Kisah Al-Quran

Dzulkarnain dan Kemampuan Membuat Dinding Besi yang Kokoh

Foto: Pixabay
29views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 98:

قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ

Dia (Dzulkarnain) berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku maka apabila janji Tuhanku sudah datang dia akan menghancurluluhkannya, dan janji Tuhanku itu benar.”

Dzulkarnain dikenal memiliki kehebatan dalam hal membuat dinding besi. Namun, kehebatan teknologi yang dilakukan oleh Dzulkarnain dalam membuat dinding besi ternyata tidak menjadikannya bangga, sombong, dan ujub. Bahkan, dia mengatakan bahwa dia bisa melakukan itu semua karena rahmat dan karunia dari Allah. Banyak sekali dalam kisah Dzulkarnain ini dia menyebutkan kata رَّبِّيْۚ “Tuhanku” yang menunjukkan bahwa dia selalu menisbahkan segala kelebihan yang dia miliki kepada Allah. Ini juga sebagaimana yang dikatakan Nabi Sulaiman yang tercantum dalam Surah An-Naml (27) ayat 40:

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur aku mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Siapa Sesungguhnya Dzulkarnain

Apa yang dikatakan Nabi Sulaiman dan Dzulkarnain tidak seperti sebagian orang yang mengatakan bahwa dirinya kaya karena pintar, cerdas, dan banyak pengalaman; tidak sebagaimana sebagian orang yang mengatakan bahwa dia mendapat jabatan yang bagus karena kepintarannya dan sebab-sebab lain yang dia sandarkan kepada dirinya. Mereka lupa bahwasanya semua berasal dari Allah. Dia lupa bahwasanya betapa banyak orang yang pintar tetapi ternyata tidak kaya seperti dia, betapa banyak orang yang memiliki IQ yang lebih tinggi tetapi tidak kaya seperti dia. Ketahuilah bahwa sikap lupa terhadap nikmat Allah ini adalah seperti sikap Qarun yang berkata sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 78:

قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ

Sesungguhnya aku diberi (harta itu) semata-mata karena ilmu yang ada padaku.

Berbeda dengan Dzulkarnain, tatkala dia mendapatkan kenikmatan bisa membangun dinding yang sangat kokoh ini, dia tidak ujub. Bahkan, dia mengatakan:

قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ

(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku.

Dzulkarnain meyakini bahwa semua karunia itu dari Allah, padahal jika kita melihat kekuasaan beliau maka tidak ada yang kurang pada dirinya. Dia adalah raja, dia memiliki daerah kekuasaan yang luar biasa luasnya, dia memiliki kecerdasan dan teknologi yang luar biasa, tetapi dia mengatakan bahwa itu semua rahmat dari Allah. Ini merupakan pelajaran yang besar untuk kita bahwa, ketika kita menceritakan keberhasilan kepada orang lain, maka jangan lupa untuk menyandarkan kepada Allah dan juga jangan lupa untuk memperbanyak memuji Allah. Jangan sampai memberikan kesan sedikit pun kepada orang lain bahwa hal itu diperoleh karena kehebatan kita. Kapan saja kita mengesankan bahwa itu karena kehebatan kita maka inilah ujub. Semua itu akan terlihat dari cara berbicara seseorang, berbeda antara orang yang benar-benar menyandarkan semuanya karena Allah dan orang yang memuji Allah tetapi di sela-sela ucapannya dia memasukkan kata-kata yang seakan-akan dia memiliki andil atas keberhasilannya tersebut. Ini adalah ujub yang masuk di sela-sela pujian kepada Allah.

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّ

Maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya, dan janji Tuhanku itu benar.

BACA JUGA: Kisah Dzulqarnain dalam Al-Quran

Dzulkarnain dalam ayat ini mengingatkan bahwa, jika telah tiba keputusan Allah pada suatu hari, maka dinding yang dia buat bersama rakyatnya itu akan jadi luluh. Artinya, dinding tersebut tidak bisa bertahan selama-lamanya. Suatu saat akan luluh, yaitu jika Allah telah berkehendak. دَكَّاۤءَۚ artinya hancur kemudian hancur dan rata dengan tanah. Ini menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa. Dengan kuasa Allah, Dzulkarnain bisa membangun sebuah dinding yang hebat yang terdiri atas tembaga dan besi dengan campuran tertentu dengan sistem pembuatan yang luar biasa. Juga kelak akan ada suatu waktu, dengan kuasa Allah juga. Ya’juj dan Ma’juj bisa meratakan dinding tersebut dengan tanah.

Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Laa ilaaha ilallah, Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti air”. Beliau memberi isyarat dengan melingkarkan jari jempolnya dengan jari sebelahnya.

