Ibrah

Ketika Nabi Musa Berniat untuk Menuntut Ilmu

foto: Unsplash
42views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 60:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Pada ayat ini dan ayat selanjutnya, Allah mulai bercerita tentang pertemuan dua hamba, bahkan dua nabi yang mulia, yaitu Nabi Musa dan Nabi Khodir. Murid Nabi Musa yang disebutkan dalam ayat ini adalah Yusya’ bin Nun. Yusya’ bin Nun adalah orang yang nantinya akan menjadi nabi setelah Nabi Musa dan Nabi Harun meninggal dunia. Dia-lah orang yang pernah berjihad kemudian berdoa kepada Allah agar matahari tidak ditenggelamkan sehingga dia bisa menyelesaikan perangnya ketika melawan musuhnya, lalu Allah kabulkan doanya.

BACA JUGA: Kisah Nabi Musa dan Seseorang yang Beliau Tak Sabar Terhadapnya

Pembahasan tentang kisah pertemuan antara dua nabi yang mulia ini merupakan pembahasan yang cukup penting karena sebagian orang Sufiyah yang ekstrem berdalil dengan pertemuan kedua nabi ini untuk membenarkan akidah dan kebatilan yang mereka yakini. Di antaranya mereka berdalil dari pertemuan kedua nabi tersebut dengan menyatakan bahwasanya wali Allah itu lebih utama daripada nabi. Menurut mereka, Nabi Khadir lebih utama daripada Nabi Musa. Berikut ini adalah perkataannya Ibnu ‘Arabi: “Kedudukan Nabi berada di pertengahan, yaitu sedikit di atas Rasul dan di bawah Wali”.

Jadi, menurut Ibnu ‘Arabi, urutan dari yang tertinggi adalah wali, lalu nabi, baru kemudian rasul. Padahal, urutan yang benar adalah sebaliknya; yang tertinggi adalah rasul, lalu nabi, baru kemudian wali. Mereka berdalil dengan kisah Nabi Musa yang belajar kepada Nabi Khodir, mereka anggap Khodir sebagai wali.

Mereka juga menyatakan bahwa agama ini terbagi menjadi dua, yaitu syariat dan hakikat, sehingga barang siapa yang telah mencapai hakikat mereka boleh keluar atau boleh melakukan segala hal yang dilarang oleh syariat. Dengan demikian, kita dapati sebagian orang yang mengaku sebagai wali dari kalangan sufi ekstrem meninggalkan shalat, meminum khamr, dan melakukan maksiat yang lain. Mereka berdalil dengan kisah Nabi khodir, mereka menganggapnya telah keluar dari syariat Nabi Musa ketika melakukan pembunuhan dan merusak kapal. Oleh karenanya, kita harus memahami kisah ini dengan baik agar tidak terjerumus dan terjebak dalam khurafat-khurafatnya mereka.

Demikian juga hingga saat ini masih banyak orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khodir sehingga mereka melakukan ibadah-ibadah baru, yang kata mereka itu semua diajarkan oleh Nabi Khodir. Sampai-sampai mereka mengatakan bahwa mereka memiliki riwayat dan sanad yang bersambung sampai Nabi Khodir untuk dijadikan dalil pembenaran kebatilan dan khurafat yang mereka lakukan.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Harta dan Anak adalah Perhiasan Kehidupan Dunia

Asal muasal pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khodir telah disebutkan dalam hadis-hadis yang shahih, baik dalam kitab Al-Bukhari, Muslim, dan kitab-kitab As Sunnah lainnya. Berikut beberapa riwayat tersebut.

Dari Sa’id bin Zubair, dia berkata:, “Saya telah berkata kepada Ibnu Abbas, sesungguhnya Nauf Al-Bikali mengatakan bahwa Musa yang hidup bersama kaum Bani Israil bukanlah Musa yang menyertai Nabi Khidir.

(ibnu Abba) berkata, “Musuh Allah telah salah. Saya pernah mendengar Ubay bin Ka’ab berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Suatu ketika Nabi Musa berdiri untuk berkhutbah di hadapan kaum Bani Israil’ (Dalam riwayat lain, Nabi Musa memberi wejangan kepada orang-orang hingga mata-mata mengalirkan air mata dan hati-hati menjadi terenyuh.

Lalu, Nabi Musa pun berpaling, kemudian ada seorang menyusul beliau dan bertanya, ‘wahai utusan Allah, apakah di atas muka bumi ada yang lebih berilmu darimu?’). Nabi Musa menjawab, “Tidak ada.” Maka Allah pun menegur beliau karena beliau tidak mengembalikan ilmu (tentang jawaban pertanyaan tersebut kepada Allah “.

“Lalu Allah mewahyukan kepada Musa: ‘Hai Musa, sesungguhnya ada seorang hambaku yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai darimu dan ia sekarang berada di pertemuan dua lautan’. Nabi Musa bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan hamba-Mu itu?’ Dijawab: ‘Bawalah seekor ikan di dalam keranjang, kapan kau kehilangan ikan tersebut maka di situlah hambaku berada’.

(Dalam riwayat lain: Ambillah seekor ikan yang mati; jika nyawa ditiupkan kepada ikan tersebut maka kau akan bertemu hambaku) kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun. (Maka Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak menugaskan engkau kecuali engkau mengabarkan kepadaku saat ikan ini telah terpisah darimu’. Pembantunya berkata, ‘Engkau tidak membebani tugas yang berat’. Itulah firman Allah, ‘dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya‘.)

Adapun “tempat pertemuan dua laut” maka tidak ada yang mengetahuinya dengan persis di mana lokasinya karena tidak ada dalil, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah, yang memastikan lokasi tersebut. Berusaha memastikan di mana lokasinya merupakan tindakan yang melelahkan tanpa faedah.

Ada khilaf di antara para ulama tentang makna حُقُبًا. Ada yang mengatakan setahun, ada yang mengatakan bertahun-tahun, ada pula yang mengatakan berpuluh-puluh tahun. Artinya, Nabi Musa mendatangi orang alim tersebut, yaitu Nabi Khodir, meskipun harus berjalan berpuluh-puluh tahun. Ini menunjukkan agungnya ilmu, di mana Nabi Musa tawadhu merendahkan dirinya meninggalkan kaumnya yang begitu banyak, hanya untuk menuntut ilmu. Padahal, ilmu tersebut bukan ilmu yang berkaitan dengan pengaturan kaum Bani Israil. Ilmu yang dimiliki Musa tentu sudahlah cukup untuk keimanan kepada Allah dan untuk mengatur Bani Israil.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Keimanan Harus Disertai dengan Istighfar

Akan tetapi, Musa tetap semangat untuk menuntut ilmu karena beliau ingin menambah ilmu. Padahal, Musa lebih mulia daripada Nabi Khodir dengan kesepakatan para ulama. Ini menunjukkan tawadhu yang luar biasa dari Musa. Ini menunjukkan seseorang yang lebih mulia tidak mengapa ia menuntut ilmu dari orang yang di bawahnya jika memang ada ilmu yang tidak dia ketahui. Jangan sampai kemuliaannya menjadikannya angkuh sehingga enggan menuntut ilmu, walaupun kepada orang yang di bawahnya.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH Al-KAHFI, karya Ust. FIranda Andirja, Penerbit Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response