Uncategorized

Perintah Berdakwah dengan Kata-Kata yang Lembut

foto: Unsplash
45views

Suatu ketika, Harun Ar-Rasyid didatangi oleh seorang ahli zuhud yang tiba-tiba berkata kepadanya dengan nada tinggi, “Wahai Harun, bertakwalah kepada Allah!” Mendengar ucapan tersebut, Harun pun membawanya ke suatu ruangan untuk berbicara empat mata dengannya. “Wahai saudara, jawablah dengan jujur, apakah aku lebih buruk daripada Fir’aun?” Orang itu berkata, “Tentu Fir’aun yang lebih buruk.” Lalu, Harun berkata, “Baiklah. Apakah engkau lebih baik daripada Musa?” Orang zuhud itu pun menjawab, “Tentu Musa lebih baik.”

Harun pun berkata, “Tidakkah engkau tahu bahwasanya ketika mengutus Musa dan saudaranya untuk mendakwahi Fir’aun, Allah memerintahkan keduanya untuk berkata dengan lemah lembut kepada Fir’aun? Sungguh engkau telah menghunjamkan padaku perkataan yang sangat kasar. Ketahuilah bahwa sikapmu itu bukanlah adab (yang diajarkan) Allah dan bukan pula akhlaknya orang saleh.”

Orang zuhud itu pun lantas berkata, “Aku memang telah salah dan aku memohon ampun kepada Allah.” Harun pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu.” Lalu, Harun memerintahkan agar orang ini diberi hadiah sebanyak 20 ribu dirham, tetapi orang tersebut enggan mengambilnya.

BACA JUGA: Musa Minta Ditemani Saat Mendakwahi Fir’aun

Hukum asal dalam memberikan nasihat adalah berlemah lembut, baik di dalam sikap maupun perkataan. Memang terkadang diperlukan sikap yang tegas dalam berdakwah, tetapi ia memiliki momen-momen tertentu dan seharusnya bukanlah menjadi langkah awal dalam berdakwah. Sikap seorang da’i yang cenderung keras dan kasar, suka nyinyir dan menyindir, hobi menjatuhkan dan merendahkan, atau selalu mencaci dan memaki adalah faktor utama tertolaknya dakwah dan larinya manusia dari kebenaran. Allah berfirman dalam Surah Ali-Imran (3) ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Terkadang yang harus dilakukan oleh seorang da’i bukanlah mendikte para audiens-nya melainkan kembali menyadarkan mereka untuk kembali kepada jalan kebenaran yang dulu pernah mereka lalui, dengan penuh kelemahlembutan tentunya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata dengan lemah lembut (tidak dengan kasar). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surah Thaha (20) ayat 44:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut agar dia sadar dan takut.

Mengapa Nabi Musa diperintahkan untuk mendakwahi Fir’aun dengan lemah lembut? Di antara faedah yang disebutkan oleh para ulama adalah:

  1. Jika Nabi Musa berkata kasar khawatir Fir’aun yang sudah bengis akan bertambah bengis lagi sehingga berdampak sangat buruk kepada Nabi Musa dan umatnya;
  2. Apabila Fir’aun sudah tersinggung dan marah terlebih dahulu, maka kebenaran akan semakin sulit diterima olehnya. Dan juga, agar hujjah itu bisa tegak atas Fir’aun sehingga tiada lagi alasan dan uzur baginya pada Hari Kiamat kelak;
  3. Sebagai balas budi duniawi Fir’aun sebagai ayah angkat Musa dahulu.

BACA JUGA: Kisah Pertarungan Nabi Musa a.s. dan Para Penyihir Fir’aun

Para ulama menambahkan bahwa jika demikian sikap seorang anak kepada ayah angkatnya, maka bagaimana lagi seharusnya sikapnya kepada ayah kandungnya, terlebih kepada ibu kandungnya?![]

 

SUMBER: TAFSIR AT TAYSIR

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response