Tafsir

Penjelasan tentang Mengucapkan Masya Allah Jika Melihat Sesuatu yang Menakjubkan

Foto: Pixabay
66views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 39-40:

وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ (39) فَعَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يُّؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَتُصْبِحَ صَعِيْدًا زَلَقًاۙ (40)

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “Masya Allah laa haula walaa quwaata illa billahi” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,(40) maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.

Lalu, orang yang beriman ini melanjutkan nasihatnya kepada kawannya yang kafir. Jadi, orang yang musyrik tadi telah menyatakan beberapa pernyataan yang kemudian dibantah oleh kawannya yang beriman ini.

BACA JUGA: Perumpamaan Dua Lelaki dan Dua Kebun Anggur

Pertama, dia mengatakan bahwa Hari Kiamat tidak akan terjadi.

Kedua, dia mengatakan bahwasanya kebun ini akan selama-lamanya subur dan dia akan selama-lamanya kaya, seakan-akan ini hasil jerih payahnya sendiri.

Ketiga, dia juga mengatakan bahwa dirinya lebih kaya dan lebih banyak anak buahnya.

Ini adalah tiga ucapan yang menunjukkan kesombongannya dan ketiga-tiganya dibantah oleh kawannya yang beriman. Ini juga isyarat bahwasanya jika terdapat perkataan mungkar yang bisa kita bantah maka hendaknya kita bantah dalam rangka menasihati.

Pernyataan yang pertama telah dibantah dengan perkataannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menceritakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani lalu, dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? ” Maka, jika Allah bisa menciptakanmu untuk pertama kali maka untuk membangkitkanmu lebih mudah.

Pernyataan kedua tatkala orang musyrik ini bangga dengan kebunnya maka temannya yang beriman tersebut menasihatinya: Mengapa ketika kamu memasuki kebunmu kau tidak berkata: مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ “Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” dan semua ini terjadi bukan karena kehendakmu dan bukan karena jerih payahmu, dan semua ini terjadi karena Allah.

Ayat ini juga sebagai dalil bahwasanya seseorang jika melihat sesuatu yang menakjubkan maka hendaknya dia berdoa dengan mengucapkan مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ “sungguh atas kehendak Allah semuanya terwujud tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Hal ini agar yang dia kagumi tersebut tidak terkena ‘ain.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Makna Kufur dan Syirik

Dalam sebuah hadis datang dengan riwayat dari Muhammad bin Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia mendengar ayahnya berkata: “Ayahku yaitu Sahl bin Hunaif mandi di Khoror, lalu ia melepaskan jubah yang dikenakannya, sementara Amir bin Rabi’ah melihatnya. Dia berkata: ‘Sahl adalah seorang pemuda yang putih dan bagus kulitnya’. Amir bin Rabi’ah berkata kepadanya: ‘Aku tidak pernah melihat kulit yang sebagus ini, bahkan kulit seorang gadis sekali pun.’ Kemudian, Sahl terserang sakit saat itu juga dan penyakit tersebut bertambah parah. Rasulullah ﷺ kemudian didatangi dan dikabarkan kepada beliau, ‘Sesungguhnya Sahl demam, ia tidak bisa datang bersama Anda, wahai Rasulullah!’

Rasulullah ﷺ lalu menemuinya kemudian Sahl menggambarkan tentang apa yang telah dilakukan Amir terhadapnya. Rasulullah ﷺ bertanya: ‘Mengapa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya? Tidaklah (sebaiknya) engkau mendoakan agar diberkati? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya. Berwudhulah kamu untuknya!’ Amir lantas berwudhu untuk Sahl. Setelah itu, Sahl dan Rasulullah ﷺ berangkat dengan keadaan sehat.”

Maksudnya, jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan hendaknya dia mengucapkan Masya Allah tabarakallah atau ucapkan Allah yubaariku fiika ketika kita mendapatkan rasa takjub karena kecerdasan anak kita, misalnya. Jangan kita hanya menyebutkan anak kita hebat tanpa menyebut nama Allah karena dikhawatirkan ia terkena ‘ain. ‘Ain adalah pandangan seseorang yang ditunjukkan kepada sesuatu yang dikagumi—tanpa memuji Allah—yang mengakibatkan keburukan menimpa yang dia kagumi tersebut.

