Tafsir

Sepuluh Faedah Ayat 97-98 Surah Thaha (20)

Foto: Unsplash
49views

Allah berfirman dalam Surah Thaha ayat 97-98:

قَالَ فَاذْهَبْ فَاِنَّ لَكَ فِى الْحَيٰوةِ اَنْ تَقُوْلَ لَا مِسَاسَۖ وَاِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّنْ تُخْلَفَهٗۚ وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۗ لَنُحَرِّقَنَّهٗ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهٗ فِى الْيَمِّ نَسْفًا (97) اِنَّمَآ اِلٰهُكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (98)

Dia (Musa) berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah engkau menyentuh (aku)’; dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari! Dan lihatlah Tuhan yang engkau Tetap menyembahnya itu (patung sapi), saat itu cantik kami pasti akan membakarnya kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut! Sungguh Tuhan kalian hanyalah Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”

Maksudnya, selama sisa hidupnya, Samiri tidak akan bisa menyentuh orang lain dan orang lain pun tidak akan sudi menyentuhnya, dan dia akan menjadi orang yang terusir di mana pun hingga ia mati. Selain itu, siksa yang pedih pada Hari Kiamat tetaplah menantinya dan dia tidak akan lolos darinya.

Janji Nabi Musa untuk membakar habis sapi tersebut, kemudian menaburkan abunya di lautan, menjadi dasar argumentasi sebagian ahli tafsir bahwasanya sapi tersebut bukanlah patung belaka, melainkan benar-benar seekor sapi yang hidup yang bertulang dan berdaging karena emas tidak bisa dibakar sampai menjadi abu.

Namun pendapat yang kuat adalah bahwa sapi yang dimaksud adalah patung sapi emas. Hanya saja, patung tersebut bisa mengeluarkan suara. Karena, jika sapi itu memang hidup, lantas apa keajaiban di balik sapi hidup yang bersuara?! Justru patung sapi yang bersuara itulah yang membuat Bani Israil terfitnah dan akhirnya menyembahnya.

Lalu, bagaimana Musa menjadikan emas itu bagai abu? Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi Musa mengikirnya hingga menjadi debu di pinggir pantai sehingga debunya bertaburan di laut.

BACA JUGA: Ketika Nabi Musa Teramat Marah kepada Bani Israil

Beberapa faedah dari ayat-ayat ini di antaranya:

Pertama, Nabi Harun berjanggut dan demikianlah kebiasaan para nabi. Jadi, aneh sekali jika ada seorang Muslim yang mulutnya justru paling pintar mencela janggut dan mendiskreditkan mereka yang berjanggut. Bukankah Allah berfirman dalam Surah Al-An’am (6) ayat 90:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ 

Mereka itulah para nabi yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka Ikutilah petunjuk mereka

Perlu diketahui bahwa janggut yang dimaksudkan adalah janggut yang panjang, bukan janggut modis. Seandainya janggut Nabi Harun pendek maka tidak akan mungkin dia bisa digenggam oleh Nabi Musa. Bahkan, kaum Nasrani, tatkala melukiskan sosok Nabi Isa, mereka melukiskannya sebagai sosok yang berjanggut panjang. Jadi, bagi umat Muslim yang membenci janggut, petunjuk siapakah yang diikuti?

Kedua, para nabi bisa saja melakukan kesalahan. Akan tetapi, mereka selalu langsung ditegur oleh Allah dan tidak dibiarkan begitu saja.

Seperti sikap Nabi Musa yang memutuskan untuk mendahului kaumnya untuk pergi ke Bukit Tursina. Allah menegur Nabi Musa bahwasanya keputusan Nabi Musa tersebut adalah suatu kesalahan. Seorang pemimpin harusnya menyertai kaumnya dan selalu melihat keadaan kaumnya. Jika tidak demikian, bisa jadi kaum tersebut akan binasa atau mengalami perubahan yang tidak diinginkan seperti yang terjadi pada Bani Israil ketika itu.

Ketiga, buruknya akhlak Bani Israil.

Para ulama menjelaskan bahwa hal itu dikarenakan mereka sangat terpengaruh dengan akhlak Fir’aun dan suku Aqbath. Mereka hidup lama berdampingan bersama suku Aqbath, terlebih mereka juga lama diperbudak oleh suku Aqbath. Kesyirikan-kesyirikan yang mereka lihat dari Fir’aun dan suku Aqbath (seperti penyembahan terhadap berhala) menjadi suatu hal yang biasa bagi mereka. Bahkan, setelah menjadi pengikut Nabi Musa pun kebiasaan itu tidak hilang begitu saja dari mereka.

Keempat, Samiri bukan Dajjal.

BACA JUGA: Ketika Nabi Musa Berselisih Hebat dengan Nabi Harun

Kelima, Bahaya syubhat, terlebih jika ia telah memasuki hati seseorang.

