Historia/Tarikh

Hari Kelahiran Rasulullah dan Masa Awal Persusuan

Foto: Pixabay
38views

Rasulullah ﷺ dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah pada Senin pagi, 9 Rabiul Awwal, permulaan tahun dari Peristiwa Gajah, dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 Masehi. Data tersebut berdasarkan penelitian ulama besar, Muhammad Sulaiman Al-Mansyurfuri dan peneliti astronomi, Mahmud Basya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah ﷺ berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam.” Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah, yang isinya mirip dengan riwayat tersebut.

Diriwayatkan juga bahwa ada beberapa bukti pendukung kerasulan yang bertepatan dengan saat kelahiran beliau, yaitu runtuhnya 14 balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah orang-orang Majusi, serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah, setelah gereja-gereja itu amblss ke tanah. Peristiwa-peristiwa tersebut diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, tetapi Muhammad Al-Ghazali tidak mengakuinya.

BACA JUGA: Pembahasan Silsilah Rasulullah dalam Surah Al-Quraisy (106) Ayat 1

Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan ke tempat kakeknya nabi, Abdul Muthalib, untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran cucunya. Abdul Muthalib pun datang dengan perasaan suka cita, lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah seraya berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Dia memilih nama Muhammad—nama ini belum dikenal di bangsa Arab—bagi beliau. Beliau dikhitan pada hari ketujuh seperti yang biasa dilakukan orang-orang Arab.

Wanita yang pertama kali menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah—dia adalah seorang hamba sahaya Abu Lahab—yang kebetulan sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh. Sebelumnya, wanita ini juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib. Setelah itu, dia menyusui Abu Salamah bin Abdul As’ad Al-Makhzumi.

Tradisi yang berjalan di kalangan bangsa Arab yang relatif sudah maju adalah mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya. Tujuannya adalah menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit yang biasa menjalar di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar, dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih bahasa Arab. Maka, Abdul Muthalib mencari para wanita yang bisa menyusui Muhammad ﷺ. Dia meminta kepada seorang wanita dari Bani Sa’ad bin Bakar agar menyusui beliau. Wanita tersebut bernama Halimah binti Abu Dzu’ab, dengan didampingi suaminya Al-Harits bin Abdul Uzza, yang berjulukan Abu Kabsyah dari kabilah yang sama.

Saudara-saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ adalah Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harits, Hadzafah atau Jadzafah binti Al-Harits (yaitu Asy-Syaima’ yang merupakan julukan yang umumnya dipakai untuk namanya). Selain menyusui Rasulullah ﷺ, Halimah juga menyusui Abu Sufyan Al-Harits bin Abdul Muthalib, anak paman atau keponakan Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA: Mengenal Nasab dan Keluarga Inti Nabi Muhammad ﷺ

Paman beliau yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib juga disusui di Bani Sa’ad bin Bakar. Suatu hari, ibu susuan Rasulullah ﷺ juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib selagi beliau masih dalam susuannya. Dengan demikian, Hamzah bin Abdul Muthalib adalah saudara sesusuan Rasulullah dari dua pihak, yaitu dari Tsuwaibah dan dari Halimah  As-Sa’diyah.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response