Kisah Al-Quran

Setiap Hamba Akan Menghadap Allah Sendiri-Sendiri

foto: Pixabay
118views

Allah berfirman dalam Surah Maryam (19) Ayat 92-95:

وَمَا يَنْۢبَغِيْ لِلرَّحْمٰنِ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا ۗ (92) اِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اِلَّآ اٰتِى الرَّحْمٰنِ عَبْدًا ۗ (93) لَقَدْ اَحْصٰىهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ۗ (94) وَكُلُّهُمْ اٰتِيْهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدًا (95)

Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (92) Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.(93) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (94) Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri. (95)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan mengapa memiliki anak adalah hal yang tidak layak bagi-Nya, yaitu karena semua yang ada di langit dan bumi akan datang kepada Allah pada Hari Kiamat sebagai seorang hamba. Hamba ada dua macam:

  1. Hamba yang beribadah dan taat kepada Allah. Status penghambaan mereka disebut dengan istilah ubudiyah ilahiyah. Mereka adalah hamba Allah yang khusus nan istimewa. Mereka inilah yang dimaksud oleh Allah dalam Surah Al-Furqan (25) ayat 63:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Seorang Hamba Harus Beristighfar

Allah juga berfirman dalam Surah Al-Hijr (15) Ayat 42:

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِيْنَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka,.kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.

  1. Hamba sebagai makhluk yang diciptakan dan yang tunduk di bawah kekuasaan Allah. Status penghambaan inilah yang dimaksud dalam ayat ini , yaitu bahwa setiap orang yang tidak beriman dan kafir kepada-Nya, baik ia berstatus musyrik atau ateis, mereka tetaplah ciptaan Allah, dan akan datang di Hari Kiamat kelak sebagai hamba yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Al-Furqan (25) Ayat 17:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَقُوْلُ ءَاَنْتُمْ اَضْلَلْتُمْ عِبَادِيْ هٰٓؤُلَاۤءِ اَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيْلَ ۗ

Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah Lalu Allah berkata (kepada yang disembah), “Apakah kalian yang menyesatkan hamba-hambaku itu atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan yang benar?”

Demikianlah dua makna status penghambaan yang Allah sebutkan dalam Al-Quran, terkadang yang dimaksud adalah hamba-hamba yang benar-benar beriman dan taat kepada-Nya, dan terkadang yang dimaksud adalah hamba-hamba yang mutlak, yakni segala ciptaan Allah secara umum.

BACA JUGA: Diterimanya Amal Bergantung Pada Keimanan Seseorang

Penyebutan nama ar-rahman dalam ayat ini juga menyiratkan sebuah alasan lainnya. Allah mengulangi nama ar-rahman sebanyak 16 kali dalam surah ini, seakan hendak menegaskan bahwa hanya Dia-lah ar-rahman itu. Jika Allah memiliki anak, berarti ada sesuatu selain-Nya yang juga bersifat ar-rahman. Selain itu, jika Allah memiliki anak maka yang sang anak tentunya akan berdiri sendiri dan tidak membutuhkan rahmat Allah dan ini bertentangan dengan status Allah sebagai ar-rahman.

Penyebutan nama ar-rahman juga seakan membantah Nasrani yang mengklaim bahwasanya untuk mendapat ampunan dari Allah haruslah melalui perantara Nabi Isa a.s. Seorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan dari Yang Maha Penyayang tidaklah perlu memohonnya melalui perantara apa pun melainkan mintalah langsung kepada-Nya.

Kemudian, pantaskah jika Yang Maha Penyayang tidaklah mengampuni dosa para hamba-Nya kecuali dengan terlebih dahulu mengirim anaknya untuk disalib?!

Orang tua saja tidak tega menolak permintaan maaf yang disampaikan langsung oleh anaknya kepadanya. Bukankah Allah lebih menyayangi kita melebihi ibu kita?! Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya menjadi renungan penting bagi kaum Nasrani terkait akidah yang selama ini mereka anut. Kemudian, Allah menyebutkan bahwa Ia telah menentukan dan menghitung jumlah seluruh makhluk-Nya dengan teliti nan akurat. Ini adalah bukti berikutnya dari keagungan dan ketuhanan Allah.

BACA JUGA: Kisah Nabi Ibrahim Menasihati Ayahnya

Berdasarkan ayat ini, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa Allah Al-Muhshi, yang artinya Maha Mengilmui dan Menguasai Segala sesatu, adalah salah satu dari nama Allah. Kemudian, Allah menegaskan bahwa setiap makhluk akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri. Ini adalah peringatan bagi kaum musyrikin, jangan sampai mereka menyangka bahwa sesembahan mereka selain Allah kelak akan membantu mereka, baik ia malaikat, para nabi, para wali, terlebih lagi benda-benda mati. Sungguh, mereka tidak akan menolong dan memedulikan kalian karena setiap makhluk akan datang sendirian dan masing-masing akan tersibukan dengan keselamatan dirinya.[]

 

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp Group : https://chat.whatsapp.com/G5ssUWfsWPCKrqu4CbNfKE
Instagram: https://instagram.com/pusatstudiquran?igshid=NTc4MTIwNjQ2YQ==
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61550224142533&mibextid=ZbWKwL

Leave a Response