk menjaga tempat itu maka juga diperbolehkan. Namun, jika tanpa ada keperluan yang mendesak maka kembali kepada hukum asal memelihara anjing yaitu haram.
  2. Yang tidak diizinkan. Anjing yang tidak diperbolehkan untuk dipelihara adalah selain anjing yang telah disebutkan di dalam hadis, seperti anjing yang dipelihara di rumah. Memelihara anjing tanpa ada kebutuhan akan mengurangi pahala tiap hari sebesar dua qirath. Nabi ﷺ bersabda, “Siapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu, menjaga hewan ternak, dan menjaga tanaman maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap harinya.”

Mengapa pahala berkurang sebesar dua qirath tiap hari? Imam Al-Qurthubi menjelaskan di antara sebabnya adalah mengganggu tetangga, menakut-nakuti orang lain, anjing termasuk najis, malaikat enggan masuk ke dalam rumah orang yang memelihara anjing, dan berbagai sebab lainnya.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Hewan Pemburu

Kemudian muncul pertanyaan bukankah sebagian orang juga butuh memelihara anjing untuk menjaga rumahnya dari gangguan pencuri dan lain-lain? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah pada zaman Nabi ﷺ dahulu juga banyak rumah yang bisa saja dijarah oleh pencuri. Namun, memelihara anjing untuk keperluan tersebut tidak termasuk yang ditoleransi oleh Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam hadis di atas, dan hal itu juga bukan merupakan keperluan yang mendesak. Dari uraian sebelumnya diketahui bahwa sebagian anjing boleh dipelihara dan dilatih. Dalam hal ini, para ulama mengatakan bahwa manfaat yang didapatkan atas anjing-anjing yang diizinkan itu juga dibolehkan. Contohnya adalah membuka pelatihan untuk anjing-anjing pemburu, atau seseorang yang bekerja sebagai pelatih anjing pemburu maka dia juga boleh mengambil upah dari profesinya tersebut. Begitu pula dibolehkan seseorang menjual anjing pemburu atau anjing pelacak.

Kebolehan ini karena berkaitan dengan anjing-anjing yang memang diizinkan secara syariat untuk dipelihara. Karena anjing tersebut diizinkan, maka diizinkan pula dalam hal jual belinya, perawatannya, dan lain semisalnya. Lain halnya dengan anjing-anjing yang tidak diizinkan secara syariat, seperti anjing hias untuk tinggal di rumah dan yang semisalnya, maka manfaat yang didapatkan atas hal tersebut juga haram hukumnya.

Firman Allah:

وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Ingatlah bahwa ini semua merupakan hukum fikih yang harus dipelajari. Jika kalian memiliki hewan pemburu maka janganlah berbuat sesukanya. Hendaklah selalu bertakwa kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

BACA JUGA: Penegasan tentang Hewan-Hewan yang Haram untuk Dimakan

Imam Al-Qurthubi menyebutkan makna dari “Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”, di antaranya adalah:

  1. Karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu maka Allah menghisab untuk menegakkan hujjah, dan sejatinya Allah telah mengetahui semua hasil amalan para hamba-Nya. Karena itu, Allah tidak memerlukan upaya hitung-menghitung sebagaimana halnya yang dilakukan oleh makhluk.
  2. Semua dihisab di dalam satu waktu, sebagaimana halnya Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya di dalam satu waktu. Demikian pula dengan hisab. Setiap orang Mukmin merasa berdua dengan Allah, tetapi sejatinya Allah melakukan itu semua kepada makhluk-makhluk-Nya. Adapun tentang kaifiat dan mekanismenya maka itu adalah urusan Allah. Kita tidak mengetahuinya.
  3. Hisab tersebut segera tiba, sebagaimana Hari Kiamat sudah dekat kedatangannya. Setiap kali seorang hamba berbuat keburukan maka hendaklah ia ingat bahwa sebentar lagi ada hisab. Setiap orang akan tiba saat kematiannya, lalu dibangkitkan pada Hari Kiamat dan segera tiba hisab tersebut.
  4. Balasan sebagai konsekuensi hisab itu segera tiba.[]

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH Al-MA’IDAH, Karya: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response