Renungan Quran

Penjelasan tentang Membangun Masjid di Atas Kuburan

Foto: Pixabay
29views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) Ayat 21:

وَكَذٰلِكَ اَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوْٓا اَنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيْهَاۚ اِذْ يَتَنَازَعُوْنَ بَيْنَهُمْ اَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوْا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًاۗ رَبُّهُمْ اَعْلَمُ بِهِمْۗ قَالَ الَّذِيْنَ غَلَبُوْا عَلٰٓى اَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَّسْجِدًا

Dan demikian (pula) Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka, agar mereka tahu bahwa janji Allah benar, dan bahwa (kedatangan) Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya”.

Tidak terdapat riwayat yang shahih yang menyebutkan tentang kondisi tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi setelah mereka meninggal. Apakah mereka meninggal di tempat tersebut ataukah jasad mereka hilang? Ada satu faedah menarik yang disebutkan oleh para ahli tafsir, yaitu ternyata pada zaman tersebut, meskipun sang raja baik, mereka berselisih tentang Hari Kiamat. Ada yang mengatakan bahwasanya yang akan dibangkitkan hanya ruh saja, ada yang mengatakan ruh dan jasad, bahkan ada pula yang meragukan dari kebangkitan sehingga Allah mengirimkan kepada mereka bukti kekuasaannya dengan kejadian tujuh orang yang tidur 309 tahun. Dengan demikian, mereka akan yakin bahwasanya Hari Kiamat mungkin terjadinya karena, secara logika, tidak mungkin seseorang tidur selama 309 tahun tanpa makan dan minum kemudian bangkit dalam kondisi normal. Kalau hal ini mungkin terjadi maka hari kebangkitan juga mungkin untuk terjadi. Allah hanya menunjukkan sebagian kecil tanda kekuasaan-Nya agar mereka tidak menganggap mustahil sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh logika dan otak mereka.

Di antara faedah ayat ini adalah bahwasanya seseorang jika ingin lari dari fitnah, meskipun di zaman yang penuh dengan fitnah (dia benar dalam niatnya), niscaya Allah akan menolongnya. Misalnya, seseorang ingin menghindar dari fitnah, apabila dia sungguh-sungguh, maka Allah akan menolongnya. Bisa dibayangkan para pemuda Ashabul Kahfi, mereka tinggal dalam suatu negeri yang semuanya musyrik kecuali mereka. Mereka dalam kondisi terancam, seakan-akan tidak ada cara untuk selamat. Namun, mereka tetap mempertahankan keimanan, kemudian mereka bersembunyi di dalam gua dan Allah menyelamatkan mereka dengan cara-Nya.

BACA JUGA: Bentuk-Bentuk Kesyirikan Zaman Jahiliyah

Membangun Masjid di Atas Kuburan

Sebagian orang berdalil dengan ayat ini akan bolehnya membangun masjid di atas kuburan orang yang saleh. Ini adalah dalil yang salah dari beberapa segi:

Pertama.  ketika Allah menyebutkan tentang ide para pembesar untuk membangun masjid di atas gua tersebut, Allah tidak sedang menyetujui, tetapi Allah sedang bercerita. bahkan terdapat isyarat bahwasanya ini adalah pernyataan yang buruk. Karenanya, Allah berfirman, “Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya”, sementara terdapat pula ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan bahwa para penguasa dan para pemuka, mereka senantiasa melakukan pengingkaran terhadap para Nabi, salah satunya terdapat dalam Surah Al-A’raf (7) ayat 60:

قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Pemuka-pemuka kaumnya (Nabi Nuh) berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.

Dengan demikian, di sini Allah hanya bercerita dan bukan merupakan bentuk persetujuan Allah atas apa yang mereka lakukan. Demikianlah penjelasan Ibnu Katsir dan disebutkan pula oleh Al-Alusy dalam tafsirnya.

Kedua, Jika benar mereka telah membangun masjid, maka tidak ada dalil yang menunjukkan bahwasanya mereka membangun masjid di atas kuburan mereka karena, tidak ada riwayat yang sahih terkait hal ini. Ada yang menyebutkan mereka menghilang setelahnya. Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka dikubur di dalam gua tersebut. Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka pergi entah ke mana. Dan, riwayat-riwayat tersebut tak ada sanad-nya. Tidak ada dalil sahih yang menyebutkan bahwa mereka dikubur, kemudian dibangun masjid di atas kuburan mereka. Al-Alusy menjelaskan bahwasanya tidak mungkin mengamalkan riwayat-riwayat yang belum jelas kesahihannya, kemudian menolak perkataan Nabi ﷺ yang jelas melarang membangun masjid di atas kuburan. Nabi ﷺ melarang shalat ke arah kuburan dan melarang shalat di atas kuburan. Dalil dalam masalah ini terlalu banyak.

Ketiga, Jika benar mereka meninggal di tempat tersebut maka tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa gua (tempat mereka dikuburkan tersebut) dijadikan masjid. Karena zahirnya Allah berfirman, “Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya“, seharusnya masjid tersebut berada di atas gunung karena gua tersebut berada di gunung atau berada di daerah sekitar itu.

