Historia/Tarikh

Penjelasan tentang Tahapan-Tahapan Wahyu

38views

Kita perlu mengetahui tentang tahapan-tahapan wahyu, yang merupakan sumber risalah dan batasan-batasan dakwah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata bahwa tahapan wahyu adalah sebagai berikut:

Pertama, Mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi ﷺ.

Kedua, Sesuatu yang dibisikkan ke dalam hati beliau, tanpa dilihatnya. Ini seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ:

“Ruhul Qudus mengembuskan ke dalam hatiku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sebelum disempurnakan rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menaati-Nya.

BACA JUGA: Tafsir Surah Al-‘Alaq: Penjelasan tentang Permulaan Turunnya Wahyu

Ketiga, Malaikat muncul di hadapan Nabi ﷺ dalam rupa seorang laki-laki, lalu berbicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang-kadang para sahabat juga bisa melihatnya.

Keempat, Wahyu itu datang menyerupai bunyi lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi ﷺ hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekali pun pada waktu yang sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu ini sekali pernah datang tatkala paha beliau berada di atas Zaid bin Tsabit sehingga Zaid merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.

Kelima, Rasulullah ﷺ bisa melihat malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepada beliau. Yang demikian pernah dialami oleh beliau sebanyak dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surah An-Najm (53) ayat 13-14:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى (14)

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. (14)

Begitu juga firman-Nya dalam Surah At-Takwir (81) ayat 22-23:

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ (22) وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ (23)

Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila. (22) Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang. (23)

Keenam, Wahyu yang disampaikan Allah kepada beliau, yaitu di atas lapisan-lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban shalat dan lain-lainnya.

BACA JUGA: Ketika Allah Berbicara dengan Nabi Musa

Ketujuh, Allah berfirman secara langsung dengan Rasulullah ﷺ tanpa menggunakan perantara, sebagaimana Allah berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini secara pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Al-Quran dan menurut penuturan beliau dalam hadis tentang Isra.

Sebagian pakar sejarah menambahi dengan tingkatan Wahyu yang kedelapan, yaitu Allah berfirman secara langsung di hadapan beliau tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang diperselisihkan di kalangan ulama salaf dan khalaf.

Begitulah uraian tentang tahapan-tahapan wahyu mulai yang pertama hingga kedelapan. Namun yang pasti, tingkatan terakhir ini merupakan pendapat yang tidak kuat.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response