Kisah Al-Quran

Permasalahan terkait Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodir (Bagian Kedua-Habis)

foto: Pixabay
35views

Sebelumnya, Baca:Permasalahan terkait Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodir (Bagian Pertama)

Ketiga: tidak benar pernyataan bahwa seorang wali tatkala mencapai hakikat boleh keluar dari syariat

Sebagian orang zindiq menyatakan demikian dan berdalil dengan kisah Musa dan Al-Khodir karena Al-Khodir melakukan hal-hal yang keluar dari syariat Nabi Musa. Jika demikian, siapa pun yang telah mencapai derajat Al-Khodir, maka ia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad ﷺ. Pernyataan ini terbantah dari beberapa sisi:

Pertama, kita katakan bahwa pendapat mereka (yang mengatakan bolehnya keluar dari syariat tatkala mencapai tingkat tertentu) adalah batil. Ijmak ulama sepakat bahwa siapa saja yang meyakini bahwa seorang boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad ﷺ maka dia telah kafir. Memang, para ulama khilaf tentang hukum oang yang meninggalkan shalat tetapi masih meyakini kewajiban shalat. Namun, berbeda halnya jika ada seseorang mengatakan ia boleh meninggalkan shalat tatkala telah mencapai hakikat, maka para ulama sepakat bahwa dia telah kafir. Maka dari itu, jika shalat saja ditinggalkan bisa menjadikan diri kafir, apalagi jika menyelisihi syariat Nabi Muhammad ﷺ secara umum.

Kedua, Nabi Khodir bukanlah termasuk umat Nabi Musa. Nabi Musa tidak pernah diutus oleh Allah kepada Khodir, melainkan diutus kepada Bani Israil. Sedangkan, yang diutus untuk seluruh umat hanyalah Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana sabda beliau, “Aku telah diutus dengan lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi sebelumku: (di antaranya) dan para nabi terdahulu diutus untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia.”

Oleh karenanya, dalam kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodir, mereka tidak saling mengenal. Nabi Khodir juga tidak mengenal Nabi Musa. Tatkala Nabi Musa tidak pernah diutus kepada Nabi Khodir maka ini menunjukkan bahwa Nabi Khodir boleh menyelisihi syariat Nabi Musa. Tidak ada kezaliman bagi Nabi Khodir untuk mengikuti syariat Nabi Musa. Seandainya Nabi Khodir menyelisihi syariat Nabi Musa maka tidak mengapa karena beliau bukanlah termasuk umat Nabi Musa.

Ketiga, Nabi Khodir tidak menyelisihi syariat Nabi Musa. Buktinya ketika Nabi Khodir menjelaskan kepada Nabi Musa tentang makna perbuatannya, Nabi Musa tidak mengingkari jawabannya. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Khodir sesuai dengan syariat Nabi Musa.

BACA JUGA: Ketika Nabi Musa Berniat untuk Menuntut Ilmu

Keempat: apakah Nabi Khodir masih hidup?

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Al Khodir masih hidup hingga saat ini. Namun, tentu seandainya Nabi Khodir masih hidup hingga saat ini pun tetap tidak akan mengubah syariat Nabi Muhammad ﷺ yang sudah sempurna. Yang menjadi masalah adalah bahwasanya sebagian kaum sufi memiliki ritual ibadah tertentu yang baru dan zikir-zikir tertentu, yang di dalamnya mereka mengaku bahwa yang mengajarkan kepada mereka adalah Nabi Khodir, atau mereka mendapatkan sanadnya sampai ke Al Khodir.

Namun, pendapat yang lebih kuat bahwasanya Nabi Khodir telah meninggal. Ibnul Jauzi berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Khodir telah tiada (wafat) di atas muka bumi ini ada empat perkara, yaitu Al-Quran, sunnah, ijmak ulama para ahli tahqiq, dan akal sehat.”

Jika kita perinci maka ada beberapa dalil, yaitu:

Pertama, dalil dari Al-Quran yang pertama, yakni yang tercantum dalam Surah Al-Anbiya (21) ayat 34:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍۢ مِّن قَبْلِكَ ٱلْخُلْدَ ۖ أَفَإِي۟ن مِّتَّ فَهُمُ ٱلْخَـٰلِدُونَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang pun manusia sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?