Keempat, Jika benar pun maka ini adalah masuk dalam syariat sebelum kita, yaitu syariat umat terdahulu yang sudah mansukh dalam syariat kita. Hal ini karena menjadikan masjid di atas kuburan orang saleh adalah sarana kesyirikan dan bukan kesyirikan pada zatnya. Maka, bisa jadi karena hanya merupakan sarana maka diperbolehkan pada syariat sebelum kita. Hal ini sebagaimana patung pada zaman Nabi Sulaiman juga pernah diperbolehkan, namun diharamkan bagi umat ini karena merupakan sarana yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Namun, yang benar bahwasanya tidak ada dalil yang tegas bahwa Allah menyetujui perbuatan mereka tersebut.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Kemahaesaan Allah

Intinya Nabi ﷺ melarang membangun masjid di atas kuburan dan para ulama menyebutkan hal tersebut termasuk dalam dosa besar. Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitabnya Az-Zawajir menyebutkan bahwasanya menjadikan kuburan orang saleh sebagai masjid adalah dosa besar karena hal itu merupakan sarana menuju kesyirikan dan Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan orang saleh sebagai masjid. Nabi ﷺ dalam banyak hadis mengatakan,

“Allah melaknat Yahudi dan Nasrani mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

Maka, jangan sampai seseorang berdalil dengan ayat yang termasuk mutasyabihat di atas kemudian dia menolak banyak hadis larangan menjadikan kuburan sebagai masjid.

Nabi ﷺ juga pernah mengutus Ali bin Abi Thalib dan berkata kepadanya, “jangan kau biarkan ada patung kecuali kau hancurkan dan jangan kau biarkan kuburan yang tinggi kecuali kau ratakan.”

Kenapa kuburan orang saleh sangat mudah dijadikan sarana untuk berbuat kesyirikan? Bisa dibayangkan apabila kuburan orang saleh ditinggikan, kemudian dipajang fotonya, diberi kelambu dan dupa-dupa, diberi penerangan, kemudian diberi tulisan ayat-ayat kaligrafi, lalu orang-orang shalat di situ atau beribadah di situ, maka setiap orang awam yang datang ke tempat tersebut akan merasa kagum terhadap kuburan tersebut, kemudian setan datang dan membisikkan kepadanya bahwasanya mayat ini bermanfaat, Dan inilah proses awal munculnya kesyirikan. Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ menatap segala sarana yang dapat mengantarkan seseorang terjatuh dalam kesyirikan kematiannya dengan melarang membangun masjid di atas kuburan orang saleh.

Jika kita ingin mengambil contoh teladan makan hendaknya kita melihat bagaimana sahabat memperlakukan kuburan Nabi ﷺ sebagai kuburan yang paling mulia di atas muka bumi, bahkan lebih mulia daripada kuburan Ashabul Kahfi. Apakah sahabat pernah shalat di kuburan Nabi ﷺ? Apakah mereka pernah meminta-minta di sana? Apakah mereka pernah berdiskusi bersama Nabi. Adapun orang pada zaman ini ada yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ keluar untuk menemui fulan, ikut acara ini dan itu. Subhanallah … para sahabat dahulu pernah melewati kondisi genting, berbagai macam peperangan mereka hadapi dan banyak peristiwa besar yang mereka hadapi, tetapi tidak ada seorang pun yang datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta petunjuk. Oleh karenanya, hendaknya seorang beribadah sesuai manhaj salaf. Lihatlah bagaimana sikap para sahabat terhadap kuburan Rasulullah ﷺ. Jikalau meminta-minta dan ber-tabarruk merupakan perkara yang penting, niscaya Nabi ﷺ akan memberikan isyarat akan hal itu, tetapi yang demikian itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ. Bahkan, kuburan syuhada Uhud Nabi meminta agar didoakan bukan dimintai doa.

BACA JUGA: Tentang Bertawasul dengan Rasulullah ﷺ

Nabi ﷺ pernah bangun tengah malam, kemudian pergi ke kuburan Baqi karena Jibril meminta Nabi ﷺ untuk mendoakan mereka. Seandainya meminta-minta di kuburan merupakan perkara penting dalam syariat Islam, pasti Nabi ﷺ dan para sahabat melakukannya meskipun hanya sekali, tetapi nyatanya sama sekali tidak ada contoh dari mereka dalam masalah ini. Bahkan, sebagian orang merasa berdoa di kuburan lebih afdal daripada di masjid. Sebagian mereka menganggap bahwa menangis di depan kuburan melalui lebih afdal daripada berdoa dan menangis di masjid. Sebagian mereka juga ketika datang ke kuburan melakukan shalat tahiyatul kuburan. Oleh karenanya, ayat di atas bukanlah dalil bahwasanya boleh membangun masjid di atas kuburan.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI karya Ustadz Firanda Andirja, penerbit Ustadz Firanda Andirja Office

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response