Jikalau kita bicara jujur, apakah logis jika seseorang menyembah berhala sapi? Bagaimana mungkin seseorang menyembah sesuatu yang lebih hina daripada dirinya atau yang ia buat dengan kedua tangannya sendiri? Namun ternyata, hal tersebut tetap dilakukan oleh umat seperti Bani Israil yang notabene telah melihat dengan mata kepala mereka banyak mukjizat dan keajaiban dari Allah.

Inilah syubhat. Sungguh jika setan telah meletakkan jerat-jeratnya pada pemikiran dan hati seseorang maka sesuatu yang tidak masuk akal pun akan tampak masuk akal baginya.  Fakta ini juga seharusnya menjadi titik renungan bagi kita bahwa hidayah itu hanya di tangan Allah semata dan bahwa hidayah adalah nikmat terbesar dan yang paling utama untuk disyukuri. Karena nyatanya, yang terjerumus dalam jerat-jerat setan bukan hanya orang-orang tak berpendidikan, melainkan juga mereka yang bergelar mentereng, atau terkenal sebagai cendekiawan pun, banyak yang berkubang di dalamnya.

Keenam, Samiri dan para pengikutnya adalah orang-orang yang pertama kali melakukan peribadatan dengan berjoget-joget dan memukul-mukulkan gendang atau rebana.

Pada sebagian kisah Israiliyat disebutkan bahwa, sepulangnya Nabi Musa dari Bukit Tursina, beliau mendapati sebagian Bani Israil sedang menari-nari dan memukul-mukul rebana di sekitar berhala sapi. Demikianlah kebiasaan orang-orang jahiliyah yaitu beribadah dengan nyanyian, tarian, alat-alat musik, siulan, dan tepukan tangan.

Ketujuh, mengasingkan Ahlul Bid’ah dan para penyebar kesesatan adalah hal yang disyariatkan dalam agama semenjak dahulu. Ketika mengomentari ayat tentang diusirnya Samiri, Imam Al-Qurthubi berkata, “Ayat ini adalah landasan hukum atas syariat mengucilkan para pelaku bid’ah dan para pelaku maksiat agar mereka tidak dicampuri berbaur dengan manusia. Nabi ﷺ sendiri pernah melakukan hal ini pada Ka’ab bin Malik dan tiga orang lainnya yang mangkir dari Perang Tabuk tanpa alasan yang syar’i.”

BACA JUGA: Ketika Musa Bersegera untuk Menjumpai Allah

Kedelapan, ujian keimanan terkadang berupa hal yang menakjubkan atau di luar nalar manusia. Ketika Samiri melemparkan tanah atau pasir bekas pijakan kuda Jibril pada berhala sapi, seketika terdengarlah suara dari berhala tersebut. Ini adalah suatu keajaiban yang sengaja Allah kehendaki sebagai ujian bagi keimanan Bani Israil.

Allah juga pernah mengutus Harut dan Marut, dua malaikat yang sangat mahir dalam sihir, kepada penduduk negeri Babil. Allah juga mengizinkan iblis untuk tetap hidup sebagai ujian bagi manusia. Allah pun terkadang menampakkan keajaiban pada tangan para dukun atau penyihir. Yakinilah bahwa setiap dari kita akan diuji apakah ia benar-benar beriman kepada Allah ataukah tidak.

Kesembilan, Allah memiliki sifat bisa berbicara. Perhatikan firman Allah dalam Surah Thaha ayat 89:

اَفَلَا يَرَوْنَ اَلَّا يَرْجِعُ اِلَيْهِمْ قَوْلًا ەۙ وَّلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا

Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka dan tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?

Pada ayat ini, Allah menjadikan ketidakmampuan berhala sapi itu untuk berbicara sebagai bukti utama bahwa ia bukanlah Tuhan. Maka sebaliknya, pada ayat ini Allah menegaskan bahwa salah satu sifat utama Tuhan adalah bisa berbicara. Ahlussunnah Wal Jamaah meyakini bahwasanya Allah berbicara sesuai dengan keagungan-Nya. Adapun sebagian Ahlul Bid’ah, seperti Asyairah dan selain mereka, mengatakan bahwa Allah tidak bisa berbicara, atau berbicara namun tanpa suara, tanpa huruf, melainkan hanyalah bisikan jiwa semata.

Kesepuluh, sebisa mungkin janganlah menunda urusan akhirat sedikit pun. Nabi Musa bersegera pergi lebih awal ke Bukit Tursina untuk mendengar firman Allah dan menerima syariatnya serta kitab suci dari-Nya.

BACA JUGA: Ketika Allah Berbicara dengan Nabi Musa

Jangan sampai kita menunda melakukan suatu kebaikan, padahal kita mampu untuk menyegerakannya. Biasanya penundaan semacam ini akan berujung kepada kemalasan atau halangan yang benar-benar akan menghalangi kita dari melakukannya. Dan juga ingatlah bahwa hidayah dan waktu itu mahal. Jika saat itu Allah telah memberimu hidayah dan kesempatan untuk beramal saleh maka bersegeralah melakukannya. Siapa tahu beberapa saat kemudian hidayah itu dicabut darimu atau umurmu tak lagi cukup untuk melakukannya.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response