Kedua, adanya dalil dari Al-Quran yang kedua.

Jika Khodir masih hidup sampai sekarang maka usianya tentu sudah mencapai ribuan tahun, jika dihitung sejak zaman Nabi Musa hingga sekarang. Tentu ini merupakan mukjizat tersendiri, sementara para nabi sebelumnya hanya berusia kurang lebih 1000 tahun. Misalnya, Nabi Adam usianya hanya 990 tahun dan Nabi Nuh 1000 tahun lebih. Tentang hal ini, Allah berfirman yakni yang tercantum dalam Surah Al-Ankabut (29) ayat 14:

فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًۭ

Maka ia tinggal di antara mereka 1000 tahun kurang 50 tahun….

Usia Nabi Nuh disebutkan oleh Allah karena termasuk angka yang menakjubkan. Jika Nabi Khodir usianya ribuan tahun, tentulah Allah sebutkan di dalam Al-Quran. Namun, kita tidak dapati keterangan tersebut karena, jika usia Khodir hingga beribu-ribu tahun tentu ini merupakan salah satu tanda besar dari rububiyah Allah.

Ketiga, dalil dalam As-Sunnah yang disampaikan oleh Imam Al-Bukhari. Beliau pernah ditanya apakah Nabi Khodir masih hidup atau telah meninggal, maka beliau menjawab, “Bagaimana dia (Khodir) masih hidup? Sedangkan, Nabi ﷺ telah berkata (kepada para sahabat), ‘Bagaimana menurut kalian malam ini? Sesungguhnya setelah 100 tahun setelah malam ini, tidak seorang pun di atas muka bumi ini akan hidup”.

Artinya, kalau Nabi Khodir masih hidup pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, 100 tahun setelah malam tersebut dia akan meninggal. Sedangkan, saat ini sudah berlalu 1400 tahun lebih setelah malam tersebut. Dengan demikian, ini menjadi dalil yang menguatkan bahwa Nabi Khodir telah meninggal.

Kemudian, orang-orang sufi mengatakan bahwa hadis Nabi Muhammad ﷺ tidak bertentangan karena hanya khusus untuk manusia di atas muka bumi, sedangkan Nabi Khodir berada di atas langit dan tidak di atas muka bumi. Maka, terdapat bantahan dari hadis Rasulullah ﷺ yang bersifat umum. Beliau bersabda, “Tidak ada satu jiwa pun yang hidup saat ini, dia tidak akan hidup setelah seratus tahun setelah hari ini.”

Keempat, dalil akal yang menunjukkan bahwa Nabi Khodir telah meninggal di antaranya adalah sebagaimana perumpamaan sabda Nabi ﷺ, “Jika Nabi Musa hidup di zamanku maka dia pasti akan mengikutiku”.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa dan Seseorang yang Beliau Tak Sabar Terhadapnya

Oleh karena itu, jika Nabi Khodir masih hidup, tentunya dia akan menjadi pengikut Nabi Muhammad ﷺ. Akan tetapi, Nabi Khodir tidak didapati ketika terjadinya Perang Badar. Sampai-sampai Nabi berijtihad dan berdoa kepada Allah, “Ya Allah kalau seandainya kami yang sedikit ini meninggal dunia maka engkau tidak akan disembah di atas muka bumi ini.”

Ketahuilah bahwa jin banyak mengaku sebagai Khodir karena tidak ada riwayat yang sampai kepada kita tentang ciri-cirinya. Sedangkan, Nabi Muhammad ﷺ tidak dapat ditiru oleh jin karena kita mengetahui standarisasi ciri-ciri beliau dalam hadis-hadis sahih. Dengan demikian, kita bisa menanyakan kepada orang yang mengatakan bermimpi bertemu Nabi ﷺ, sedangkan Nabi Khodir tidak kita dapati bagaimana ciri-cirinya dan dikhawatirkan bahwa yang mengaku sebagai Khodiir tersebut adalah jin.

Oleh karena itu, perkataan orang-orang sufi yang menyatakan bahwa Nabi Khodir masih hidup dan berjalan di atas muka bumi (yang terkadang bertemu dan memberi wasiat kepada guru mereka) ini adalah khurafat di kalangan mereka).[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, karya Ust. Firanda Andirja, Penerbit Ustadz Firanda Andirja Office

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response