Ibrah

Hanya Orang Sombong, Kafir, dan Bodoh yang Mengatakan Hari Kiamat Tidak Ada

Foto: Pixabay
39views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 36:

وَّمَآ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَاۤىِٕمَةً وَّلَىِٕنْ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّيْ لَاَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنْقَلَبًا

dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.

Lelaki kafir yang disebutkan dalam Surah AL-Kahfi (18) ayat 32, kini dia lebih nekat lagi dengan mengatakan bahwa kiamat tidak akan datang. Para ulama mengatakan bahwa kawannya yang beriman telah menasihatinya agar ingat kepada Allah, bahwasanya dia akan dihisab, dan nanti akan ada Hari Kiamat. Teman yang kafir ini membantah nasihat kawannya yang beriman dengan mengatakan, “Menurutku Hari Kiamat tidak akan ada”.

Kemudian firman Allah:

وَّلَىِٕنْ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّيْ لَاَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنْقَلَبًا

Dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.

Dia sesumbar dengan perkataan yang lebih dahsyat lagi, yaitu dia berkata, “Seandainya aku mati dan ada Hari Kiamat, lalu aku dibangkitkan, maka aku akan masuk surga dan surganya lebih bagus daripada surgaku saat ini”.

BACA JUGA: Perumpamaan Allah tentang Dua Orang Lelaki

Ada dua pendapat di kalangan para ulama mengenai sebab ucapan orang ini:

Pendapat pertama, lelaki yang kafir ini mengenal Allah sehingga dia mengatakan “dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku“. Ini menunjukkan bahwasanya dia percaya ada Allah. Inilah kondisi kaum musyrikin Quraisy yang secara umum percaya adanya Allah. Hanya saja, mereka ragu akan adanya Hari Kebangkitan. Mereka percaya adanya Allah dan juga mereka beribadah kepada Allah, tetapi mereka berharap agar ibadah mereka dibalas di dunia dan tidak perlu untuk dibalas di akhirat karena mereka tidak percaya dengan Hari Kiamat. Oleh karenanya, kita dapati mereka melakukan ibadah umrah, haji, dan puasa tetapi mereka mengharapkan ibadah mereka dibalas di dunia saja.

Itulah orang-orang kafir Quraisy yang keadaannya sama dengan lelaki kafir yang Allah jadikan perumpamaan dalam ayat ini. Dia mengatakan tidak akan ada Hari Kiamat dan juga, seandainya ada Hari Kiamat, maka dia akan masuk surga yang bentuknya lebih indah daripada kebunnya saat ini. Dengan kebodohannya juga dia meng-qiyas-kan antara kekayaan dunia dengan kekayaan akhirat, seakan-akan otaknya yang bodoh berkata: jika Anda di dunia adalah orang kaya maka Anda di akhirat juga akan menjadi orang kaya. Menurutnya, ini merupakan sebuah kelaziman padahal tidak ada kelaziman dalam hal tersebut karena orang yang kaya di dunia tidak mesti masuk surga dan orang yang miskin di dunia tidak mesti masuk neraka.

BACA JUGA: Keadaan di Dunia Bukanlah Barometer Kondisi Seseorang di Akhirat

Allah berfirman dalam Surah Al-Waqi’ah (56) ayat 3:

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ

(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

Mungkin saja di dunia ini ada orang yang kaya, hebat, atau pejabat tetapi ketika di akhirat Allah rendahkan mereka. Begitu juga sebaliknya, mungkin di dunia ini ada orang yang tidak dianggap karena tidak memiliki harta dan dia disepelekan, diejek, dan dihinakan oleh orang lain tetapi, pada Hari Kiamat, Allah mengangkat derajat mereka menjadi orang-orang yang mulia.

Dengan demikian, karena kebodohannya, dia menganalogikan bahwa orang yang kaya di dunia ini maka dia akan kaya juga di akhirat juga. Maka, dia berkata dengan sombongnya, “Dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.”

Pendapat kedua, bahwa lelaki kafir ini sedang mengejek temannya yang beriman (yang mengatakan bahwa akan ada Hari Kiamat). Dengan nada mengejek, lelaki yang kafir tersebut berkata bahwa tidak ada Hari Kiamat dan sekalipun ada Hari Kiamat maka dia akan masuk surga. Ini adalah pendapat yang lebih kuat, bahwasanya dia sedang mengejek kawannya yang beriman (yang miskin yang sedang menasihatinya).

BACA JUGA: Pentingnya Memberikan Nasihat Penuh Keikhlasan

Ini juga dalil yang menunjukkan mulianya orang yang miskin tersebut. Walaupun dia miskin dan tidak memiliki apa-apa, sebagai konsekuensi orang yang beriman, dia tetap menasihati temannya yang kafir. Betapa banyak orang tidak berani menasihati orang kaya dan tidak berani ngomong di hadapannya. Namun, orang miskin yang beriman yang disebutkan dalam ayat ini, dia adalah orang yang berani. Dia menasihati kawannya yang kaya dan kafir meskipun balasan yang dia dapatkan adalah hinaan dan cercaan.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI, karya: Ust. Firanda Andirja, Penerbit: Ustadz Firanda Andirja Office.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response