Historia/Tarikh

Hijrah Pertama Pengikut Rasulullah ke Habasyah

foto: Unsplash
65views

Berbagai tekanan yang dilancarkan orang-orang Quraisy dimulai pada pertengahan atau akhir tahun keempat dari kenabian, terutama diarahkan kepada orang-orang yang lemah. Hari demi hari dan bulan demi bulan, tekanan mereka semakin keras hingga pertengahan tahun kelima. Mekkah terasa sempit bagi orang-orang muslim yang lemah itu. Mereka mulai berpikir untuk mencari jalan keluar dari siksaan yang pedih ini. Dalam kondisi yang sempit dan terjepit ini, Surah Al-Kahfi turun, sebagai sanggahan terhadap berbagai pertanyaan yang disampaikan orang-orang musyrik kepada Nabi ﷺ.

Surah ini meliputi tiga kisah, di samping di dalamnya terkandung isyarat dari Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman. Kisah pertama, tentang Ashabul Kahfi yang diberi petunjuk untuk hijrah dari pusat kekufuran dan permusuhan karena dikhawatirkan mendatangkan cobaan terhadap agama dengan memasrahkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 16:

وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا

Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung di dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada kalian dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi kalian dalam urusan kalian.

Kisah kedua, tentang Khidir dan Musa. Kisah ini memberikan suatu pengertian bahwa berbagai hal tidak selamanya bisa berjalan dan berhasil dengan bergantung kepada apa yang dilihat oleh kasat mata saja, tetapi permasalahannya bisa berbalik total tidak seperti yang tampak. Di sini terdapat isyarat yang lembut bahwa usaha memerangi orang-orang Muslim bisa membalikkan kenyataan secara total, dan orang-orang musyrik yang berbuat semena-mena terhadap orang-orang Muslim yang lemah itu bisa dibalik keadaannya.

Kisah ketiga, tentang Dzul Qarnain, yang memberikan suatu pengertian bahwa bumi ini adalah milik Allah yang diwariskan olehnya kepada siapa pun yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Keberuntungan hanya diperoleh di jalan Iman bukan di jalan kekufuran. Dari waktu ke waktu, Allah akan senantiasa menurunkan orang yang siap membela dan menyelamatkan orang-orang yang lemah, seperti Ya’juj dan Ma’juj pada zaman itu.

BACA JUGA: Sebab Turunnya Surah Al-Kahfi

Surah Az-Zumar kemudian turun yang di dalamnya mengisyaratkan hijrah dan menyatakan bahwa bumi Allah ini tidaklah sempit. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar (39) ayat 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa Ashhamah An-Najasy, raja yang berkuasa di Habasyah, adalah seorang raja yang adil, tidak akan ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Maka, beliau memerintahkan agar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah, melarikan diri dari cobaan untuk menyelamatkan agamanya.

Pada bulan Rajab tahun ke-5 dari kenabian, sejumlah sahabat hijrah ke Habasyah untuk pertama kalinya. Para sahabat tersebut terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita, yang dipimpin Utsman bin Affan. Dalam rombongan ini, ikut pula Sayyidah Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth.”

Dengan berjalan mengendap-endap di tengah malam, mereka pergi menuju pinggir pantai agar tidak diketahui orang-orang Quraisy. Secara kebetulan, saat mereka tiba di pelabuhan Syaibah, ada dua kapal datang yang bertolak menuju Habasyah. Setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang Muslim ini, mereka segera mengejar. Namun, tatkala mereka tiba di pinggir pantai, orang-orang Muslim sudah bertolak dengan selamat. Orang-orang Muslim hidup di Habasyah dan mendapat perlakuan yang baik.

Pada bulan Ramadan di tahun yang sama, Nabi ﷺ keluar ke Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul di sana. Beliau berdiri di hadapan mereka, lalu seketika itu membacakan Surah An-Najm. Orang-orang kafir itu tidak pernah mendengarkan kalam Allah yang seperti itu sebelumnya. Sebab, redaksi mereka panjang-panjang seperti biasanya, memaksa sebagian di antara mereka untuk menjelaskan kepada sebagian yang lain. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah dalam Surah Fushshilat (41) ayat 26:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Quran ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan.”