Waktu terbukanya dinding tersebut adalah ketika tiba waktu mereka keluar, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis-hadis shahih dan sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surah Al-Anbiya (21) ayat 96:

حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menceritakan tentang pekerjaan Ya’juj dan Ma’juj setiap harinya. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj menggali lubang setiap harinya. Ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka yang pemimpin mereka berseru, ‘Kembalilah, kita akan menggalinya esok hari’. Maka, Allah mengembalikannya melebihi dari yang sebelumnya (tertutup kembali) dan ketika masa mereka (menjelang Hari Kiamat) telah sampai, dan Allah hendak mengirim mereka kepada manusia, maka mereka kembali menggali sampai ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari. Maka, salah satu dari yang pemimpin mereka berseru, ‘Kembalilah, kalian akan menggalinya esok hari, Insya Allah’. Maka, mereka menunggu, lalu mereka kembali lagi ke tempat penggalian, mereka mendapati bentuknya masih seperti semula di saat mereka meninggalkannya. Maka, mereka terus menggalinya dan akhirnya mereka dapat keluar kepada manusia.”

Ternyata, karena mereka mengatakan Insya Allah akhirnya Ya’juj dan Ma’juj akan keluar di penghujung zaman. Waktu keluarnya Ya’juj dan Ma’juj adalah setelah turunnya Nabi Isa. Nabi Isa membunuh Dajjal, baru setelah itu Allah memerintahkan Nabi Isa agar membawa hamba-hamba-Nya untuk pergi ke gunung.

BACA JUGA: Kisah-Kisah yang Terdapat dalam Surah Al-Kahfi (Bagian Pertama)

Disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Muslim, “Tiba-tiba Isa, putra Maryam, turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju berwantek za’faran seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat. Bila ia menundukkan kepala, air menetes dan bila ia mengangkat kepala, keringat bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau darinya kecuali mati dan bau nafasnya sejauh matanya memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd, lalu membunuhnya. Setelah itu, Isa Putra Maryam  mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Beliau mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga. Saat mereka seperti itu, Allah mewahyukan padanya, ‘Sesungguhnya aku telah mengeluarkan hamba-hambaku (yaitu Ya’juj dan Ma’juj), tidak ada yang bisa memerangi mereka karena itu giringlah hamba-hamba-Ku ke Thur.’” (HR.Muslim No. 2937)

Dajjal masih bisa dikalahkan oleh Nabi Isa. Adapun Ya’juj dan Ma’juj maka tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Ini menunjukkan mereka hebat luar biasa. Selain mereka sangat bengis, mereka juga memiliki jumlah yang sangat banyak. Pada zaman Dzulkarnain, mereka sudah melakukan kerusakan. “Mereka berkata, ‘Wahai, Dzulkarnain! Sungguh, Ya’juj dan Ma’uj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi. Maka, bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?

Ini terjadi pada zaman Dzulkarnain, yaitu ribuan tahun yang lalu. Kemudian, pada Hari Kiamat Allah mengatakan, “Sesungguhnya aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku (Ya’juj dan Ma’juj), tidak ada yang bisa memerangi mereka, karena itu giringlah hamba-hamba-Ku ke Thur“.

Kemudian, keluarlah Ya’juj dan Ma’juj dan mereka melakukan kerusakan. Tidaklah mereka melewati suatu tempat kecuali mereka akan menghancurkannya. Sampai-sampai disebutkan dalam kelanjutan hadis di atas, “Lalu kelompok yang terdepan melintasi danau Thabariyah dan meminumnya, kemudian kelompok yang lain di belakang melintasi mereka berkata, ‘Tadi di sini ada airnya.'”

Ini disebabkan jumlah mereka yang sangat banyak. Bahkan, dengan sombongnya mereka mengatakan, “’Sungguh kita telah membunuh penduduk yang ada di bumi maka ayo kita bunuh penghuni yang berada di langit’. Mereka pun melemparkan panah-panah mereka ke arah langit maka Allah mengembalikannya dengan penuh berlumuran darah.” (HR. Muslim No. 2937)

Mereka mengarahkan panah tersebut dengan harapan bisa membunuh penduduk langit, lalu Allah mengembalikan panah tersebut dengan berlumuran darah sebagai tipuan sehingga mereka menganggap bahwa mereka telah berhasil membunuh penduduk langit. Padahal sejatinya panah mereka tidak mengenai apapun titik tipuan ini membuat mereka berada di puncak kesombongannya. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu maka Allah mengirimkan ulat di leher mereka, “Lalu Allah mengirimkan ulat di leher mereka lalu mereka mati seperti matinya satu jiwa.” (HR.Muslim No. 2937)

BACA JUGA: Kisah-Kisah yang Terdapat dalam Surah Al-Kahfi (Bagian Kedua-Habis)

Kemudian, akhirnya Nabi Isa berdoa kembali kepada Allah karena setelah kebinasaan Ya’juj dan Ma’juj muncul bau busuk bangkai mereka. “Lalu Allah mengirim burung bentuknya seperti leher unta. Burung itu membawa mereka dan melemparkan mereka ke tempat yang dikehendaki Allah. Lalu, Allah mengirim hujan. Tidak ada satu pun rumah, baik dari bulu atau rumah dari tanah yang menghalangi turunnya hujan tersebut. Hujan itu membasahi bumi hingga menjadikan bumi seperti kaca (yang bersih). (HR. Muslim No. 2937)

Setelah mereka semua tewas, yang tersisa adalah busur-busur mereka yang kemudian digunakan oleh kaum muslimin selama tujuh tahun sebagai kayu bakar. (HR. Ibnu Majah No. 4076 dan dishahihkan oleh Al-Albani)[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, Karya: Ust. Firanda Andirja. Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response