Dalam hadis ini kita diperintahkan untuk mendoakan keberkahan dan dalam ayat ini kita diperintahkan untuk mengucapkan Masya Allah terutama tatkala kita melihat sesuatu yang menakjubkan pada diri kita sendiri karena melihat hasil karya kita yang menakjubkan maka jangan lupa mengucapkan Masya Allah. Inilah beberapa doa yang hendaknya diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan; entah itu pada dirinya, anaknya, atau yang lain. Doa tersebut bisa menjauhkan seseorang dari ‘Ain. Ini juga dalil bahwasanya ‘Ain tidak hanya mengenai manusia tetapi juga terkadang mengenai benda mati seperti kebun dan lain-lain.

Doa ini sangat penting untuk diucapkan oleh seseorang tatkala dia kagum melihat karyanya dan ucapan ini menghilangkan seseorang dari rasa ujub. Karena menyandarkan keberhasilan kita kepada diri kita sendiri dan ini berbahaya karena hal ini bisa menimbulkan ‘Ain, paling sedikitnya kita terkena penyakit ujub, maka untuk menghilangkan itu semua ucapkan Masya Allah.

BACA JUGA: Bukti-Bukti Kemahaesaan dan Keagungan Allah

Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?” Jawabku, “Tentu, ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “La haula wala quwwata illa Billah (tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah).”

Orang yang beriman itu juga membantah temannya yang mengatakan, “Aku lebih banyak harta dan pengikut daripada engkau”. Al-Alusi mengatakan bahwa ini adalah dalil bahwasanya dua orang tersebut bukan kakak beradik karena dia mengatakan, “Aku memiliki lebih banyak pengikut (maksudnya kabilahnya) daripada engkau “. Maka zahirnya dua orang ini bukanlah kakak beradik. Tidak seperti riwayat-riwayat yang lemah yang menyebutkan mereka berdua adalah kakak beradik. Intinya dia mengatakan, “Hartaku dan pengikutku lebih banyak daripada engkau”.

Maka, orang yang beriman ini membantahnya dan dia berkata:

اِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ (39) فَعَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يُّؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَتُصْبِحَ صَعِيْدًا زَلَقًاۙ

Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,(40) maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.

Ada dua pendapat di kalangan para ulama yang menyebutkan alasan orang yang beriman ini mengucapkan demikian, yakni:

Pendapat pertama, mengatakan bahwasanya lelaki Mukmin ini tersinggung karena diejek dan dihina. Karena terzalimi, dia berdoa kepada Allah dan tidak ada penghalang antara doa orang yang terzalimi dengan Allah, sebagaimana yang Rasulullah ﷺ sabdakan, “Waspadalah kalian terhadap doanya orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antara doa orang yang terzalimi dan Allah.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda, “Waspadalah kalian terhadap doanya orang yang terzalimi, meskipun dia orang yang kafir, maka sesungguhnya tidak ada penghalang terhadap doanya.”

Maka, kondisi orang yang beriman tersebut ketika diejek dia merasa terzalimi dan dia berdoa: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin” Lalu, Allah turunkan hukuman dari langit yaitu حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاۤءِ’, dan di sini ada dua penafsiran, yaitu:

  1. Muqaddaran, yaitu sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah untuk membinasakan kebunmu. Yaitu dia mendoakan keburukan untuk kawannya tersebut karena dia telah dihina.
  2. Jamak dari husbanah yang artinya sesuatu yang dilempar dari langit. Maksudnya adalah ash-shaiqah yaitu halilintar dan petir yang akan menyambar kebunnya.

BACA JUGA: Tentang Bertawasul dengan Rasulullah ﷺ

Pendapat kedua, sebagian ahli tafsir mengadakan bahwa dia tidak mendoakan keburukan untuk kawannya. Karena dia sedang menasihati dan dia kasihan terhadap kawannya, lalu dia mengingatkannya: kesombonganmu tersebut bisa mendatangkan azab bagi dirimu dan kebunmu. Boleh saja sekarang engkau merendahkan diriku, tetapi di Hari Kiamat kelak Allah akan memberiku sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau miliki. Jadi, lelaki yang beriman tersebut bukan sedang mendoakan melainkan dia sedang mengabarkan karena khawatir kawan-kawannya tertimpa dengan hal tersebut.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, karya Ust. Firanda Andirja, Penerbit Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response