Historia/Tarikh

Bentuk-Bentuk Kesyirikan Zaman Jahiliyah

Foto: Unsplash
69views

Orang-orang Jahiliyah memiliki beberapa tradisi dan upacara penyembahan berhala. Di antara tradisi dan upacara penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah:

  1. Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya sambil berkomat-kamit di hadapannya. Mereka meminta pertolongan kepadanya tatkala menghadapi kesulitan, berdoa untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat di sisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
  2. Mereka menunaikan haji dan tawaf di sekeliling berhala, merunduk, dan sujud di hadapannya.
  3. Mereka mengadakan penyembahan dengan menyajikan berbagai macam korban, menyembelih hewan piaraan dan hewan korban demi berha
  4. la dan menyebut namanya.
  5. Bentuk peribadatan yang lain, mereka mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih untuk disajikan kepada berhala, dan juga mengkhususkan bagian tertentu dari hasil panen dan binatang peliharaan mereka. Ada juga orang-orang tertentu yang mengkhususkan sebagian lain bagi Allah. Yang pasti mereka mempunyai banyak sebab untuk memberikan sesaji kepada berhala yang tidak akan sampai kepada Allah.
  6. Di antara jenis peribadatan yang mereka lakukan ialah dengan bernazar menyajikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala itu.
  7. Beberapa jenis unta yang dijuluki Bahirah, Sa’ibah, Washilah, dan Hami juga diperlakukan sedemikian rupa. Ibu Ishaq mengisahkan, “Bahirah ialah anak Sa’ibah, unta betina yang telah beranak 10 yang semuanya betina dan sama sekali tidak mempunyai anak jantan. Bahirah ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, dan susunya tidak boleh diminum kecuali oleh tamu. Sedangkan, Washilah adalah domba betina yang selalu melahirkan anak kembar betina selama lima kali secara berturut-turut, tidak diselingi kelahiran anak jantan sama sekali. Domba ini dijadikan sebagai perantara untuk peribadatan. Sementara itu, Hami adalah unta jantan yang sudah membuntingi 10 betina yang melahirkan 10 anak betina secara berturut-turut tanpa ada jantannya. Unta ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, harus dibiarkan lepas, dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan apa pun.

BACA JUGA: Mengenal Agama Bangsa Arab

Selain peribadatan-peribadatan tersebut, orang-orang Arab juga mengundi nasib dengan menggunakan anak panah yang tidak ada bulunya. Anak panah yang digunakan untuk mengundi nasib tersebut diberi tiga tanda: Anak panah pertama diberi tanda “Ya”, anak-anak kedua diberi tanda “Tidak”, dan anak panah ketiga tidak diberi tanda apa-apa. Mereka mengundi nasib untuk memastikan pelaksanaan suatu keinginan atau rencana, misalnya bepergian atau lain-lainnya, dengan menggunakan anak panah itu. Jika yang keluar panah bertanda “Ya”, mereka melaksanakan: dan jika yang keluar panah bertanda “Tidak”, mereka menangguhkannya hingga tahun depan dan berbuat hal berupa sekali lagi bila yang keluar adalah anak panah yang tidak diberi tanda, mereka mengulanginya lagi.

Selain tiga anak panah bertanda seperti itu, ada jenis lain lagi yang diberi tanda air dan tebusan. Ada juga anak panah bertanda “Dari golongan kalian”, atau “Bukan dari golongan kalian”, atau “Anak angkat”. Jika mereka memerkarakan nasab seseorang, mereka membawa orang itu ke hadapan Hubal sambil membawa 100 hewan korban dan diserahkan kepada pengundi anak panah. Jika yang keluar tanda “Dari golongan kalian”, maka orang tersebut merupakan golongan mereka; dan jika yang keluar tanda “Bukan dari golongan kalian” maka orang tersebut hanya sebagai rekan persekutuan; dan jika yang keluar tanda “Anak angkat”, maka orang tersebut tak ubahnya seperti anak angkat, bukan termasuk dari golongan mereka dan juga tidak bisa didudukkan sebagai rekan persekutuan. Perjudian dan undian pun tidak berbeda jauh dengan hal tersebut. Mereka membagi daging korban yang telah disembelih berdasarkan undian itu.

BACA JUGA: Mengenal Silsilah Awal Bangsa Arab

Mereka juga percaya kepada perkataan para peramal, orang pintar,dan ahli nujum. Peramal adalah orang yang mengabarkan sesuatu yang bakal terjadi di kemudian hari. Ia mengaku bisa mengetahui rahasia gaib pada masa mendatang. Di antara mereka ada yang mengaku bisa mengetahui berbagai masalah lewat isyarat atau sebab yang memberinya petunjuk, mulai dari perkataan, perbuatan, atau keadaan orang yang bertanya kepadanya. Orang semacam ini disebut paranormal atau orang pintar.

Selain peramal dan paranormal, ada ahli nujum, yaitu orang yang memperhatikan keadaan bintang dan planet, lalu dia menghitung perjalanan dari waktu peredarannya agar dengan begitu dia bisa mengetahui berbagai keadaan di dunia dan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Pembenaran terhadap pengabaran ahli nujum pada hakjkatnya merupakan keyakinan terhadap bintang-bintang, sedangkan keyakinan mereka terhadap bintang-bintang merupakan keyakinan terhadap hujan. Maka, mereka berkata, “Hujan yang turun kepada kami berdasarkan bintang ini dan itu”.

Di kalangan mereka juga ada tradisi thiyarah, yakni pesimis terhadap sesuatu. Pada mulanya mereka mendatangkan seekor burung atau biri-biri, lalu melepasnya. Jika burung atau biri-biri itu pergi ke arah kanan, mereka jadi bepergian ke tempat yang hendak dituju dan hal itu dianggap sebagai pertanda baik. Sebaliknya, jika burung atau biri-biri tersebut berjalan ke kiri, mereka mengurungkan niatnya untuk bepergian dan menganggapnya sebagai tanda kesialan. Mereka juga meramal di tengah perjalanan bila bertemu burung atau hewan tertentu.

Tidak berbeda jauh dengan hal tersebut adalah kebiasaan mereka menggantungkan ruas tulang kelinci. Mereka juga meramal kesialan dengan sebagian hari, bulan, hewan, atau wanita. Mereka percaya bahwa, bila ada orang mati terbunuh, jiwanya tidak tentram bila dendamnya tidak dibalaskan. Ruhnya bisa menjadi burung hantu yang berterbangan di padang pasir seraya berkata, “Berilah aku minum, berilah aku minum!” Jika dendamnya sudah dibalaskan maka ruhnya menjadi tentram.

BACA JUGA: Mengenal Silsilah Awal Bangsa Arab

Sekalipun masyarakat Arab sangat bodoh seperti itu, sisa-sisa agama Ibrahim tetap ada di kalangan mereka dan mereka sama sekali tidak meninggalkannya. Misalnya pengagungan terhadap Ka’bah, thawaf, haji, umrah, dan wukuf di Arafah dan Muzdalifah. Meskipun ada hal-hal baru dalam pelaksanaannya.[]

 

SUMBER: SIRAH RASULULLAH

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response