Historia/Tarikh

Tahun Kesedihan yang Dialami Rasulullah

foto: Pixabay
34views

Rasulullah ﷺ pernah mengalami tahun yang di dalamnya penuh dengan kesedihan. Di antara kesedihan-kesedihan yang dialami oleh Rasulullah ﷺ akan dikemukakan dalam tulisan Ini.

Abu Thalib Wafat

Sakit yang dialami oleh Abu Thalib semakin payah. Maka tak lama dari itu, beliau menemui ajalnya yaitu pada bulan Rajab tahun 10 dari kenabian. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau wafat pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum Khadijah wafat.

Dalam Ash-Shahih disebutkan dari Sa’id bin Al-Musayyib bahwa Abu Thalib dalam keadaan sekarat. Nabi ﷺ mengunjunginya sementara di sisinya sudah ada Abu Jahal. Beliau bertutur kepadanya, “Wahai Pamanku! Katakanlah, Laa ilaaha illallah, kalimat ini akan  aku jadikan hujjah untukmu di sisi Allah.'”

BACA JUGA: Ragam Cara Abu Jahal Menghalangi Dakwah Rasulullah

Namun, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah memotong, “Wahai Abu Thalib! Sudah bencikah engkau terhadap agama Abdul Muthalib?” Keduanya terus mendesaknya demikian hingga kalimat terakhir yang diucapkan kepada mereka adalah “Aku masih tetap dalam agama Abdul Muthalib”. Nabi ﷺ berkata, “Aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang melakukannya.” Namun, kemudian turunlah ayat dalam Surah At-Taubah (9) ayat 113:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

Tidak ada hak bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik sekalipun mereka ini kerabat(-nya), setelah jelas baginya bahwa sesungguhnya mereka adalah penghuni (neraka) Jahim.

Dan dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 56:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk.

Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana pengorbanan dan perlindungan yang diberikan oleh Abu Thalib. Dia adalah benteng tempat berlindungnya dakwah Islamiyah dari serangan para pembesar Quraisy. Namun sayang, dia tetap memilih agama nenek moyangnya sehingga sama sekali tidak membawanya meraih kemenangan.

BACA JUGA: Delegasi Terakhir Kaum Quraisy Berkunjung ke Abu Thalib

Dalam Ash-Shahih dari Al-Abbas bin Abdul Muthalib, dia berkata kepada Nabi ﷺ, “Apakah engkau tidak memedulikan pamanmu lagi, padahal dia-lah yang melindungimu dan berkorban untukmu?” Beliau bersabda, “Dia berada di neraka yang paling ringan. Andaikata bukan karena aku, niscaya dia sudah berada di neraka yang paling bawah.”

Abi Sa’id meriwayatkan bahwa dia mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Semoga saja syafaatku bermanfaat baginya pada Hari Kiamat, lalu dia ditempatkan di neraka paling ringan yang (ketinggiannya) mencapai dua mata kaki.”

Khodijah Berpulang ke Rahmatullah

Setelah 2 bulan atau 3 bulan dari wafatnya Abu Thalib, Ummul Mukminin, Khadijah Al-Kubro pun wafat. Tepatnya, pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah dari kenabian dalam usia 65 tahun, sedangkan Rasulullah Saw. kala itu berusia 50 tahun.

Sosok Khodijah merupakan nikmat Allah yang paling agung bagi Rasulullah ﷺ. Selama seperempat abad hidup bersamanya, dia senantiasa menghibur saat beliau cemas, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalahnya, ikut serta bersama beliau dalam rintangan yang menghadang jihad, dan selalu membela beliau, baik dengan jiwa maupun hartanya. Untuk mengenang itu, Rasulullah ﷺ bertutur, “Dia telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia membenarkanku saat manusia mendustakan, dia mengeluarkan hartanya untukku saat manusia tidak mau memberikannya. Allah mengaruniaiku anak darinya, sementara tidak dikaruniakan kepadaku dari selainnya.”

Di dalam Ash-Shahih dari Abu Hurairah, dia berkata, “Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah! Inilah Khadijah. Dia telah datang dengan membawa lauk-pauk, makanan, atau minuman. Bila dia nanti mendatangimu, sampaikan salam Rabb-nya kepadanya dan kabarkanlah rumah untuknya di surga yang terbuat dari permata bambu yang tidak ada kebisingan dan keletihan di dalamnya.’”

BACA JUGA: Menjadi Pedagang, Menikahi Khadijah, dan Memiliki Keturunan: Masa Dewasa Rasulullah

Kesedihan Datang Silih Berganti

Dua peristiwa sedih tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif berdekatan sehingga perasaan sedih dan pilu menyayat-nyayat hati Rasulullah ﷺ Kemudian cobaan demi cobaan terus datang secara beruntun pula dari kaumnya. Sepeninggal Abu Thalib, tampaknya mereka semakin berani terhadap beliau. Mereka dengan terang-terangan menyiksa dan menyakiti beliau. Lengkap sudah kesedihan yang dialaminya hingga membuat beliau hampir putus asa untuk mendakwahi mereka. Karenanya, beliau pergi menuju ke Thaif dengan harapan penduduknya mau menerima dakwah beliau, melindungi dan menolong beliau melawan perlakuan kaumnya. Akan tetapi, beliau sama sekali tidak melihat ada seorang pun yang mau melindungi dan menolong. Bahkan sebaliknya, mereka menyiksa dan memperlakukannya dengan yang lebih sadis daripada apa yang dilakukan oleh kaumnya sendiri.

Siksaan yang begitu keras tidak saja dialami nabi, tetapi para sahabatnya ikut mendapatkannya. Hal ini membuat teman akrab beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berhijrah dari Mekkah. Ketika dia sudah mencapai suatu tempat yang bernama Barkul Ghimad, dengan tujuan utama ke arah Habasyah, Ibnud Dadhinah mengajaknya pulang dan meminta suaka.

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abu Thalib wafat kaum Quraisy menyiksa Rasulullah ﷺ dengan siksaan yang semasa hidupnya tidak berani mereka lakukan. Lebih dari itu, salah seorang begundal Quraisy menghalangi jalan beliau, lalu menaburi debu ke arah kepala beliau. Tatkala beliau masuk rumah dalam kondisi demikian, salah seorang anak perempuan beliau menyongsongnya dan membersihkan debu tersebut sembari menangis. Beliau berkata kepadanya, “Jangan menangis, aduhai anakku! Sesungguhnya Allah-lah yang akan menolong ayahandamu.” Ibnu Ishaq melanjutkan, “Jika mengingat hal itu, beliau selalu berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan suatu perlakuan yang tidak aku sukai dari Quraisy hingga Abu Thalib wafat.”

BACA JUGA: Tipu Daya Para Thaghut Quraisy untuk Membunuh Nabi Muhammad

Karena beruntunnya kesedihan demi kesedihan pada tahun ini maka tahun ini disebut Amul Huzn (Tahun Kesedihan) sehingga sebutan ini lebih dikenal di dalam buku-buku sejarah.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH: Sejarah Hidup Nabi Muhammad, Karya: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Penerbit: Ummul Qura

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response