Asbabul Nuzul

Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 11

Foto: Unsplash
44views

Surah An-Nisa (4) ayat 11:

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja) maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu memiliki beberapa saudara maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

 Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah dan Abu Bakar datang menjengukku di kaum Bani Salmah dengan berjalan kaki. Mereka melihatku tidak sadarkan diri. Maka, beliau mengambil air dan kemudian berwudhu, kemudian ia memercikkan air tersebut kepadaku dan aku langsung sadarkan diri. Kemudian, aku berkata kepada Rasulullah, ‘Apakah yang engkau perintahkan kepadaku untuk aku lakukan dengan hartaku?’ Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua orang anak perempuan.’”

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah An-Nisa (4) ayat 4 dan 7

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim dari Jabir berkata, “Istri Sa’ad bin Rabi’ datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah dua orang anak wanita Sa’ad bin Rabi’. Ayah mereka mati syahid pada saat ikut Perang Uhud bersamamu dan sesungguhnya paman mereka mengambil seluruh harta peninggalan ayah mereka dan tidak menyisakan untuk anak wanita tersebut sedikit pun dari harta tersebut, dan mereka tidak dapat dinikahkan tanpa harta. Maka, Rasulullah bersabda, ‘Allah-lah akan memutuskan perkara ini.’ Maka, turunlah ayat tentang waris.

Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini menjadi pegangan bagi orang-orang yang berkata, ‘Ayat ini turun pada kisah dua orang anak wanita Sa’ad bin Rabi’ dan ayat ini tidak turun pada kisah Jabir bin Abdullah karena pada waktu tersebut Jabir belum mempunyai anak.'”

Kemudian Ibnu Hajar berkata, “Jawaban untuk pendapat di atas adalah bahwasanya ayat ini turun pada dua kisah tersebut sekaligus, dan ada kemungkinan turunnya ayat ini awalnya pada kedua orang anak wanita Sa’ad bin Rabi’, dan ayat terakhir, yaitu ‘Jika seorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja)‘, turun pada kisah Jabir bin Abdullah dan maksud Jabir bin Abdullah dalam perkataannya, ‘Maka turunlah firman Allah, ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan;’ yaitu menyebutkan al-kalalah (laki-laki yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak) sebagai sambungan dari ayat ini.

Dan, terdapat sebab turun ayat ini yang ketiga: diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari As-Suddi berkata, “Bahwa dahulu orang-orang pada zaman Jahiliyah enggan untuk memberikan harta warisan kepada anak-anak wanita dan juga anak laki-laki yang masih kecil dan tidak pula seseorang memberikan harta warisan kepada anak laki-lakinya, kecuali yang mampu berperang. Pada suatu hari, Abdurrahman meninggal dan ia meninggalkan seorang istri yang biasa dipanggil Ummu Kujjah beserta lima saudari perempuannya. Maka, datanglah para ahli waris mengambil hartanya. Ummu Kujjah pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk mengajukan perkara ini. Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua maka bagi mereka dua per tiga dari harta yang ditinggalkan; Dan firman Allah kepada Ummu Kujjah, ‘Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan.’”

BACA JUGA: Asbabun Nuzul Surah Ali-Imran (3) Ayat 195 dan 199

Pada kisah Sa’ad bin Rabi’ dari sisi yang lain. Diriwayatkan oleh Al-Qadhi Ismail dalam kitab Ahkam Al-Qur’an dari jalur Abdul Malik bin Muhammad bin Hazim bahwasanya Umrah binti Haram adalah istri Sa’ad bin Rabi’, lalu Saad terbunuh dalam Perang Uhud dan ia mempunyai seorang anak perempuan dari Umrah bin Haram. Maka, Umrah datang kepada Nabi ﷺ untuk menuntut harta warisan untuk anaknya tersebut. Maka, turunlah firman Allah, ‘dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan… ‘”[]

 

SUMBER: ASBABUN NUZUL

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response