BACA JUGA: Asal Usul Para Pemuda Ashabul Kahfi

Namun, ketika dilantunkan bacaan surah ini, gendang telinga mereka diketuk Kalam Ilahi yang indah menawan, yang keindahannya sulit dilukiskan dengan suatu gambaran. Mereka diam terpesona menyimak isinya, dan semua orang khidmat mendengarnya sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di dalam benak mereka. Tatkala ﷺ membacakan penutup surah ini hati mereka serasa terbang. Akhirnya, beliau membaca ayat yang terakhir Surah An-Najm ayat 62: “maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” Mereka pun sujud. Tak ada seorang pun mampu menguasai diri, dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud. Sebenarnya sinar-sinar kebenaran telah merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang sombong dan selalu mengolok-olok itu. Mereka tidak mampu menghadiri untuk sujud.

Mereka menyesali perbuatan mereka sendiri sebelumnya karena merasakan keagungan kalam Allah yang benar-benar telah menguasai kendali mereka. Saat itu, mereka telah melakukan apa yang sebelumnya hendak mereka punahkan dan lenyapkan. Setelah itu, mereka yang bersujud itu mendapat cercaan dan makian dari segala arah, yaitu yang dilontarkan orang-orang musyrik yang tidak ikut sujud. Pada saat itulah mereka mendustakan Rasulullah ﷺ dan mengada-adakan perkataan untuk memojokkan beliau, bahwa beliau menyebutkan nama-nama berhala mereka dengan ungkapan berisi sanjungan bahwa beliau berkata tentang berhala-berhala itu, “Itulah Gharaniq yang luhur, yang syafaatnya benar-benar diharapkan“. Mereka membuat kedustaan yang nyata ini sebagai alasan untuk menutup-nutupi sujud mereka bersama Nabi ﷺ. Tindakan seperti ini tidak terlalu mengherankan sebab mereka sudah biasa membuat kedustaan dan mengarang cerita bohong.

Cerita tentang Gharaniq dan sujudnya orang-orang musyrik ini didengar para Muhajirin di Habasyah, tetapi dengan versi yang berbeda jauh dengan gambaran yang hakiki. Cerita yang sampai kepada mereka bahwa orang-orang Quraisy sudah masuk Islam. Oleh karena itu, mereka pulang ke Mekkah pada bulan Syawal pada tahun yang sama. Hampir mendekati Mekkah, mereka sebelum tengah hari, mereka pun tahu kejadian yang sebenarnya. Sebagian dari mereka kembali ke Habasyah, sedangkan mereka yang hendak pulang ke Mekkah, masuk ke sana dengan cara sembunyi-sembunyi atau dengan cara meminta perlindungan kepada salah seorang Quraisy. Setelah itu, siksaan dan penindasan yang ditimpakan orang-orang Quraisy terhadap mereka dan orang-orang Muslim semakin menjadi-jadi, terutama melalui suku masing-masing.

BACA JUGA: Cobaan-Cobaan bagi Orang Beriman: Penjelasan Surah Al-Buruuj (85) Ayat 4

Nabi ﷺ tidak melihat cara lain kecuali memerintahkan mereka hijrah untuk kedua kalinya ke Habasyah. Hijrah kali ini lebih sulit daripada hijrah yang pertama. Sebab, orang-orang Quraisy semakin meningkatkan kewaspadaan dan menetapkan untuk menggagalkan usaha orang-orang Muslim untuk hijrah. Namun, Allah melapangkan jalan bagi mereka untuk pergi ke habasyah, sebelum orang-orang Quraisy mengetahuinya. Kali ini yang ikut hijrah berjumlah 83 orang laki-laki—bila Ammar termasuk di dalamnya sebab ada keraguan apakah ia ikut atau tidak—dan 18 atau 19 wanita.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH, karya Syaikh Shafiyyurrohman Al-Muabarakfuri, Penerbit Ummul Qura.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response