Ibrah

Mereka yang Mengeluarkan Kata-Kata yang Sangat Buruk

foto: unsplash
39views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 5:

مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwasanya mereka tidak punya ilmu sedikit pun tentang hal tersebut (yaitu dalam pernyataan Allah punya anak dalam ayat 4), begitu juga nenek moyang mereka, semuanya tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut.

Sebagian ulama berpendapat lain tentang maksud dari بِهٖtentang hal itu“. Mereka (di antaranya Al-Alusy) mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan “tentang hal itu” adalah disebabkan mereka tidak mengetahui tentang sifat-sifat Allah, mereka pun tidak mengetahui apa yang boleh bagi Allah dan apa yang haram bagi Allah, sehingga dengan beraninya mereka pun mengatakan bahwa Allah memiliki anak. Jika kita bertanya kepada mereka, pasti mereka akan menjawab bahwa hal tersebut mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Maka, dalam ayat ini pun Allah membantah mereka bahwasanya mereka tidak memiliki ilmu dan nenek moyang mereka juga tidak memiliki ilmu tentang hal itu.

Sejatinya yang mereka lakukan hanya fanatisme buta. Jika seseorang tidak memiliki ilmu maka mestinya jangan menyangka bahwa nenek moyangnya memiliki ilmu. Ini adalah perilaku yang salah. Tidak jarang kita menemukan orang tidak memiliki ilmu, ia melakukan atau mengutarakan pendapat, kemudian berdalil bahwa itu dari nenek moyangnya, seakan-akan nenek moyangnya pasti memiliki ilmu itu, padahal ternyata tidaklah demikian.

BACA JUGA: Bantahan Terhadap Pendapat yang Menyatakan Allah Punya Anak

Kemudian firman Allah,

كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.

Di sini Allah menyikapi bahwasanya perkataan mereka sangat buruk, yaitu perkataan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Sebagian ulama menjelaskan mengapa kalimat tersebut sangat buruk? Jawabannya adalah karena terkadang banyak hal yang terlintas dalam benak manusia, tetapi mereka tidak sampai mengucapkannya. Misalnya, seseorang yang berburuk sangka kepada Allah, tetapi dia berusaha menyingkirkan pikiran buruk tersebut dari benaknya dan tidak sampai mengungkapkannya, apalagi sampai berpikir Allah memiliki anak, karena hal ini tidak akan terbetik dalam benak manusia.

Namun, faktanya perkara yang sangat berat tersebut berani diucapkan oleh orang-orang Nasrani, Bahkan mereka sampai meyakininya. Karenanya, Allah mengatakan “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka“, artinya banyak perkara buruk dalam benak manusia namun tidak mereka ungkapkan, dan ternyata yang perkara sangat buruk ini dengan beraninya diungkapkan oleh orang-orang Nasrani. Mereka tidak mengucapkannya kecuali hanya kedustaan.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwasanya banyak orang Nasrani yang jahil atau bodoh. Mereka menerima keyakinan ini dari nenek moyang mereka, yaitu dalam hal Allah memiliki anak. Padahal, dahulu nenek moyang mereka hanya berselisih pendapat, mereka juga tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Karenanya, Ibnu Taimiyyah berkata tentang mereka, “Sungguh aneh orang-orang Nasrani, mereka meyakini sesuatu yang mereka tahu bahwasanya mereka tidak mengerti hakikat sesuatu tersebut”.

Oleh karena itu, jika kita kumpulkan 10 orang Nasrani saja untuk menjelaskan apa maksud “Isa adalah anak Allah” maka mereka semua akan berselisih, bahkan bisa sampai menghasilkan 11 pendapat, padahal jumlah mereka 10. Ini disebabkan mereka tidak memahami apa yang mereka katakan. Bahkan, mereka sendiri mengakui bahwa hal tersebut adalah sebuah keimanan yang tidak bisa dijelaskan sehingga mereka tidak pernah bisa menjelaskan keterkaitan antara Isa dengan Allah atau keterkaitan antara Ruhul Qudus dengan Allah.

BACA JUGA: Penjelasan tentang Kemahaesaan Allah 

Ibnu Taimiyyah menyebutkan keanehan mereka lagi, yaitu bahwasanya mereka sendiri mengakui bahwa keyakinan tersebut tidak bisa dipikirkan, mereka tidak bisa menjelaskannya secara logis, tetapi mereka tetap mengucapkannya, meyakininya, bahkan mereka rela berperang dan mempertaruhkan nyawa untuk membela keyakinan yang tidak mereka pahami tersebut. Oleh karenanya, wajar jika Allah menyifati mereka dengan “orang-orang yang sesat“.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response