Kisah Al-Quran

Kisah Bangsawan Mukmin dari Keluarga Fir’aun

Foto: Pixabay
39views

Dalam episode kisah Nabi Musa yang terdapat dalam Al-Quran, ada satu bagian yang di dalamnya Allah subhanahu wata’ala menceritakan secara lengkap tentang salah seorang dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya. Kisah tersebut termaktub dalam Surah Ghafir (40) ayat 23-46:

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata (23) kepada Fir‘aun, Haman, dan Qarun. Lalu, mereka berkata, “(Musa) itu seorang penyihir lagi pendusta.” (24) Ketika dia (Musa) datang kepada mereka membawa kebenaran dari Kami, mereka berkata, “Bunuhlah anak laki-laki orang-orang yang beriman bersama dia dan biarkan hidup perempuan-perempuan mereka.” Tidaklah tipu daya orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka. (25) Fir‘aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir (bahwa) dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (26) Musa berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari Perhitungan.” (27)

Seorang laki-laki Mukmin dari keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Tuhanku adalah Allah.’ Padahal, sungguh dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Jika dia seorang pendusta, dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkan kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta. (28) Wahai kaumku, pada hari ini kerajaan ada padamu dengan berkuasa di bumi. Akan tetapi, siapa yang akan menolong kita dari azab Allah jika (azab itu) menimpa kita?” Fir‘aun berkata, “Aku hanya mengemukakan kepadamu apa yang aku pandang baik dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (29) Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir (bahwa) kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari (kehancuran) golongan yang bersekutu. (30) (Yakni) seperti kebiasaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, dan orang-orang yang datang setelah mereka (yang ditimpa bencana). Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. (31) Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan (siksaan) hari saling memanggil. (32)

BACA JUGA: Haman, Fir’aun, dan Tujuan Membangun Menara Mercusuar

(Yaitu) pada hari (ketika) kamu dipalingkan dengan berbalik ke belakang (mencari perlindungan). Tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkanmu dari (azab) Allah. Siapa yang disesatkan oleh Allah tidak ada baginya (seorang) pemberi petunjuk pun. (33) Sungguh, sebelum itu Yusuf benar-benar telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Akan tetapi, kamu senantiasa dalam keraguan terhadap apa yang dibawanya hingga ketika dia wafat, kamu berkata, ‘Allah sekali-kali tidak akan mengirim seorang rasul pun setelahnya.’ Demikianlah Allah membiarkan sesat orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (34) Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang. (35) Fir‘aun berkata, “Hai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (36)

(yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa. Sesungguhnya aku benar-benar meyakininya sebagai seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir‘aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar). Tipu daya Fir‘aun itu tidak lain kecuali membawa kerugian. (37) Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku! Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. (38) Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (39) Siapa yang mengerjakan keburukan tidak dibalas, kecuali sebanding dengan keburukan itu. Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, akan masuk surga. Mereka dianugerahi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan. (40) Wahai kaumku, bagaimanakah ini? Aku menyerumu kepada keselamatan, sedangkan kamu menyeruku kepada neraka. (41) Kamu menyeruku agar kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada padaku pengetahuan tentangnya, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (42)

BACA JUGA: Kisah tentang Arogansi dan Kesombongan Fir’aun yang Luar Biasa

Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan kepadaku (agar menyembah)-nya bukanlah seruan yang layak sama sekali di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas akan menjadi penghuni neraka. (43) Kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (44) Maka, Allah melindunginya (orang yang beriman) dari berbagai kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh seburuk-buruk azab. (45)  Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!” (46)

Lantas siapakah sebenarnya sosok seorang Mukmin yang diceritakan dalam surah Ghafir ayat 23-46 tersebut? Jika menilik beberapa sumber yang dapat dipercaya untuk meneliti siapa Mukmin bangsawan dari keluarga Fir’aun itu, kita tidak akan menemukan perincian kisahnya dan hanya menjadikan namanya termasuk hal-hal yang masih samar atau misteri dalam Al-Quran (mubhamaatul Quran). Dalam Al-Quran tidak disebutkan namanya ataupun perincian peristiwa-peristiwa dalam kisahnya, sedangkan Rasulullah ﷺ juga tidak menjelaskan sesuatu pun tentang hal itu.

Para sahabat bersikap tawaqquf (tidak berkomentar) tentang kisahnya dan mereka cukup dengan apa yang telah disebutkan Al-Quran. Oleh karena itu, kita juga sebaiknya bersikap tawaqquf tentang kisahnya dan mencukupkan sebatas apa yang dijelaskan Al-Quran dan hadis.

Kita sudah cukup atas penjelasan itu dan merasa puas, sebagaimana para sahabat, tabiin, dan ulama objektif. Sesungguhnya, Mukmin bangsawan dari keluarga Fir’aun ini termasuk misteri mubhamaatul Quran yang tidak dijelaskan dalam Al-Quran dan harus tetap menjadi mubhamaat, sebagaimana Al-Quran tetap menjadikannya demikian. Maka, kita tidak boleh mencari-cari riwayat untuk menjelaskan permasalahannya.

Ibnu Katsir, dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, menarik keteladanan dari perincian kisahnya. Beliau juga menyinggung beberapa kesimpulan petunjuk dan pelajaran darinya dengan mengatakan, “Maksudnya adalah orang ini sebelumnya telah menyembunyikan keimanannya. Tatkala Fir’aun–semoga Allah melaknatnya–tetap ingin membunuh Musa serta membicarakan itu kepada para penasihatnya, laki-laki Mukmin ini mengkhawatirkan keselamatan Musa sehingga berdiplomasi menentang Fir’aun melalui ucapan yang menggabungkan antara gaya targhib (memberi anjuran) dan tarhib (memberi ancaman).

BACA JUGA: Perintah Berdakwah dengan Kata-Kata yang Lembut

Yang pasti, dari Al-Quran, kita memahami bahwa laki-laki Mukmin ini termasuk bangsawan dari keluarga Fir’aun dan bukan dari Bani Israil. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Seorang laki-laki Mukmin dari keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata…”[]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response