Ibrah

Larangan untuk Tidak Berbangga dan Menyombongkan Diri

39views

Orang-orang Mukmin yang komitmen dan sabar telah menasihati Qarun serta melarangnya bertingkah congkak, berbangga-bangga, dan sombong. Mereka berkata sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 76:

 لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

Janganlah engkau terlalu berbangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.

Kadang-kadang, sebagian orang merasa aneh dan heran apakah berbangga-bangga itu haram sehingga dilarang? Apakah Allah tidak menyukai semua yang membanggakan diri? Apakah kita dilarang berbangga (bersenang-senang) lalu hidup dalam kesedihan selamanya agar dicintai Allah? Semua manusia senantiasa bersenang-senang dan menyukai hal ini untuk selamanya. Lantas, apa maksud larangan untuk tidak berbangga-bangga (bersenang-senang)?

BACA JUGA: Ringkasan Kisah Qarun dalam Al-Quran

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,marilah kita perhatikan sekilas uraian Al-Quran tentang farah. Ar-Raghib berkata, “Al-farah adalah kelapangan dada karena memperoleh kesenangan duniawi yang biasanya bersifat fisik atau materi”. Jika memerhatikan ayat-ayat Al-Quran, kita akan menemukan kata al-farah terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian yang diperbolehkan dan bagian yang diharamkan atau dilarang.

Adapun berbangga yang diperbolehkan ialah berlapang dada dan ridha atas segala nikmat yang Allah berikan untuk hal-hal yang diridhai Allah. Nikmat ini tidak boleh membuat seseorang takabur dan sombong serta tidak boleh menjadikannya sebagai tujuan hidup. Allah berfirman dalam Surah Yunus (10) ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.

Ayat tersebut memerintahkan dan memotivasi untuk berbangga (bersenang-senang) serta menjelaskan sikap bangga yang diperbolehkan, yaitu senang atas segala karunia dan nikmat-Nya. Kesenangan ini lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 169-170:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya, mereka hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya.

Syuhada itu hidup senang dalam surga dengan menikmati karunia Allah.

BACA JUGA: Kisah Qarun, Orang Kaya yang Teramat Sombong

Adapun berbangga yang tidak diperbolehkan ialah berbangga atau bersukaria yang diharamkan, yaitu sikap bangga yang bisa membuat seseorang sombong dan lupa diri. Allah berfirman dalam mengecam orang-orang kafir, sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al-Ghafir (40) ayat 75:

ذٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُوْنَ

Yang demikian karena engkau bersukaria di bumi tanpa (alasan) yang benar dan karena engkau selalu bersukaria (dalam kemaksiatan).

Orang-orang kafir bersenang-senang dengan tidak benar. Kesenangan itu telah membuat mereka bersuka ria, sombong, takabur, dan berbangga diri. Selanjutnya, Allah berfirman dalam Surah Hud (11) ayat 9-10:

وَلَىِٕنْ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُۚ اِنَّهٗ لَيَـُٔوْسٌ كَفُوْرٌ (9) وَلَىِٕنْ اَذَقْنٰهُ نَعْمَاۤءَ بَعْدَ ضَرَّاۤءَ مَسَّتْهُ لَيَقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْ ۗاِنَّهٗ لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ (10)

Sungguh, jika Kami mencicipkan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, lalu Kami mencabut kembali darinya, sesungguhnya dia menjadi sangat berputus asa lagi sangat kufur (terhadap nikmat Allah). (9) Sungguh, jika kami mencicipkan kepadanya (manusia) suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang keburukan itu dariku”. Sesungguhnya dia sangat gembira dan sangat membanggakan diri.

Orang yang berbangga atau bersukaria dengan kenikmatan Allah melalui keceriaan yang membuatnya sombong, takabur, berbangga diri, dan merusak adalah orang dungu yang tertipu oleh kesenangan dan juga seorang yang berpandangan sempit. Kenikmatan apa saja yang ada di hadapannya, baik harta kekayaan, kemegahan, kekuatan, kesehatan, maupun kecantikan adalah nikmat dan karunia Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, kapan saja, dan berapa pun yang dikehendaki-Nya. Dia pun berkuasa untuk mencabut kenikmatan ini dari siapa pun, kapan saja, sehendak-Nya, dan tiada seorang pun yang dapat mencegah-Nya.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Kisah Qarun Bersamaan dengan Kisah Firaun

Bagaimana seseorang membanggakan sesuatu yang bukan miliknya dan tidak kekal di tangannya? Bukankah kita bisa mengatakan bahwa perbuatan seperti itu adalah sikap dungu dan menipu diri? Bahkan, sikap seperti ini bisa menghancurkannya dan menyebabkan Allah murka kepadanya serta mengharamkan dirinya dari kecintaan dan keridhaan-Nya. Hal ini sebagaimana dalam Surah Al-Qashash (28) ayat 76:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.[]

 

SUMBER: KISAH-KISAH DALAM AL-QURAN: Orang-Orang yang Dimuliakan dan Dihinakan Allah, karya Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, Penerbit Gema Insani

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response