Ibrah

Pemuda Ashabul Kahfi adalah Orang-Orang yang Mendapatkan Petunjuk Allah

foto: unsplash
37views

Allah berfirman dalam lanjutan Surah Al-Kahfi (18) ayat 17:

ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dia-lah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Para ulama menjelaskan bahwa penghujung ayat ini merupakan bantahan atas orang-orang Qadariyyah. Maknanya adalah bahwasanya tujuh orang ini, dari sekian ribu penduduk negeri tersebut, Allah beri hidayah dan petunjuk kepada mereka. Adapun aliran Qadariyyah tidak berpendapat demikian. Mereka menggunakan akal sehingga mereka menganalogikan perkara bahwasanya Allah tidak menolong seorang pun dari makhluk-Nya, tetapi Allah membiarkan mereka untuk berjalan sendiri. Hal itu bagaikan seseorang yang menciptakan robot-robot dengan model yang sama, dengan baterai yang sama, lalu diaktifkan dan robot-robot tersebut akan berjalan sendiri tanpa ada bantuan lagi dari sang pencipta. Kemudian, robot-robot tersebut ternyata berbeda-beda sehingga sebagian robot ada yang jalan ke kanan, sebagian lagi jalan lurus, dan itu semua di luar kendali sang pembuat robot.

Ibarat seorang ayah yang memiliki dua orang anak yang sama-sama dididik. Lalu, keduanya diberikan pedang, yang satu menjadi mujahid, sedangkan yang lainnya menjadi perampok. Ayah kedua anak tersebut tidaklah memiliki andil dalam mengatur kedua anaknya. Demikian juga halnya dengan mazhab Qaariyyah yang meyakini bahwasanya Allah tidaklah memberikan hidayah kepada seseorang tetapi ia mendapatkan hidayah dengan sendirinya. Ini adalah pendapat yang tidak benar. Yang benar adalah, jika Allah menghendaki seseorang untuk mendapat petunjuk, niscaya Allah yang akan memudahkannya untuk mendapat petunjuk.

BACA JUGA: Asal Usul Para Pemuda Ashabul Kahfi

Adapun bantahan secara logika kepada mereka: jikalau robot-robot tersebut yang bentuknya sama dan baterainya sama, maka mestinya jalannya pun akan sama. Tidak mungkin satunya berjalan ke kanan sedangkan yang lainnya berjalan ke arah kiri. Jika salah satunya belok ke kanan maka itu menandakan ada pembedaan dan ketidaksamaan pada robot-robot tersebut, yang menyebabkan salah satunya belok ke kanan sedangkan yang lainnya belok ke kiri. Kalau semuanya sama persis maka seharusnya jalannya pun sama, kecuali ada faktor eksternal yang menjadikan robot-robot tersebut bisa berbeda output.

Intinya adalah tujuh orang tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah. Dari sekian ribu penduduk negeri tersebut, merekalah yang mendapatkan hidayah. Dengan demikian, seseorang mengetahui bahwa ia memiliki pilihan dan dia memiliki akal untuk menilai, tetapi jika Allah tidak memberikan hidayah maka ia tidak akan mendapatkan hidayah tersebut. Oleh karena itu, jika seseorang mendapatkan hidayah maka hendaknya bersyukur kepada Allah.

Sudah sering dikemukakan bahwa hidayah tidaklah berbanding lurus dengan akal dan dengan kecerdasan. Sungguh, betapa banyak orang yang memiliki kecerdasan luar biasa tetapi mereka melakukan kesyirikan. Lihatlah orang-orang Jepang yang cerdas luar biasa, tetapi mereka menyembah matahari dan banyak di antara mereka yang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan diri kepada kereta api dan lainnya. Lihatlah orang-orang India yang juga cerdas luar biasa, tetapi mereka menyembah sapi, monyet, bahkan tikus. Mereka menyembah hewan yang hakikatnya lebih rendah daripada diri mereka sendiri, bahkan ada di antara mereka yang menyembah banyak hewan. Sampai-sampai ada yang mengatakan jumlah Tuhan mereka lebih banyak daripada jumlah penduduk mereka sendiri di negeri tersebut. Hal tersebut karena mereka meyakini banyaknya hewan-hewan yang mereka anggap sebagai titisan dewa. Di manakah akal mereka?!

Demikian pula sebagian kaum muslimin yang pergi ke kuburan dan meminta kepada penghuni kubur, padahal itu adalah mayat yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Logika bagaimana yang membuat mereka meminta kepada penghuni kubur tersebut? Demikianlah jika syirik sudah merajalela dan setan sudah membisikkan, logika menjadi tidak berjalan sehingga orang pun meminta kepada mayat. Lihatlah para penyembah berhala, sebagian mereka adalah orang-orang yang memahat berhala tersebut dan mereka pula yang mengangkatnya dan membawanya. Lalu, mereka berikan sesaji pada berhala tersebut, padahal berhala tersebut tidaklah makan tetapi tetap diberi sesajian. Maka, di manakah akal orang-orang tersebut?

Oleh karena itu, hidayah itu pemberian dari Allah dan itu bukanlah semata karena kecerdasan seseorang. Jikalau kecerdasan berbanding lurus dengan hidayah, maka mestinya semakin cerdas seseorang maka akan semakin banyak hidayah yang ia dapatkan. Namun faktanya, tidaklah demikian.

BACA JUGA: Tentang Perdebatan Lama Waktu Ashabul Kahfi Tertidur

Para Ashabul Kahfi tersebut adalah anak-anak muda yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya tetapi Allah memberikan hidayah kepada mereka dan ini sekaligus merupakan bantahan kepada Qadariyyah yang menyatakan bahwa seseorang bisa mendapatkan petunjuk walaupun tanpa diberi oleh Allah. Padahal, Allah berfirman dalam ayat 17 Al-Kahfi  tersebut, “barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka dia-lah yang mendapat petunjuk…[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response