Historia/Tarikh

Kisah Hijrah Rasulullah: Memasuki Kota Madinah

Foto: Pixabay
35views

Seusai shalat Jumat, Nabi ﷺ memasuki kota Madinah. Dan, dari sejak hari itu, kota Yatsrib dinamakan dengan Madinatul Rasul (kota Rasulullah) yang kemudian diungkapkan dengan Madinah supaya lebih ringkas. Hal itu adalah hari bersejarah yang amat agung. Rumah-rumah dan lorong-lorong ketika itu bergemuruh pekikan tahmid (pujian) dan taqdis (penyucian).

BACA JUGA: Kisah Hijrah Rasulullah: Menuju Madinah

Wanita-wanita Anshar menyanyikan bait-bait berikut sebagai ekspresi kegembiraan dan keriangan:

Bulan purnama telah menyinari kita

Dari Tsaniyyatul Wada

Kita wajib bersyukur

Selama ada yang berdoa kepada Allah

Wahai orang yang diutus kepada kami

Engkau telah membawa perkara yang ditaati

Sekalipun orang-orang Anshar bukan orang-orang yang banyak harta, masing-masing individu bercita-cita rumahnya disinggahi oleh Rasulullah ﷺ. Saat mereka melewati satu per satu rumah orang-orang Anshar, mereka mengambil tali unta beliau, begitu juga perbekalan, perlengkapan, senjata, dan tameng. Setiap mereka lakukan demikian, beliau selalu berkata kepada mereka, “Biarkan dia lewat karena ia telah diperintahkan”.

Unta ini masih saja berjalan bersama Rasulullah ﷺ yang menungganginya hingga mencapai lokasi Masjid Nabawi sekarang ini, lalu ia duduk sementara beliau belum turun darinya hingga ia bangkit lagi dan berjalan sedikit lagi, kemudian ia menoleh lantas kembali lagi dan duduk di posisi semula. Barulah beliau turun darinya. Itu adalah kediaman Bani An-Najjar, para paman beliau dari pihak ibundanya. Hal tersebut merupakan taufik Allah kepada mereka. Sesungguhnya beliau sangat ingin singgah di rumah para pamannya tersebut agar dapat memuliakan mereka dengan hal itu. Orang-orang menawari Rasulullah ﷺ agar singgah di kediaman mereka. Lalu, Abu Ayyub Al-Anshari bergegas mengambil sarung pelana milik beliau dan membawanya masuk ke rumahnya. Maka, Rasulullah ﷺ berkata, “Seseorang akan ikut bersama sarung pelananya”. Lantas, datanglah As’ad bin Zurarah sembari mengambil kendali untanya yang kebetulan berada di sisinya.

BACA JUGA: Kisah Hijrah Rasulullah: Awal Perjalanan

Dan, dalam riwayat Anas pada Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Nabi Allah ﷺ berkata, ‘Mana rumah keluarga kami yang lebih dekat?’ Maka, berkatalah Abu Ayyub, ‘Aku, wahai Rasulullah! Ini rumahku dan ini pintunya’. Lalu, disiapkanlah unta kami tempat tidur siang. Beliau berkata, ‘Bangunlah kalian berdua atas berkah Allah'”.

Setelah beberapa hari, istri beliau, Saudah, dan kedua putri beliau, Fathimah dan Ummu Kultsum, tiba di Madinah bersama Usamah bin Zaid dan Ummu Aiman. Selain mereka, Abdullah bin Abu Bakar beserta keluarga besar Abu Bakar, di antaranya Aisyah juga berangkat bersama dan tiba di Madinah. Sementara itu, Zainab masih tinggal bersama Abul Ash, suaminya. Dia tidak dapat berangkat hingga usai Perang Badar, barulah dapat melakukannya.

Aisyah menuturkan, “Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal diserang sakit, lalu aku mengunjungi keduanya sembari berkata, ‘Wahai, Ayahanda! Bagaimana keadaanmu? Wahai, Bilal! Bagaimana keadaanmu? Bila diserang demam Abu Bakar selalu bersenandung:

Setiap pagi orang selalu berada di sisi keluarganya

Namun, kematian lebih dekat daripada tali sandalnya

Sementara bila demam sudah hilang dari Bilal, dia mengencangkan suaranya sembari melantunkan syair:

Semoga saja aku menghabiskan suatu malam

Di suatu lembah dan di sekelilingku

Idzkhir dan orang mulia

Semoga saja suatu hari aku membawa air dari Majinnah

Semoga saja dan bayangan tampak bagiku.

BACA JUGA: Hijrah Pertama Pengikut Rasulullah ke Habasyah

Aisyah berkata, “Lalu, aku mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengabarkan keadaan tersebut. Beliau bersabda, ‘Ya Allah, anugerahilah kecintaan terhadap Madinah kepada kami sebagaimana kecintaan kami kepada Mekkah bahkan lebih dari itu lagi. Jadikanlah ia tempat yang sehat, berkahilah sha’ dan mudd (timbangan) penduduknya serta pindahkanlah penyakit demam yang ada di dalamnya ke Juhfah.

Hingga di sini, berakhirlah satu bagian dari kehidupan Rasulullah ﷺ dan merupakan akhir separuh dakwah Islam, yaitu fase Mekkah.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Karya: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response