Tafsir

Alasan Allah Memilih Kata Hamba Daripada Rasul

foto: Pixabay
38views

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi (18) ayat 1:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Quran) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok.

Pada firman Allah di atas,  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ, “Segala puji bagi Allah”, di sini adalah untuk al-istihqaq yang artinya “Segala pujian yang berhak mendapatkannya hanyalah Allah (secara hakikat) karena Allah yang dipuji karena zat-Nya, kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya, dan banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, seseorang ketika talbiah mengucapkan, “Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Adapun manusia dan makhluk Allah lainnya maka mereka dipuji bukan karena zatnya, melainkan karena Allah yang telah memberikan kepadanya kelebihan dan keutamaan sehingga dia dipuji. Seandainya Allah mencabut kenikmatan tersebut darinya maka tidak ada manusia yang akan memujinya. Ini menunjukkan bahwasanya yang berhak dipuji secara zatnya hanyalah Allah. Oleh karenanya, Allah berfirman “Segala puji bagi Allah“. Selain itu, kita tidak akan mampu untuk memuji Allah sebagaimana mestinya karena keindahan Allah jauh dari apa yang bisa kita bayangkan dan yang kita pikirkan. Sampai-sampai Rasulullah ﷺ berkata dalam doa beliau, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana mestinya, sebagaimana Engkau memuji pada diri-Mu.

BACA JUGA: Memaknai Kalimat Hamdalah

Kemudian firman Allah, اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ artinya “yang telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepada hamba-Nya“. Maksud dari الْكِتٰبَ adalah Al-Quran dan maksud dari عَلٰى عَبْدِهِ (kepada hamba-Nya) adalah Nabi Muhammad. Dan, dalam ayat ini, dijelaskan bahwasanya Allah dipuji karena dua hal:

Pertama: Karena sifat-sifat Allah Yang Mahaagung;

Kedua: karena nikmat-nikmat dan karunia Allah yang sangat banyak dan tidak terhitung. Di antara nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita semua adalah Allah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya, Muhammad ﷺ.

Dalam ayat ini, Allah tidak mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepada Rasul-Nya“, tetapi Allah memilih dengan lafal hamba, “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Quran) kepada hamba-Nya“.

Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ, dengan diturunkan Al-Quran, maka beliau menjadi seorang Rasul, tetapi jangan lupa bahwa beliau adalah hamba-Nya. Bahkan, Allah, di dalam Al-Quran, banyak memuji dengan penyebutan “hamba”, seperti yang ada pada ayat ini kemudian pada awal Surah Al Isra (17) ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2) ayat 23:

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu (surah) saja yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

BACA JUGA: Keajaiban yang Kekal Bernama Al-Quran

Serta ayat-ayat yang lain. Allah menyebutkan Rasulullah dengan lafal hamba disebabkan oleh dua hal:

Pertama: untuk menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah mencapai derajat ubudiyah atau penyembahan yang tertinggi dan tidak ada yang beribadah seperti ibadahnya Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam suatu riwayat tentang ibadah Rasulullah ketika shalat, “Bahwa Rasulullah melakukan shalat hingga bengkak kedua telapak kakinya,” (HR. Ad-Daulaby dalam kitabnya Al-Kuna wal ‘Asma No. 1114, dan dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Aniis As-Saary (Takhrij Ahaadits Fathul Baary) bahwa sanadnya shahih 10/493-494)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Bahwa Nabi Allah ﷺ melakukan shalat malam hingga pecah-pecah kedua telapak kakinya,” (HR. Bukhari No. 4837)

Dan, Rasulullah ﷺ, saat melakukan shalat malam, pada rakaat pertama beliau membaca Surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hudzaifah, “Pada suatu malam, aku shalat bersama Nabi ﷺ, lalu beliau memulai dengan membaca Surah Al-Baqarah (setelah Al-Fatihah). Dalam hati aku berkata, “(Mungkin) beliau akan rukuk setelah sampai 100 ayat”. Namun, ternyata beliau melanjutkan bacaannya. Dalam hati, aku berkata, “(Mungkin) Beliau melakukan shalat ini dengan membaca habis Surah Al-Baqarah [(Mungkin) beliau membaca Surah Al-Baqarah ini sampai selesai dalam satu rakaat). Namun, beliau melanjutkan dengan membaca Surah An-Nisa dan menyelesaikannya, kemudian membaca Surah Ali-Imran dan menyelesaikannya. Beliau membacanya dengan perlahan. Ketika sampai pada ayat tentang tasbih, maka beliau bertasbih. Ketika sampai pada ayat tentang permohonan, maka beliau memohon. Ketika sampai pada ayat permohonan perlindungan, maka beliau berlindung.”

Bisa dibayangkan berapa lamanya beliau berdiri dalam satu rakaat. Maka, siapakah yang mampu melakukan shalat malam seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ?

Demikian juga ketika Rasulullah ﷺ berdoa di Padang Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya, berdoa dari waktu Dhuhur hingga waktu Maghrib. Maka, siapa yang mampu berdoa dengan waktu yang lama seperti itu di bawah terik matahari? Padahal, Rasulullah ﷺ telah diampuni dosa-dosanya yang akan datang, dan pintu surga tidak akan terbuka kecuali yang mengetuknya adalah Nabi ﷺ. Ternyata beliau berdoa dari Dhuhur hingga Maghrib.

BACA JUGA: Perintah untuk Tidak Shalat Tergesa-Gesa

Oleh karenanya, tidak ada yang akan pernah mencapai tingkatan dalam peribadatan/penyembahan (sebagai bukti seorang hamba di hadapan Allah) seperti Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah seorang Rasul, tetapi beliau tidak dipuji sebagai seorang rasul saja, melainkan juga dipuji sebagai seorang hamba yang ibadahnya sangat luar biasa.

Kedua: untuk membantah orang-orang yang berlebihan kepada Isa bin Maryam, yaitu ketika orang-orang Nasrani mengangkat kedudukan Isa bin Maryam seperti Tuhan. Maka, Allah membantah persangkaan mereka tersebut karena seluruh Nabi adalah hamba Allah. Hal ini sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, dia mendengar Umar berkata di atas mimbar, bahwasanya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana berlebihannya orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya, aku hanya hamba-Nya. Maka, katakanlah bahwa Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Inilah beberapa faedah mengapa Allah menggunakan lafal “hamba” dan tidak menggunakan lafal “Rasul”.

Kemudian firman Allah,

وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا

dan Dia tidak menjadikannya bengkok

عِوَجًا artinya kebengkokan dan di dalam Al-Quran tidak ada kebengkokan sama sekali dan tidak ada kontradiksi sama sekali. Hal ini berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya yang sudah menyimpang, terlalu banyak kontradiksi dalam kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa (4) ayat 82:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

BACA JUGA: Keutamaan-Keutamaan Al-Quran Menurut Al-Quran

Al-Quran sesuai dengan fashahah dan dengan balaghah Arab, tidak ada kesalahan dalam gramatikalnya, sisi nahwu-nya, sisi shorof-nya, balaghah Al-Quran, dan yang lainnya. Intinya, Al-Quran sempurna dari segala sisi. Dengan demikian, mereka tidak memiliki celah untuk mencela Al-Quran Al-Karim karena Allah berfirman, “Dan, Dia tidak menjadikannya (Al-Quran) bengkok”.

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR SURAH AL-KAHFI

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response